Muslimah News, NAFSIYAH — Apakah sebagian dari kita telah merasa cukup dengan berbagai ibadah yang selama ini dilakukan? Jika jawabannya sudah cukup, tentu ia harus mengevaluasi diri. Sementara jika jawabannya belum cukup, maka ia harus mengarahkan dirinya terhadap amalan yang mendatangkan pahala besar.
Tidak jarang kita temukan seorang muslim yang merasa puas dengan amalnya hingga ia enggan meraih amalan yang pahalanya lebih baik dan besar. Ia tidak bersemangat dalam melakukan kebaikan karena merasa telah banyak beramal saleh. Akhirnya, ia jarang melakukan berbagai kebaikan, bahkan berhenti malakukan kebaikan.
Hal ini bisa terjadi dikarenakan seseorang telah merasa cukup hanya dengan yang wajib, seperti salat fardu dan puasa Ramadan, dan melupakan amalan-amalan nafilah. Perkara sunah dianggap tidak perlu sering-sering dilakukan. Bahkan meninggalkan aktivitas amar makruf nahi mungkar yang merupakan salah satu kewajiban setiap muslim.
Padahal Allah Mahakaya dan Maha Pemurah. Allah tidak akan pernah bosan memberikan pahala dan karunia-Nya kepada hamba-Nya yang terus-menerus meningkatkan amal salehnya setiap waktu, baik itu berupa ibadah mahdah (individu), maupun gairu mahdah (sosial). Makin banyak amal hamba, makin banyak pula pahala dan karunia yang diberikan Allah kepadanya.
Rasulullah saw, bersabda, “Sesungguhnya Ia tidak pernah bosan (memberi pahala) sehingga engkau semua bosan (melaksanakan amal itu).” (HR Bukhari dan Muslim)
Allah mencintai hamba-Nya yang konsisten beramal saleh meskipun sedikit. Allah pun menyukai orang yang terus-menerus meningkatkan amalnya. Sabda Rasul saw., “Bersikaplah lurus, lakukanlah yang sederhana (jika tidak mampu melakukan yang berat), dan bergembiralah (untuk memperoleh pahala) sekalipun sedikit, juga mohonlah pertolongan dalam melakukan suatu amal (usaha), baik di waktu pagi, sore, maupun malam.” (HR Bukhari)
Setiap muslim yang merasa puas dengan amalnya, menunjukkan betapa lemah semangatnya dalam beramal. Ibnu Athaillah mengatakan, “Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah sikap puas terhadap diri sendiri. Dan, pangkal segala ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tidak puas dengan diri sendiri.” (Kitab al-Hikam)
Saudariku, saat seorang muslim telah merasa cukup dengan ibadahnya, ia menjadi enggan membantu dan bermanfaat untuk orang lain. Ia tidak akan peduli jika ada tawaran-tawaran untuk meringankan dan memudahkan urusan orang lain. Ia tidak bisa menjadi seperti sumur yang banyak diambil manfaatnya. Saat diminta kemampuannya, ia mengatakan bahwa ia belum ideal. Bukankah kita semua diminta untuk senantiasa memperbaiki diri?
Belum lagi dalam perkara menolong agama-Nya (berdakwah), ia menjadi enggan melakukan amar makruf nahi mungkar di tengah umat dan mencukupkan diri hanya dengan mengikuti majelis ilmu. Ia pun meminimalisir infaknya dengan anggapan ia masih memiliki banyak keperluan memenuhi kebutuhan hidup. Astagfirullah.
Saudariku, ketahuilah bahwa setan senantiasa menahan seorang muslim dan menutupi dirinya dari amalan-amalan yang bermanfaat untuk orang lain. Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Ketika setan menggoda manusia, setan memiliki berbagai macam agenda. Yakni, kesyirikan, menyibukkan dengan perkara yang tidak sesuai dengan sunah Rasul, menyesatkan manusia dengan dosa besar, menyesatkan manusia dengan dosa kecil, menyibukkan dengan perkara mubah, membiarkan manusia beramal dengan amalan kecil hingga ia luput beramal dengan amalan besar. Ketika setan tahu ada amalan yang bermanfaat untuk orang lain, setan berusaha menyibukkan ia dengan perkara kecil.”
Inilah cara setan untuk menjauhkan kita dari rahmat Allah Taala. Kita disibukkan dengan perkara kecil dan luput dari perkara besar. Akhirnya ia mengatakan, “Saya tidak punya waktu untuk mengurusi orang lain.” Namun ia tidak mendapatkan pahala yang besar karena hanya sibuk dengan perkara kecil.
Padahal Islam merupakan agama yang setiap syariat-Nya memberi manfaat untuk orang lain. Allah Swt. telah mengingatkan kita beberapa sifat penghuni surga, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS Al-Dzaariyat: 15—18)
Imam Ibnul Qayyim pun mengatakan, “Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah di antara tanda kegelapan hati dan ketololan. Keraguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amalnya tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istigfar setelah melakukan ketaatan. Hal ini karena dirinya menyadari bahwa ia telah banyak melakukan dosa-dosa dan banyak meninggalkan perintah-Nya.”
Oleh karena itu, kita tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan melakukan perkara-perkara kecil, tetapi harus melakukan amalan besar, seperti berupaya memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam dan berjuang menegakkan Khilafah Islamiah yang menerapkan Islam secara kafah.
Karena tanpa Khilafah, umat tidak berdaya di hadapan musuh-musuh Islam, agama pun dihina dan difitnah dengan keji. Ajaran Islam dimonsterisasi serta dimandulkan. Para ulama diintimidasi dan diperkusi. Umat Islam hidup dalam penderitaan, penindasan, dan penjajahan.
Sebagai seorang muslim, kita patut menyadari bahwa tidak pantas membanggakan amal ibadah yang telah dilakukan. Karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba Nya. Dia Mahakaya, tidak membutuhkan makhluk-Nya. Kitalah yang membutuhkan Allah Taala. Kita butuh melakukan perkara besar demi meraih pahala yang besar, semata-mata karena-Nya. Jangan sampai kita meminimalisir amal, mencukupkan diri hanya dengan perkara kecil, dan tidak memberi manfaat untuk banyak orang. Semoga nasihat ini menjadi renungan kita bersama untuk menjadi lebih baik di hadapan Allah Taala. Amin. Wallahul Muwafiq. [MNews/Rndy]
Sumber gambar: unsplash
