[Dunia Remaja] Akidah Terkikis Jelang Akhir Tahun? Hati-Hati ya, Sobat!

[Dunia Remaja] Akidah Terkikis Jelang Akhir Tahun? Hati-Hati ya, Sobat!

Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA – Akhir tahun memang tidak pernah luput dari kemeriahan. Maklum, selain liburan sekolah tiba, penghujung tahun juga diwarnai perayaan natal dan tahun baru.

Jauh-jauh hari, diskusi mengenai boleh tidaknya terlibat dalam perayaan hari raya nonmuslim sudah mencuat. Bahkan, kesannya getol bin ngotot.

Maklum saja, proyek moderasi beragama lagi panas-panasnya, Sobat. Apalagi isu intoleransi dan radikalisme turut jadi pembahasan saat mendiskusikan masalah moderasi beragama.

Sejumlah pihak juga sudah mulai bermunculan menyuarakan toleransi antarumat beragama. Berbekal logika dan kharisma dalam bertutur, selebritas juga muncul angkat suara.

Dalam sebuah acara, Cinta Laura berapi-api menjelaskan mengenai moderasi beragama. “Tidak ada agama yang lebih benar dari agama lainnya,” begitu inti pernyataannya. Warganet terpukau. Kolom komentar penuh dengan decak kagum.

Ada yang bilang cerdas, tidak sedikit pula yang memuji seraya menambahkan komentar mengenai pentingnya para generasi mencontoh sikap toleransi yang Cinta sampaikan.

Terlepas dari sosok yang menyampaikan pernyataan, seharusnya umat Islam merujuk pada syariat. Bukan terbawa arus opini, apalagi silau pada sosok masyhur yang menyampaikan pendapat. Nah, sebagai umat Islam, bagaimana, sih, seharusnya menyikapi masalah ini?

Kudu Kritis

Sobat muslimah, seiring makin ramainya pembahasan mengenai pentingnya menjadi sosok moderat, pada akhirnya kian banyak pula yang sesumbar tentang pentingnya untuk tidak fanatik dengan agama sendiri. Katanya, nih, fanatik akan membuat seseorang menjadi sosok yang intoleran. Mereka yang fanatik tidak bisa menerima perbedaan ajaran dengan agama lainnya.

Padahal, jika fanatik bermakna keyakinan yang kuat, siapa pun akan menyimpulkan bahwa tidak ada masalah jika seseorang fanatik. Betul, tidak? Mengeklaim bahwa meyakini satu ajaran akan membuat kita menafikan keyakinan lain hanyalah asumsi prematur dan tidak berdasar. Dalam konteks ajaran Islam, meyakini syariat Allah adalah kewajiban.

Di sisi lain, syariat Islam pun mengatur bagaimana menyikapi perbedaan, bahkan perbedaan akidah. Tidak masalah jika kita mempunyai teman beragama Nasrani. Akan tetapi, dalam konteks akidah, seorang muslim wajib memiliki batasan.

Setiap agama memiliki ajarannya sendiri. Nasrani meyakini adanya hari kelahiran Tuhan mereka, sedangkan dalam Islam, Isa al-Masih adalah seorang Nabi yang Allah utus kepada manusia.

Perbedaan konsep ketuhanan ini membuat seorang muslim wajib bersikap tegas. So, meski pendapat itu dikeluarkan oleh seorang selebritas milenial, remaja muslim harus tetap kritis. Benar tidaknya suatu pernyataan, standarnya haruslah syariat Islam kafah.

Lantas, bagaimana sih syariat mengarahkan sikap seorang muslim dalam perayaan hari besar kaum Nasrani, khususnya natal dan tahun baru?

Timbangan Syariat

Sobat muslimah, standar perbuatan seorang muslim adalah syariat. Suka dan tidak sukanya seorang muslim wajib merujuk pada hukum Allah semata, bukan yang lain.

Terkait perayaan natal dan tahun baru, setidaknya ada dua dalil keharamannya. Pertama, dalil umum yang mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir. Kedua, dalil khusus yang lebih spesifik terkait haramnya umat Islam merayakan hari raya kaum kafir.

Tasyabbuh bi al kuffar alias perilaku meniru perbuatan orang-orang kafir terlarang dalam syariat Islam. Khususnya perbuatan yang menjadi ciri khas mereka, yakni perbuatan-perbuatan yang terkait dengan ajaran agama mereka atau pandangan hidup yang menjadi ciri khas kekafiran mereka. Pembahasan ini masuk dalam perkara akidah.

Dalam sebuah hadis Nabi saw. dalam kitab Fathul Bari juz ke-10 halaman 271, beliau bersabda yang artinya, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad, Abu Dawud)

Alasan yang kedua terkait dalil khusus yang mengharamkan yaitu sebuah hadis dari Anas bin Malik, Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Dahulu kalian punya dua hari raya untuk bermain-main atau bersenang-senang pada dua hari itu. Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik yaitu Idulfitri dan Iduladha.” (HR Imam Abu Dawud, No. 1134)

Bersikap Tegas

Lantas, bagaimana kalau kita merujuk ke syariat, sedangkan masyarakat menyematkan stempel intoleran pada siapa saja yang merujuk ke syariat? Nah, di sinilah letak pentingnya memahami syariat dan dakwah pemikiran.

Hal-hal yang terdapat dalam syariat adalah penjelasan mengenai status hukum suatu perbuatan. Pembahasannya adalah hukum perbuatan, tidak nyambung jika menghubungkannya dengan sikap intoleran. Islam memiliki penjelasan tersendiri mengenai toleransi antarumat beragama.

Di sisi lain, umat perlu menyadari adanya perang pemikiran yang masif dari musuh-musuh Islam melalui perang pemikiran dan perang istilah. Perang ini telah mengikis dan mendangkalkan akidah generasi muslim.

Benar bahwa arus moderasi dengan kampanye toleransi yang kebablasan itu telah membuat insecure sebagian besar umat Islam hari ini. Namun, bagi generasi muslim yang benar-benar meyakini syariat Islam sebagai satu-satunya ajaran yang sahih di sisi Allah, tidak boleh insecure apalagi pesimis.

Umat yang tengah digempur dengan perang pemikiran ini butuh generasi muda muslim yang mampu mengungkap semua makar kaum kafir yang tidak menginginkan Islam dan generasinya bangkit. Selain terlibat dalam upaya membersihkan pemahaman umat, generasi muda juga kudu tampil dalam perjuangan mengembalikan penerapan syariat dalam institusi negara. Sebab, selama institusi ini tidak tegak, selamanya pula umat akan terus mendapatkan gempuran pemikiran hingga akidah mereka lepas. Parah banget, kan?

So, ambil peran kalian, Sobat. Tidak perlu insecure apalagi khawatir menyampaikan amar makruf nahi mungkar. Sebab, diam atas pendangkalan akidah berlabel moderasi beragama tidak akan menghasilkan sesuatu selain terkikisnya syariat Islam kafah dari umat Islam. Yuk, dakwah bareng! [MNews/Rgl]

Foto sampul: Merdeka

Share

One thought on “[Dunia Remaja] Akidah Terkikis Jelang Akhir Tahun? Hati-Hati ya, Sobat!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *