[Nafsiyah] Menyambut Ramadan

[Nafsiyah] Menyambut Ramadan

Penulis: Ustaz Utsman Zahid as-Sidany

Muslimah News, NAFSIYAH — Hampir setiap muslim mengetahui keutamaan Ramadan. Sebagai pengingat dan penyemangat untuk menyambut Ramadan, saya kemukakan sembilan poin penting keutamaan Ramadan.

Pertama, bulan turunnya Al-Qur’an (QS Al-Baqarah [2]: 185; Ad-Dukhan [44]: 3; Al-Qadar [97]: 1).

Kedua, bulan tarawih dan tahajud. Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيماَ وَاحْتِسَاً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang menegakkan salat pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibn Majah).

Ketiga, bulan pengampunan dosa. Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاً وَاحْتِسَاً غُفِرَ لَه مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Keempat, bulan pembabasan dari neraka. Nabi saw. bersabda,

وَيُنَادِي مُنَادٍ يا باغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وياباغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلله عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

“Seorang penyeru berseru, ‘Wahai pengejar kebaikan, menghadaplah! Wahai pengejar keburukan, berhentilah!’ Bagi Allah banyak orang-orang yang dimerdekakan dari neraka. Hal itu terjadi setiap malam.” (HR At-Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Khuzaimah).

Kelima: Bulan kedermawanan dan kebaikan kepada sesama. Nabi saw. bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ

“Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan saat berjumpa dengan Jibril. Beliau berjumpa dengan Jibril pada setiap malam pada Bulan Ramadan.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan An-Nasa’i).

Keenam: Bulan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Rasulullah saw. bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika Ramadan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan An-Nasa’i).

Ketujuh, bulan pengabulan doa. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah Swt. dalam QS Al-Baqarah di sela-sela menjelaskan tentang hukum-hukum puasa (Lihat: QS Al-Baqarah [2]: 186).

Kedelapan, bulan dilipatgandakan pahala. Rasulullah saw. bersabda,

عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ ، تَعْدِلُ حَجَّة

“Umrah pada bulan Ramadan setara dengan satu kali haji.”(HR Ibn Majah dan At-Tirmidzi).

Kesembilan: Bulan yang di dalamnya terdapat lailatulqadar. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ، وَفِيهِ لَيْلَة خَيْر مِنْ أَلْفِ شَهْر، مَنْ حُرِمَهَا، فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَلا يُحْرَم خَيْرَهَا إِلاَّ مَحْرُوم

“Sungguh bulan ini (Ramadan) telah hadir di tengah-tengah kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi dari malam itu, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan secara keseluruhan. Tidaklah terhalangi dari kebaikannya kecuali seorang yang rugi.” (HR Ibn Majah).

Persiapan Menyambut Ramadan

Agar “tamu agung” tersebut sudi singgah di rumah-rumah kita, kita wajib mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya. Untuk itu beberapa hal berikut wajib kita lakukan.

Pertama, bertobat kepada Allah Swt.. Pasalnya, semua yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita—musibah, bencana, wabah, kurangnya keberkahan waktu kita, sempitnya kehidupan kita, dan hilangnya keberkahan hidup—tentu tidak dapat dilepaskan dari dosa-dosa kita.

Kedua, bersyukur kepada Allah Swt. karena kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Ramadan. Betapa banyak saudara-saudara kita yang sudah dipanggil oleh Allah Swt..

Ketiga, berbekal ilmu tentang fikih puasa, hukum-hukum, dan adab-adabnya. Termasuk beberapa ibadah yang berkaitan dengan Ramadan seperti umrah, zakat fitrah, dan yang lain. Tanpa ilmu, sangat dikhawatirkan amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah. Oleh sebab itu, mencari ilmu menjadi kewajiban setiap muslim.

Keempat, membulatkan niat dan memiliki himmah ‘aliyah (cita-cita tinggi) untuk berusaha memperbaiki perkataan dan perbuatan. Bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Menghidupkan bulan Ramadan dengan amal saleh dan berpuasa dengan sebenar-benarnya.

Amalan Utama Ramadan

Tentu sangat rugi jika kaum muslim tidak menggunakan kesempatan ini untuk beramal kebaikan di dalamnya. Tampak bahwa amal-amal pilihan pada bulan Ramadan di antaranya adalah: puasa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, salat malam, umrah, menghidupkan Lailatulqadar, banyak berdoa, dan banyak berzikir.

Dari amalan-amalan ini, puasa merupakan amal yang tidak dapat ditawar. Kewajiban ini harus dilaksanakan dan menjadi kewajiban paling istimewa untuk bulan ini. Bahkan puasa Ramadan dapat menghapus dosa selama satu tahun sebelumnya. Luar biasa.

Al-Qur’an dan Ramadan

Sebagaimana yang kita ketahui, ada empat bulan yang mulia (bulan haram) seperti disampaikan dalam firman Allah (QS At-Taubah [9]: 36) dan dijelaskan oleh Nabi saw. di dalam sabdanya (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan yang lain). Di dalamnya beliau menyebut Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Ramadan tidak termasuk ke dalamnya. Lantas di mana posisi Ramadan?

Jawabannya, Ramadan dimuliakan oleh Allah karena Al-Qur’an. Ramadan mendapat keistimewaan sedemikian rupa dari Allah Swt. karena Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman,

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ

“Ramadan, yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas dari petunjuk (tersebut) dan pembeda (antara hak dan batil). Siapa saja dari kalian menjumpai bulan ini, hendaklah dia berpuasa pada (hari-hari)-nya.” (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Firman Allah “yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” jelas menunjukkan bahwa Ramadan menjadi begitu istimewa karena Al-Qur’an. Bulan ini pun identik dengan bulan Al-Qur’an.

Oleh sebab itu, salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah ibadah yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, memahami, dan merenungkan Al-Qur’an. Tentu di atas semua ini adalah mengamalkan Al-Qur’an. Karena itu pula, hal yang paling tercela di bulan ini adalah meninggalkan Al-Qur’an (hajr Al-Qur’an); baik dengan tidak membaca dan mempelajari Al-Qur’an, apalagi tidak mengamalkan Al-Qur’an.

Di negeri ini, atas izin dan karunia Allah, banyak penghafal dan pengkaji Al-Qur’an. Sebagian masyarakat cukup antusias untuk mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi mereka.

Namun, sebagai sebuah umat, negeri ini masih jauh dari kata ‘mengamalkan Al-Qur’an’. Yang ada justru Al-Qur’an dimusuhi. Tentu bukan memusuhi fisiknya, tetapi hukum-hukumnya.

Dituduh intoleran, sumber terorisme, radikal, ekstrem, bar-bar, dan pemecah belah. Pada saat yang sama, hukum-hukum tagut ditegakkan dan dihargamatikan. Padahal jelas tindakan tersebut merupakan kejahatan dan dosa besar, bahkan kekufuran yang nyata dan menantang Allah, Pencipta alam semesta!

Oleh karena itu, berjuang menegakkan kembali hukum-hukum Al-Qur’an merupakan amalan yang paling utama pada bulan Ramadan. Tidak mungkin menegakkan hukum-hukum Al-Qur’an secara kafah kecuali dengan menegakkan institusi negara penerapnya, yaitu Khilafah Islamiah. Dengan demikian, berjuang menegakkan Khilafah pada bulan Ramadan ini pun menempati posisi yang sangat sentral dan urgen.

Akhir Ramadan yang Sia-Sia

Tentu kita sangat berharap pada bulan Ramadan ini kita benar-benar mendapat keutamaannya, yaitu mendapat ampunan dari Allah atas dosa-dosa kita selama satu tahun lalu. Pada saat yang sama, kita sangat khawatir jika Ramadan kita akan sia-sia belaka. Nabi saw. bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

“Banyak orang berpuasa, tetapi tidak ada dia dapatkan kecuali lapar. Banyak orang salat malam, namun tidak ada yang dia dapat kecuali begadang.” (HR Ibn Majah, Ahmad, dan Ibn Khuzaimah)

Nabi saw. pun bersabda,

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيه رَمَضَانُ فَانْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ له

“Betapa merugi seseorang yang berjumpa dengan bulan Ramadan, kemudian Ramadan itu berlalu sebelum dia diampuni.”(HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Karena itu, renungkanlah sabda Nabi saw. berikut,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَة وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

“Salat lima waktu, salat Jumat hingga salat Jumat berikutnya, dan Ramadan hingga Ramadan berikutnya dapat menghapus dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya jika dosa-dosa besar ditinggalkan.”(HR Muslim dan Ahmad).

Di dalam hadis ini, jelas Nabi saw. mempersyaratkan bagi siapa yang menginginkan kebaikan Ramadan dengan meninggalkan dosa-dosa besar! Artinya, siapa yang masih melakukan dosa besar, meski dia puasa Ramadan, hal itu tidak akan berujung pada pengampunan dosa-dosanya. Na’udzu bilLah min dzalik.

Padahal, karena hukum Islam dimusuhi dan digantikan dengan hukum-hukum kufur, dosa-dosa besar menjadi sangat lumrah dilakukan oleh kebanyakan masyarakat; zina, minum khamar. Yang paling banyak serta nyaris tidak disadari adalah riba, karena sistem kufur ini memang telah menjadikan riba sebagai basis ekonominya. Bahkan berhukum dengan hukum selain Islam merupakan induk segala dosa besar yang terjadi di negeri ini. WalLah al-Musta’an.

Rasulullah saw. juga bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ به فَلَيْسَ لله حَاجَة فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan yang melenceng dari kebenaran dan malah mengamalkannya, Allah tidak membutuhkan puasanya.” (HR Ahmad, al-Bukhari, Abu Dawud, Ibn Majah dan Tirmidzi).

Kata “qawl”, yang sering diterjemahkan “perkataan”, sebenarnya di dalam Bahasa Arab bermakna “keyakinan”, sebelum menjadi ucapan. Sebab, menurut aslinya, ucapan bersumber dari keyakinan. Lalu kata “az-zur” bermakna segala sesuatu yang melenceng dari hak (kebenaran).

Dari sini, hadis di atas dapat kita artikan bahwa Allah tidak sudi menerima puasa kita jika kita masih berkeyakinan dan mengamalkan apa yang melenceng dari kebenaran. Dusta adalah bagian dari az-zur. Demikian pula kesaksian yang batil.

Demokrasi yang menyatakan bahwa manusia memilik hak menetapkan hukum adalah az-zur tingkat tinggi. Sekularisme yang menyatakan kehidupan tidak harus atau tidak boleh diatur dengan Islam adalah az-zur yang nyata. Artinya, sistem kapitalisme, demokrasi sekular adalah az-zur yang nyata.

Karena itu, jika kita masih berpegang pada sekularisme, demokrasi, kapitalisme, dan derivasinya, saat itu pula puasa kita terancam akan sia-sia belaka. Masihkah kita menghargamatikan sistem batil ini dan merelakan puasa kita tanpa makna?

Kesimpulan

Kita tentu sangat membutuhkan rahmat dan ampunan Allah Swt.. Allah Swt. pun membuka seluas-luasnya pintu rahmat dan ampunan itu pada bulan Ramadan. Namun, di hadapan kita ada sejumlah penghalang yang akan menghalangi kita masuk ke pintu tersebut. Penghalang terbesar itu adalah sekularisme, kapitalisme, demokrasi, dan sistem turunannya.

Oleh sebab itu, kita wajib meninggalkan semua itu agar kita dapat masuk ke pintu rahmat dan ampunan Allah Swt. pada bulan yang penuh dengan berkah ini. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua. Amin. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]

Share

One thought on “[Nafsiyah] Menyambut Ramadan”

  1. Assalamu’alaikum kak. Izin sedikit memberikan masukkan. Mohon dicek kembali untuk ‘poin penting’ kedua dan ketiga dibagian hadistnya. Ada kesalahan dalam penulisannya. Dan kalau bisa, ketika mencantukan hadis dibantu untuk dicantumkan juga nomornya. Mohon dibantu untuk dibetulkan.
    Jazaakallahu khairan katsiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *