[Dunia Remaja] Mengejar Arti “Love”

[Dunia Remaja] Mengejar Arti “Love”

Penulis: Naila Zayyan

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Sobat remaja, apakah kamu mengerti apa artinya “love” atau “cinta”? Biasanya ketika ditanya seperti itu, yang muncul di kepala kamu enggak jauh dari pacaran , berdua-duaan, berpegangan tangan, ditraktir pacar, atau mungkin lebih dari itu? Waduh, ayo ngaku!

Yup, itu semua yang sekarang ada di benak mayoritas generasi muda negeri ini. “Love” menjadi sesuatu yang murah dan gampang dikatakan, biasanya dibarengi dengan aktivitas pacaran. Ya, enggak, Sobat? Sampai-sampai, dibilang bahwa pada zaman sekarang, yang enggak punya pacar itu cupu, jadul, primitif, dan enggak gaul. Akhirnya malah dikucilkan dari pergaulan para remaja karena dianggap aneh karena berbeda dengan kebanyakan remaja. Parah, kan?!

Bahkan, Sob, banyak remaja mendewakan “cinta”. Mereka pikir, cinta adalah segalanya. Tanpa cinta, hidup serasa tidak berarti.

Waduh, mereka yang mendewakan cinta, otomatis menjadi budak cinta alias bucin, telah dibutakan oleh cinta. Mereka rela melakukan dan menyerahkan semuanya kepada pacar hanya untuk membuktikan satu kata Sob, “Cinta”.

Nah, yang lebih parah lagi, cinta pada zaman edan sekarang ini identik dengan seks. Kalau mengaku cinta, ya ngeseks. Ini adalah pemikiran yang menyesatkan. Pembuktian tertinggi dari cinta katanya adalah dengan seks, tidak lain. Ngeri banget, Sobat! Main ngeseks saja, enggak peduli apakah diperbolehkan sama agama atau tidak.

Mirisnya, generasi muda sekarang telah terpengaruh budaya hidup orang Barat yang serba bebas dalam mengekspresikan sesuatu, termasuk “love”. Apalagi masa remaja yang serba ingin tahu, serba ikut-ikutan, serba ingin melakukan banyak hal tanpa pikir panjang akibatnya.

Parahnya, bagi mereka yang belum punya prinsip hidup yang kukuh, akan mudah terpengaruh dengan ajakan-ajakan dari luar seperti ajakan berpacaran. Awalnya mungkin aktivitas pacarannya hanya jalan berdua, ngobrol, dan pegangan tangan. Lama-kelamaan aktivitas pacaran jauh melampaui batas syariat agama, bahkan mengorbankan keperawanan mereka. Banyak kalangan menyebutkan pergaulan bebas pada remaja sudah pada ambang mengkhawatirkan.

Dilansir dari merdeka[dot]com, hasil penelitian KPAI bekerja sama dengan Yayasan Buah Hati menunjukkan data hasil riset di kota-kota besar, seperti Bali, Medan, Jakarta, dan Surabaya, sekitar 62,7 persen siswi SMP dan SMA sudah tidak perawan.

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan wawancara kepada 19.882 responden (usia antara 15-24 tahun). Hasilnya, 38 persen remaja putri menyatakan jika mereka melakukan aktivitas seksual tersebut terjadi secara begitu saja, tanpa dipikir, dan tanpa ada alasan tertentu. Sedangkan 57 persen remaja putra mengaku mereka melakukan aktivitas tersebut karena penasaran.

Dikabarkan dalam sindonews[dot]com, bahwa pada tahun 2022, saat kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya, ada tiga kota dengan jumlah tertinggi dalam kasus pelajar hamil di luar nikah, di antaranya Tangerang Selatan mencapai 276 kasus, Yogyakarta 45.589 kasus, dan terakhir Kabupaten Madiun (kompasiana[dot]com, 12/8/2022).

Nah, semua data ini menunjukkan bagaimana gambaran kehidupan muda-mudi zaman sekarang yang serba bebas. Pergaulan bebas menjadikan nafsu syahwat di atas akal sehat manusia. Generasi muda yang lainnya telah terjebak pada makna cinta palsu. Mereka melampiaskan semua hasratnya seperti hewan. Menyedihkan sekali.

Mereka telah lupa pada hakikat cinta sesungguhnya yang lebih agung dari yang mereka bayangkan selama ini. Cinta yang membuat ibu ikhlas mengandung dan menyusui anaknya, bahkan hingga dua tahun lamanya, cinta yang membuat seorang ayah rela banting tulang demi memberikan nafkah kepada keluarganya, dan sebagainya.

Karena cinta, Allah Swt. memberikan rahmat-Nya kepada kita. Karena cinta, Rasulullah Saw. rela kehilangan gigi depannya hanya untuk menyampaikan Islam kepada kita. Karena cinta, para generasi awal Islam ikhlas mengorbankan segala kehidupannya untuk menegakkan panji-panji islam. Coba sandingkan cinta mereka dengan cinta para generasi sekarang.

Setara nggak? Tentu tidak, Sobat.

Cinta generasi muda Islam pada zaman dahulu adalah cinta yang agung, sedangkan cinta generasi muda sekarang tidak lain hanya cinta nafsu. Na’uzubillah.

Sungguh sangat tidak seimbang dan tidak sama. Para generasi Islam terdahulu menerjemahkan cinta pada pengorbanan yang tulus dan suci. Jika generasi muda saat ini punya cinta yang agung, tentu mereka tidak memilih pergaulan bebas sebagai jalan hidupnya. Ketika mereka sudah mulai dewasa dan tertarik kepada lawan jenis, mereka akan berani berkata, ”Kujaga hatiku dengan menikahimu.” Berani, Sobat? [MNews/Rgl]

Referensi:

1. Emma Lucya F., Remaja 24 Karat, Al Azhar Fresh Zone Publishing, Bogor

2. kompasiana[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *