Penulis: Juan Martin
Muslimah News, REMAJA — Pada tahu enggak kalau setiap Maret, ada satu hari yang diperingati sebagai hari perempuan internasional (International Women’s Day)? Tahu enggak? Enggak tahu? Ya, ceritanya sih hari itu dijadikan momen ketika kaum perempuan sedunia bersatu untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Terdengar heroik, bukan?
Perjuangan ini kerap dipelopori oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai pejuang emansipasi atau biasa juga disebut feminis. Memangnya emansipasi itu apa, sih? Jadi begini, emansipasi itu gerakan perjuangan kaum perempuan yang bertujuan agar kaum hawa mendapatkan persamaan hak sebagaimana yang diperoleh para lelaki. Jadi, tepat jika dikatakan bahwa emansipasi erat kaitannya dengan perjuangan kaum perempuan.
Katanya nih, ya, usaha menuntut hak ini dilakukan karena adanya ketimpangan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan akibat pengaruh budaya patriarki yang dianut sebagian besar masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia.
What? Apa pula budaya patriarki itu? Istilahnya lumayan bikin mumet, ya.
Sobat remaja, budaya patriarki itu adalah budaya yang menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki, khususnya dalam masalah hak. Menurut pegiat gender, dalam beberapa kondisi, perempuan menjadi pihak yang tertindas. Jadi masyarakat kelas dua, gitu lo. Inilah yang mendasari perempuan di berbagai belahan dunia gencar mengampanyekan gerakan emansipasi.
Namun, Girls, apa iya ketertindasan kaum perempuan itu murni disebabkan para lelaki? Atau ada faktor lain yang membuat kaum perempuan tertindas?
Salah Kaprah Pejuang Emansipasi
Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan sudah diciptakan dengan potensinya masing-masing, Sobat. Kaum perempuan punya sifat lemah lembut dan tabiatnya ingin dilindungi. Sementara itu, kaum lelaki cenderung tegas dan memiliki karakter sebagai pelindung.
Default sejak lahir, potensi keduanya berjalan alami, melekat sejak Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Jadi, potensi yang ada pada lelaki itu sama sekali enggak diciptakan untuk menindas kaum perempuan.
Pegiat emansipasi kerap menganggap bahwa kekerasan yang dialami kaum perempuan, atau pelecehan seksual yang terjadi itu karena disebabkan satu hal. Apa itu? Ketimpangan gender, yaitu penguasaan laki-laki atas perempuan.
Menurut mereka, agar kasus kekerasan enggak berulang dan pelecehan seksual enggak terjadi, perempuan kudu setara dengan laki-laki. Jika laki-laki bisa bekerja di luar rumah, perempuan harus bisa juga, dong. Jika laki-laki bisa menduduki jabatan mentereng, perempuan juga kudu menduduki jabatan tersebut. Begitu seterusnya agar enggak ada ketimpangan gender.
Pegiat gender memandang semua masalah yang dialami perempuan disebabkan faktor tunggal, yakni ketidaksetaraan. Itu rumus baku perjuangan mereka. Namun, dalam tataran fakta, enggak sedikit kekerasan yang dialami kaum perempuan tuh disebabkan karena faktor lain, bukan karena superioritas para bapack–bapack atas ibu-ibu.
Tingginya angka pelecehan seksual pada kaum hawa disebabkan banyak faktor, Non. Misalnya karena pergaulan yang sudah kadung bebas, iffah/kemuliaan kaum perempuan tergadaikan, tayangan yang mengumbar aurat hingga syahwat para lelaki jadi tidak terkendali, dan berbagai faktor lainnya. Banyak, Non!
“Ah, tetapi para lelakinya saja yang jelalatan! Tubuh, tubuh gue. Gue bebas melakukan apa pun. Jadi bukan salah perempuan, dong!”
Yaelah, namanya naluri, kalau ada rangsangan, ya bangkit. Logikanya malah enggak nyambung. Pengen dihormati, tetapi aurat diumbar-umbar. Jadi, Sobat, enggak tepat jika dikatakan potensi fisik yang ada pada kaum lelaki menjadi sebab tunggal ketertindasan perempuan. Solusinya jelas bukan dengan menyerukan kaum perempuan terjun ke ranah publik semata untuk mewujudkan kesetaraan gender, atuh.
Islam Memuliakan Perempuan
Logika feminisme yang menganggap masuknya perempuan ke ranah publik adalah solusi, justru menuai masalah. Sudah begitu, pejuang emansipasi pun kudu menelan pil pahit realitas kiprah politik yang mereka geluti.
Di satu sisi kaum perempuan memiliki power, tetapi di sisi lain, syndrome Cinderella complex melanda. Dahaga untuk mengaplikasikan fitrah keperempuanan seakan menemui tembok penghalang, sementara ego keperempuanan sama sekali tidak menemukan alasannya lagi untuk ditonjolkan.
Bagaimanapun, perempuan butuh dilindungi. Betul apa betul? Lalu, bagaimana sih pandangan Islam mengenai kiprah perempuan di ranah publik? Sebagai sebuah sistem hidup, Islam memiliki lensa yang khas, lengkap dengan aturannya yang unik mengenai perempuan.
Allah Swt. menurunkan perintah untuk menutup aurat (jilbab plus khimar/kerudung) dengan maksud untuk memuliakan perempuan dengan pakaian takwa tersebut. Islam juga memerintahkan perempuan untuk menjaga pergaulan (tidak berkhalwat/berdua-duaan dengan nonmahram, tidak tabaruj/berhias di hadapan lelaki asing) agar terjaga kehormatan mereka.
Allah juga memerintahkan perempuan untuk meminta izin pada wali ketika hendak keluar rumah. Allah pun mewajibkan laki-laki untuk mencari nafkah dan mendudukkan mereka sebagai pemimpin (qawwam) ini bukan bermaksud untuk menomorduakan perempuan. Sebaliknya, ini adalah bukti betapa Islam sangat memuliakan kaum perempuan.
Allah adalah yang Maha Tahu tentang yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah pula yang paling paham apa yang bisa mewujudkan keharmonisan kehidupan para makhluk-Nya.
Islam menjelaskan pemberdayaan perempuan di sektor domestik maupun publik. Islam meletakkan peran domestik perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga suaminya. Tidak seperti yang digambarkan oleh kaum feminis selama ini, bahwa ibu bukanlah profesi berkelas, sebab tidak menghasilkan materi.
Islam justru menjadikan amanah tersebut sebagai kunci keberhasilan keluarga dan masyarakat. Dari didikan seorang ibulah, generasi cemerlang harapan masa depan suatu bangsa terwujud. Singkatnya, ibu adalah sekolah pertama bagi si anak. Keren, kan?
Sementara itu, di sektor publik, Islam menggariskan kewajiban kepada perempuan untuk turut serta melakukan amar makruf nahi mungkar, enggak hanya dibebankan kepada laki-laki. Sebab, perempuan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari umat.
Allah Swt. berfirman, “Hendaklah ada di antara kalian satu golongan umat, yang menyeru kebaikan (Islam), memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran.” (QS Ali Imran: 104)
Jadi, ketertindasan yang dialami kaum perempuan saat ini bukan karena tidak adanya kesetaraan. Jadi, sumber masalahnya apa, dong? Nah, ini sifatnya sistemis.
Pada tahu kan, kalau saat ini kita hidup dalam sistem sekuler, sistem hidup yang memisahkan agama dari kehidupan? Dalam sistem ini, seluruh manusia bebas melakukan apa pun. Bebas berinteraksi, bebas berpakaian, bebas berekspresi, bebas umbar aurat, bebas mengumbar syahwat. Alhasil, terjadilah hal-hal yang enggak diinginkan, yaitu pemerkosaan, pelecehan seksual, dan lain-lain.
Dalam sistem ini juga dijalankan sistem ekonomi yang kapitalistik. Apa itu? Yakni sistem ekonomi yang pro sekali terhadap para pemilik modal alias kaum kapitalis. Jadilah, para kapitalis itu diberi keleluasaan menguasai aset-aset strategis negara.
Karena sudah dikuasai sekelompok orang, rakyat jelatalah yang gigit jari ngeliat kekayaan negara digarong sekelompok orang. Kaum lelaki juga perempuan, sama-sama merasakan dampak penguasaan para kapitalis ini. Duh, duh, duh!
Sampai sini paham, kan? Ketertindasan manusia saat ini penyebab tunggalnya ya penerapan sistem kapitalisme itu. Bukan karena ketidaksetaraan gender. Jadi, perjuangan pejuang emansipasi tuh kudu dikoreksi. Niatnya pengin membebaskan perempuan, yang ada justru menjerumuskan kaum perempuan pada lingkaran masalah yang enggak ada akhirnya. So, masih percaya cinta palsu pejuang emansipasi? Aku sih, no! [MNews/Rgl]
