Penulis: Arum Harjanti
Muslimah News, KOMENTAR POLITIK — Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2022 menyampaikan pesan, “Keluarga menjadi kunci dalam pembangunan bangsa. Keluarga yang merawat anaknya juga ikut mempersiapkan generasi yang sehat dan cerdas di waktu mendatang.” (29/06/2022)
Ia menambahkan bahwa dalam keluarga yang tenteram, mandiri, bahagia, dan sejahtera, akan lahir anak sehat dan cerdas. Menurutnya, keluarga memegang peran yang sangat penting dalam membentuk karakter, budaya, dan perilaku hidup sehat.
Keluarga dan orang tua yang merawat 1.000 hari pertama kehidupan anak menjadi kunci sukses dalam mencegah stunting dan mempersiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan unggul pada masa mendatang.[1]
Komentar
Betul. Di tengah-tengah keluarga yang tenteram, mandiri, bahagia, dan sejahtera, akan lahir anak yang sehat dan cerdas. Adalah benar bahwa terbentuknya budaya dan perilaku hidup sehat dipengaruhi oleh keluarga.
Namun sejatinya, terbentuknya keluarga yang tenteram, mandiri, bahagia, dan sejahtera tidak hanya ditentukan kondisi internal individu dalam keluarga. Ada banyak faktor eksternal yang sangat dibutuhkan dukungannya untuk mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera. Dalam kaitannya dengan pencegahan stunting, tidak cukup adanya kepedulian dan perhatian individu keluarga semata.
Persoalan penting terbentuknya keluarga yang tenteram, mandiri, bahagia, dan sejahtera, yang mampu mencegah terjadinya stunting adalah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia secara layak sesuai kebutuhannya masing-masing individu. Tentu saja termasuk di dalamnya adalah kebutuhan komunal, seperti sarana pendidikan dan layanan kesehatan.
Oleh karenanya, terjadinya stunting sangat erat dengan tingkat kemiskinan masyarakat dan keterjangkauan atas dua layanan tersebut. Meskipun kemiskinan bukan satu-satunya sebab stunting, tetapi sungguh nyata betapa besar hubungan kemiskinan dengan stunting.[2]
Dalam konteks ini, keluarga prasejahtera merupakan kelompok masyarakat rentan. Keluarga prasejahtera merupakan kelompok yang tidak dapat memenuhi salah satu dari enam kebutuhan dasar keluarga, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan.
Kondisi ini berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap informasi yang berkualitas dan lemahnya pengetahuan terkait pencegahan stunting menempatkan anak-anak dari keluarga prasejahtera berpotensi mengalami stunting.[3]
Penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan menunjukkan korelasi positif terhadap stunting, yakni makin tinggi angka kemiskinan di suatu wilayah, makin tinggi pula prevalensi stunting pada anak usia 2—3 tahun di wilayah tersebut. Bahkan, kemiskinan merupakan hulu dari berbagai permasalahan yang ada, seperti tingginya angka kesakitan dan kematian, pengangguran, gizi buruk, serta rendahnya kualitas SDM.[4]
Oleh sebab itu, pengentasan kemiskinan menjadi kunci penyelesaian stunting di negeri ini. Pengentasan kemiskinan tentu tanggung jawab negara dan erat kaitannya dengan penerapan sistem ekonominya. Terbukti saat ini, sistem ekonomi kapitalisme ternyata membuahkan kemiskinan, bahkan di negeri kaya raya sumber daya alamnya seperti Indonesia.
Kapitalisme membiarkan yang kuat yang menang dan mengabaikan rakyat yang lemah. Kapitalisme juga membiarkan kekayaan alam dikuasai segelintir orang demi keuntungan pribadi. Walhasil, meletakkan tanggung jawab pada keluarga sebagai kunci pembangunan adalah mustahil dapat menyelesaikan masalah stunting.
Penerapan sistem ekonomi Islam adalah satu-satunya harapan untuk menyelesaikan stunting di negeri ini. Hanya dengan penerapan sistem ekonomi Islam yang akan menjamin kesejahteraan rakyat.
Islam menentukan bahwa kekayaan alam adalah milik rakyat yang dikelola negara untuk kemakmuran rakyat. Islam juga mewajibkan negara menyantuni rakyat yang lemah dan memenuhi kebutuhan pokoknya individu per individu sehingga kemiskinan dapat terentaskan. Wallahualam. [MNews/Gz]
[1]https://www.republika.co.id/berita/re8mpd380/peringatan-harganas-2022-kepala-bkkbn-keluarga-kunci-utama-pembangunan
[2] https://www.kemenkopmk.go.id/menko-pmk-penanganan-kemiskinan-kunci-penurunan-stunting
[3]https://nasional.kompas.com/read/2021/09/13/17285331/rumitnya-masalah-stunting-dari-kesehatan-hingga-sosial-budaya?page=all.
[4] https://media.neliti.com/media/publications/223493-none.pdf
