Remaja dalam Dekapan Liberalisme

Remaja dalam Dekapan Liberalisme

Penulis: Chusnatul Jannah

Muslimah News, RISALAH KEPEMUDAAN — Yang muda yang didamba, harapan ada di tangan mereka. Kalimat itu tampaknya sulit mewujud tatkala generasi muda masih terjebak dengan prinsip dan gaya hidup liberal. Paham liberalisme telah mendekap para pemuda, khususnya pelajar. Walhasil, kondisi pemuda hari ini tidak ubahnya masa jahiliah, yaitu dekadensi moral yang bisa membinasakan eksistensi mereka sebagai penerus bangsa.

Seks bebas dan aborsi adalah contoh efek buruk liberalisme dalam kehidupan. Berdasarkan data BKKBN 2020, terdapat 17,5% angka kehamilan tidak diinginkan (KTD) di Indonesia. Di Provinsi DKI Jakarta saja, persentase umur kehamilan pertama di bawah usia 20 tahun pada 2020 tercatat 29,32%. Angka ini meningkat dibandingkan 2019, yakni 29,13%. Dari jumlah penduduk remaja (usia 14—19 tahun), terdapat 19,6% kasus KTD dan sekitar 20% kasus aborsi di Indonesia dilakukan oleh remaja. Ini baru data satu provinsi. Kasus KTD hingga aborsi ibarat fenomena gunung es. Yang tidak terungkap bisa jadi lebih banyak ketimbang data yang dipublikasikan.

Inilah harga yang harus kita bayar akibat penerapan liberalisme di kalangan pemuda. Hidup mereka terombang-ambing oleh gempuran budaya dan gaya hidup serba bebas. Mereka jadi generasi miskin visi-misi hidup. Kehidupan mereka penuh dengan kesenangan materi dan kepuasan nafsu semata. Bahkan, tidak jarang mereka memilih hidup tanpa agama karena menganggap agama mengekang kebebasannya.

Parahnya, kerusakan akibat liberalisme in  justru dijawab dengan solusi yang memperlebar rusaknya moral generasi. Misalnya, dokumen ICPD yang merumuskan 12 hak reproduksi pada remaja, yakni (1) hak hidup; (2) hak atas kemerdekaan dan keamanan; (3) hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi; (4) hak atas kerahasiaan pribadi; (5) hak atas kebebasan berpikir; (6) hak mendapatkan informasi dan pendidikan; (7) hak untuk menikah atau tidak menikah, serta membentuk dan merencanakan keluarga; (8) hak untuk memutuskan mempunyai anak atau tidak dan kapan mempunyai anak; (9) hak atas pelayanan dan perlindungan kesehatan; (10) hak untuk mendapatkan manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan; (11) hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik; dan (12) hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk.

Seolah-olah menyolusi, tetapi hal itu justru menyimpan bahaya besar bagi pelajar. Jika merujuk ICPD tadi, para pelajar diberi kebebasan memilih dan menentukan sendiri kehidupan seksual dan reproduksinya.

Jelas, solusi tersebut sarat dengan nilai liberal. Apalagi jika terintegrasi dengan kampanye ABC (abstinence, be faithful, condom). Abstinence, semisal boleh berpacaran asal bisa menahan nafsu. Be faithful, maknanya setia pada pasangan, tidak ada penjelasan pasangan halal atau haram. Condom, bermakna kampanye penggunaan kondom. Ini sama saja mendorong pelegalan seks bebas, seakan-akan remaja boleh seks bebas asalkan aman dari penyakit menular semisal HIV/AIDS.

Padahal, masa depan umat ini ada di tangan para pemuda. Oleh karenanya, menyelamatkan mereka dari liberalisme dan mengembalikan identitas keislaman mereka adalah tugas kita bersama. Jangan lengah! [MNews/Gz]

Share

4 thoughts on “Remaja dalam Dekapan Liberalisme”

  1. Selamat kan generasi muda dengan faham Islam, pastikan para orang tua mau melibatkan diri dalam setiap agenda dakwah agar punya bekal untuk dibagikan kepada lingkungan terdekat paling tidak kepada anggota keluarga dan teman dekat, agar bisa keluar dari cengkraman pemikiran jahiliah.

  2. Mengsedih…, bertubi tubi masalah demi masalah tiada usai…blm ada solusi tingginya angka perselingkuhan, perceraian, …persoalan generasi pun tak kalah hancurnya dg institusi keluarga…jk dianalog dg anjloknya nilai mapel di suatu kelas, katanya jk hny 1-2 siswa yg nilainya jelek berarti masalah ada di anaknya, nmn jk yg nilainya jelek hampir semua siswa bhkn yg pny kepandaian pun jg maka yg butuh dievaluasi adalah guru mapel tsb.
    Naah, ini masalah kehidupannya multidimensi…berarti yg harus dievaluasi adalah sistem hidupnya yg memberikan aturan hidup…aturan hidup sekuler kapitalis, aturan buatan manusia.. bs dipastikan akan menghasilkan kegagalan2 menyelesaikan problem hidup manusia.

  3. Liberalisme hanya membuat para pemuda terperosok pada derajat terendah, padahal Allah menciptakan manusia sebaik-baik bentuk. Sadarlah.. Segera bangkit dengan Islam kaffah, agar mampu mengembalikan kehidupan Islam dan diterapkan secara menyeluruh oleh Negara Khilafah Islamiyyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *