Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Definisi
Al-Qur’an al-Karim adalah al-kalam al-mu’jiz yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. dengan jalan wahyu. Kemudian Al-Qur’an sampai kepada kita dengan periwayatan yang mutawatir.
Nama-Nama Al-Qur’an
Kata Al-Qur’an diambil dari kata qara-a. Firman Allah Swt.,
اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (QS Al-Qiyamah[75]: 17)
يٰسۤ
وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْم
“Yaasiin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah.” (QS Yaasiin[36]: 1-2)
الۤمّۤ
تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ لَا رَيْبَ فِيْهِ مِنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ
“Alif Laam Miim. Turunnya Al-Qur’an yang tidak ada keraguan atasnya dari Tuhan Semesta Alam.” (QS as-Sajdah[32]: 1-2)
Al-Qur’an disebut juga al-furqan yang berarti yang memisahkan antara hak dan batil. Firman Allah Swt.,
تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-furqan kepada hamba-Nya agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS Al-Furqan[25]: 1)
Al-Qur’an juga disebut adz-dzikr. Firman Allah Swt.,
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz-Dzikr dan Kami yang memeliharanya.” (QS Al-Hijr[15]: 9)
Adapun nama-nama yang dianggap oleh sebagian ulama sebagai nama Al-Qur’an seperti al-‘aziz, al-majid, al-hakim, maka sebutan semacam ini bukanlah nama Al-Qur’an melainkan sifat-sifat bagi Al-Qur’an. Allah Swt. telah berfirman,
وَاِنَّهٗ لَكِتٰبٌ عَزِيْزٌ ۙ
“…sesungguhnya Al-Qur’an itu kitab yang mulia (al-‘aziz).” (QS Fushshilat[41]: 41)
بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ
“Bahkan ia adalah Al-Qur’an yang mulia (al-majid).” (QS Al-Buruj[85]: 21)
وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ
“Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah (al-hakim).” (QS Yasin[36]: 2)
Nama-nama yang tercantum pada ayat-ayat di atas hanyalah sifat-sifat Al-Qur’an bukan nama-nama bagi Al-Qur’an.
Wahyu
Secara bahasa, wahyu bermakna al ilham. Firman Allah Swt.,
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susukanlah dia.'” (QS Al-Qashash[28]: 7)
وَاَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَۙ
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit dan di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.'” (QS An-Nahl[16]: 68)
Sedangkan, menurut istilah, wahyu memiliki arti, pemberitahuan (ikhbar) Allah kepada para Rasul tentang risalah mereka.
Pemberitahuan Allah kepada para Rasul-Nya memiliki tiga bentuk, sebagaimana telah disebutkan Allah Swt. dalam firman-Nya,
۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
“Dan tiadalah bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata kepadanya melainkan dengan wahyu atau dari belakang dinding, atau Dia mengirim utusan, lalu Dia mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana.” (QS Asy-Syura[42]: 51)
Bentuk-bentuk ikhbar (informasi) Allah kepada para Rasul-Nya adalah sebagai berikut:
Pertama, penghadiran sebuah makna pada diri Rasul tanpa seorang perantara.
Kedua, Percakapan Allah dengan Rasul dari balik tabir (hijab), sebagaimana Allah pernah bercakap-cakap dengan Nabi Musa. Sebagaimana telah disebutkan dalam firman Allah Swt.,
وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan pembicaraan yang terang (langsung).” (QS An-Nisa[4]: 164)
Ketiga, mengutus malaikat pembawa wahyu kepada Nabi dalam bentuk seorang laki-laki atau dalam bentuknya yang asli (malaikat). Kemudian malaikat tersebut mengajarkan kepada Nabi apa-apa yang diperintahkan Allah untuk disampaikan. Firman Allah,
فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ
“Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang hendak Dia wahyukan.” (QS An-Najm[53]: 10)
Maksudnya adalah bahwa Allah telah mewahyukan kepada hamba-Nya melalui Jibril sebagai malaikat pembawa wahyu yang terpercaya, sebagaimana Allah telah memberi wahyu melalui Jibril kepada Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir. Allah telah menurunkan wahyu kepada Muhammad saw. sebagaimana Dia telah mewahyukan wahyu kepada para nabi dan rasul lainnya. Firman Allah Swt.,
۞ اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ
“Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya, dan Kami telah wahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS An-Nisa[4]: 163). [MNews/Rgl]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam
Foto sampul: iStock
