Penulis: Muhammad Ismail
Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Gaya pengungkapan yang bercirikan sastra biasanya berusaha untuk membangkitkan emosi. Kemudian berusaha mengekspresikan emosi itu dalam bentuk kata-kata dan ungkapan yang digunakan untuk menyampaikan pemikirannya. Perhatian dalam gaya ini dititikberatkan pada gejolak emosi sehingga patut disebut sebagai bahasa jiwa atau perasaan.
Tujuan gaya ini adalah untuk memengaruhi pembaca dan pendengar, yaitu dengan cara menggambarkan fakta-fakta dalam bentuk yang indah dan memesona sesuai dengan gambaran yang dimiliki penulis, atau sesuai dengan gambaran yang harus dimiliki oleh para pendengar atau pembaca. Sasaran gaya ini adalah meletakkan kata-kata yang luhur/penting, mempunyai keluasan arti, menjelaskannya secara panjang lebar untuk menerangkan satu makna dengan memperbaiki aspek keindahan yang memesona dan dapat membangkitkan emosi.
Keistimewaan gaya ini terletak pada kekuatan jiwa/perasaan yang memengaruhi ungkapannya secara jelas. Sehingga tampak dalam bentuk kata-kata, susunan kalimat, termasuk unsur balaghah (sastra)-nya.
Secara umum gaya ini tersusun atas tiga unsur: pertama pemikiran-pemikiran, kedua unsur balaghah-nya, dan yang ketiga ungkapan yang dibentuk oleh pemikiran dan unsur sastranya.
Kekuatan gaya, kejelasan, dan keindahan dapat ditemukan pada gaya yang bercirikan pengungkapan pemikiran, seperti juga dapat dijumpai pada gaya pengungkapan yang bercirikan sastra, jadi tidak khusus pada suatu gaya tertentu, karena hal ini merupakan sifat bagi suatu gaya, baik yang berupa sastra maupun pemikiran.
Oleh karena itu, kita temui banyak gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran yang dapat mengungkapkan keindahan dan ketepatannya, melebihi gaya pengungkapan yang bercirikan sastra. Gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran selalu harus digunakan dalam mengajarkan masyarakat tentang ide-ide, menjelaskan, dan menumbuhkan kepercayaan terhadap ide tersebut kepada mereka. Itu semua tidak akan tercapai kecuali dengan gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran.
Gaya ini dapat juga memberikan pengaruh dalam membangkitkan perasaan dan mendorong untuk melaksanakan ide yang telah dipahaminya, sekalipun pengaruh ini prosesnya lambat dan membutuhkan penghayatan berpikir sehingga dapat membangkitkan jiwa dan perasaannya. Hanya saja perasaan yang terwujud melalui cara ini dapat menumbuhkan perasaan yang abadi, yang tidak akan lenyap kecuali apabila kepercayaan terhadap ide itu hilang.
Berbeda dengan gaya pengungkapan yang bercirikan sastra yang tidak digunakan kecuali untuk memengaruhi perasaan. Cara ini selalu digunakan untuk mendorong masyarakat melakukan suatu perbuatan.
Gaya ini sekalipun mengajarkan pendengar dan pembaca akan fakta-fakta (terhadap kehidupan), akan tetapi yang diajarkan adalah suatu fakta dan pengetahuan yang sepele dan tidak mampu menyampaikan ide-ide yang mendalam. Kalaupun berusaha menyampaikannya, dia akan menyederhanakan atau mendramatisasi sehingga akan hilang arti kedalaman makna-maknanya yang akhirnya tidak memiliki nilai apa-apa.
Dengan demikian, tidak mungkin menyampaikan suatu pemikiran untuk suatu ideologi, filsafat, tasyri‘ (hukum) atau ilmu-ilmu eksakta dan semacamnya kecuali dengan gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran, sedangkan puisi dan pidato tidak mungkin kecuali disampaikan dengan bahasa pengungkapan yang bercirikan sastra.
Atas dasar hal ini, maka gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran harus selalu digunakan untuk menyampaikan ide, sedangkan gaya pengungkapan yang bercirikan sastra harus selalu digunakan untuk memengaruhi masyarakat dan mendorong mereka untuk berbuat sesuatu yang diinginkan dari mereka.
Oleh karena itu, gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran selalu digunakan oleh umat pada saat proses kebangkitannya dan dalam menuju puncak kemuliaan. Sedangkan gaya pengungkapan yang bercirikan sastra selalu digunakan oleh umat yang taraf berpikirnya rendah (dangkal) atau dalam keadaan hidup bermewah-mewahan.
Dari sini kita jumpai bahwa masa ketika diutusnya Rasulullah saw., syair dan karya sastra kurang tampak dalam masyarakat, sementara gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran lebih banyak digunakan baik dalam pidato ataupun dalam pembicaraan.
Al-Qur’anul Karim adalah sebaik-baiknya contoh dalam gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran. Gaya inilah yang lebih banyak digunakan di samping mengandung seindah-indahnya pengungkapan yang bercirikan sastra, tetapi bentuknya selalu dirangkai dengan gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran, baik dari segi kedalaman maupun kejelasan dan kelebihannya.
Pada masa ini, umat Islam mulai menampakkan gejala kebangkitannya. Sehingga sangat dibutuhkan gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran untuk menyampaikan fakta-fakta/ide yang benar kepada masyarakat dan menjadikan perasaan mereka yang telah dibangkitkan untuk berbuat senantiasa ada. Namun, hal ini dilakukan setelah menanamkan dalam benak mereka pemikiran yang kita inginkan agar mereka mengamalkannya serta melestarikan kepercayaan mereka terhadap pemikiran tersebut. [MNews/Rgl]
Sumber: Muhammad Ismail, Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam)
Foto sampul: iStock
