Penulis: Ahmad Mahmud
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Adapun pendapat yang mengatakan bahwa setiap perkara yang disebutkan oleh sirah para Nabi dan petunjuk mereka, tidak lain untuk diteladan dan diikuti, maka pendapat ini memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Seluruh nabi-nabi memiliki kesamaan di dalam perkara akidah. Mereka mengajak untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa, Maha Pencipta, dan Maha Pengatur. Mereka juga mengajak untuk beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Allah Swt. berfirman,
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku oleh kamu sekalian.'” (QS Al-Anbiya: 25)
Para Nabi memiliki kesamaan dalam hal kewajiban untuktablig (menyampaikan wahyu), menanggung risiko dan kesulitan-kesulitannya, bersabar melaksanakan perintah Allah, dan berkorban di dalam melaksanakan perintah Allah.
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰىهُمْ نَصْرُنَا ۚوَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۚوَلَقَدْ جَاۤءَكَ مِنْ نَّبَإِ۟ى الْمُرْسَلِيْنَ
“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (TQS AI-An’am: 34)
Para Nabi juga memiliki kesamaan di dalam hal menyeru kaumnya agar bersikap konsisten dan taat. Allah Swt. berfirman,
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ اللّٰهِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.” (QS An-Nisa: 64)
Mereka pun memiliki kesamaan, yaitu didustakan oleh kaum mereka dan dakwah mereka diolok-olok. Allah Swt. berfirman,
يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ
“Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-oloknya.” (QS Yasin: 30)
Allah Swt. juga berfirman,
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِّنْ اَرْضِنَآ اَوْ لَتَعُوْدُنَّ فِيْ مِلَّتِنَاۗ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظّٰلِمِيْنَ
وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗذٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِيْ وَخَافَ وَعِيْدِ
“Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka, ‘Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.’ Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka, ‘Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka, yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan takut kepada ancaman-Ku.’” (QS Ibrahim: 13—14)
Mereka juga memiliki kesamaan di dalam hal pertolongan Allah yang selalu datang di bagian akhir. Allah Swt. berfirman,
حَتّٰٓى اِذَا اسْتَيْـَٔسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوْا جَاۤءَهُمْ نَصْرُنَاۙ فَنُجِّيَ مَنْ نَّشَاۤءُ ۗوَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ
“Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan Iagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, Ialu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami pada orang-orang yang berdosa.” (QS Yusuf: 110)
Demikianlah dakwah para Nabi itu seluruhnya memiliki kesamaan dalam banyak aspek yang telah kami sebutkan sebagiannya. Dan bagi orang-orang yang terdahulu terdapat kondisi-kondisi yang perlu untuk diingat. Allah Swt. telah menyebutkannya untuk kita agar kita bisa mengambil pelajaran, mengambil ibrah, memperoleh nasihat dan petunjuk untuk menetapkan iman, memperkuatazam (niat), dan menambah kesabaran.
Selain itu juga untuk memastikan bahwa untaian dakwah itu satu simpul dalam aspek akidahnya, dan aspek dakwahnya konsisten dengan metode dari Zat Yang Maha Mengetahui, termasuk dari segi risikonya. Ayat-ayat itu datang untuk menerangi setiap muslim tentang sifat-sifat dakwah dan tabiat manusia dalam menghadapinya.
Hal itu juga sama dengan menyodorkan kepada musuh agar memilih antara kufur atau iman. Bahwa pertarungan di antara keduanya tidak akan pernah berhenti. Juga agar loyalitas kita hanya ditujukan kepada Allah, terbebas dari syirik, dan adanya campur tangan Rabb setelah kita memilih keimanan dan menguji niat kita.
Sirah para Nabi dijadikan suri teladan dari segi sikap-sikapnya, bukan dari aspek syariat yang mereka bawa. Ini karena Allah Swt. telah memberikan kepada setiap Nabi itu aturan-aturan yang berbeda. Allah berfirman, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan syir’ah (aturan) dan manhaj (jalan) yang terang.” (QS AI-Maidah: 48)
Setiap Nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan Rasulullah saw. diutus kepada seluruh umat manusia. Risalah beliau adalah risalah penutup. Allah telah memerintahkan seluruh pemeluk agama-agama lain untuk mengikuti risalah ini dan meninggalkan syariat mereka. Allah Swt. berfirman,
“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran: 85)
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai batu ujian terhadap kitab-kitab yang Iain itu.” (QS Al-Maidah: 48)
Tabiat risalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. berbeda dengan tabiat risalah lainnya dari segi keadaannya sebagai risalah penutup yang sempurna. Dan eksistensi Daulah Islamiah merupakan aspek penting dari risalah ini.
Daulah Islamiah dianggap sebagai metode yang syar’i untuk memelihara Islam, menerapkan, dan menyebarkannya. Sedangkan kita telah menemukan pada para Nabi terdahulu kekhususan di dalam dakwah. Mereka diutus kepada kaumnya, bukan kaum yang lain. Ini berarti bahwa risalah itu terbatas hanya untuk waktu dan tempat tertentu.
Berbeda dengan Islam, yang hukum- hukumnya bersifat tetap dan Iayak untuk setiap waktu dan tempat. Oleh karena itu, risalah Islam tidak boleh dianalogkan dengan yang lainnya. Kaum muslim harus mengambil dari syariat Islam saja, bukan dari syariat lainnya. Hukum-hukum syariat Islam saling berkaitan satu sama lain dengan ikatan yang sesuai dengan tabiat risalah itu. Dan hendaklah kita mengambil sebagai contoh (bukan membatasi) risalah Nabi Isa as..
Risalah Nabi Isa sangat berbeda dengan risalah Nabi Muhammad saw.. Begitu pula dengan risalah Nabi Musa. Baik risalah Nabi Isa, maupun Nabi Musa as. berkaitan dengan akhlak dan peribadatan. Tidak ada di dalamnya dakwah untuk mendirikan negara. Risalah itu khusus untuk Bani Israil.
Jadi, bagaimana mungkin bisa disamakan hukum-hukum syarak di antara keduanya? Sungguh kami sangat menyayangkan jika salah seorang dari kita membahas perkara-perkara agama yang sudah jelas di berbagai kesempatan. Itu menunjukkan sampai derajat mana kemunduran para dai sekarang ini. Tidak ada yang bisa kami katakan dalam perkara ini kecuali apa yang dikatakan Al-Qur’an kepada Sayidina Muhammad saw.,
“Katakanlah, inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (TQS Yusuf: 108). [MNews/Rgl]
Sumber: Ahmad Mahmud, Dakwah Islam
