Kewajiban Menyampaikan Peringatan (Tafsir QS Al-A’la: 9—11) (Bagian 2/2)

Kewajiban Menyampaikan Peringatan (Tafsir QS Al-A’la: 9—11) (Bagian 2/2)

Penulis: Ustaz Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, TAFSIR AL-QUR’AN –

Allah Swt. berfirman, “Sayadzdzakkaru man yakhsyâ (Orang yang takut [kepada Allah] akan mendapat pelajaran).” Menurut Al-Asfahani, kata “al-khasy-yâh” berarti khawf (takut) yang disertai dengan takzim (sikap hormat dan memuliakan). Sikap tersebut kebanyakan didasarkan oleh pengetahuan tentang zat yang ditakuti tersebut. Oleh karena itu, sikap itu dikhususkan kepada ulama dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS Fathir [35]: 28).[11]

Oleh karena “khasy-yah” merupakan ketakutan yang disertai dengan sikap hormat, maka dalam Al-Qur’an sikap itu hanya ditujukan kepada Allah Swt. (Lihat: QS [51]: 33; al-Kahfi [18]: 80; al-Baqarah [2]: 150; an-Nisa’ [4]: 77; al-Ahzab [33]: 39; an-Nisa’ [4]: 9; dan lain-lain).

Itu pula makna yang terkandung dalam ayat ini. Dijelaskan Ibnu Katsir, “man yakhsyâ” dalam ayat ini berarti orang-orang yang takut kepada Allah dan meyakini perjumpaan dengan-Nya.[12]

Tidak jauh berbeda, al-Qurthubi juga menafsirkan kalimat ini sebagai orang yang bertakwa dan takut kepada Allah.[13] Ibnu Jarir ath-Thabari juga berkata, “Orang yang takut kepada Allah Swt. dan hukuman-Nya.”[14]

Orang-orang yang takut kepada Allah Swt. itulah yang mengambil peringatan dan nasihat yang diberikan Rasulullah saw. Dalam ayat ini disebutkan, “Sayadzakkaru.” Artinya, “dia akan menerima nasihatmu.”[15] Dikatakan oleh az-Zamakhsyari, orang yang takut kepada Allah dan buruknya akibat itu lalu mempertimbangkan dan memikirkannya. Pertimbangannya itu kemudian membimbing dia untuk mengikuti kebenaran.[16]

Atas pilihannya itu mereka mendapatkan as-sa’âdah (kebahagiaan) di dunia dan akhirat. Dikatakan oleh al-Biqa’i, “al-khasy-yah” (rasa takut) itu membawa pelakunya pada setiap kebaikan hingga hatinya merasa nikmat; dibalas dengan surga yang tinggi, dan hidup dengan kehidupan yang baik, tanpa ditimpa kesakitan dan kesusahan, kekal abadi tanpa akhir dan tanpa ujung.[17]

Kemudian diberitakan tentang sikap orang yang sebaliknya, “Wa yatajannbuhâ al-asyqâ (Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya).” Jika yang disebutkan sebelumnya mau menerima peringatan dan mengambil nasihat yang disampaikan Rasulullah saw. maka mereka justru menjauhinya. Jika yang sebelumnya takut kepada Allah maka mereka ini berani kepada Allah. Mereka pun mendapatkan balasan atas tindakan mereka.

Dalam ayat ini disebut sebagai “al-asyqâ (orang yang paling celaka).” Dikatakan al-Alusi, mereka adalah orang kafir yang terus dan tetap dalam pengingkarannya terhadap Hari Kiamat dan semacamnya. [18]

Kata “al-asyqâ” merupakan bentuk at-tafdhîl dari kata asy-syaqiyy (orang yang celaka). Mereka dinyatakan sebagai al-asyqâ (orang yang paling celaka) lantaran menerima azab yang amat besar. Azab tersebut diberitakan dalam ayat selanjutnya, “al-ladzî yashlâ an-nâr al-kubrâ ([yaitu] orang yang akan memasuki api yang besar [neraka]).”

Pengertian “al-kubrâ” di sini adalah al-‘azhîmah wa al-fazhî’ah (yang besar dan mengerikan). Dikatakan demikian karena panasnya lebih besar dan dahsyat daripada api dunia.[19]

Menurut al-Hasan, an-nâr al-kubrâ adalah neraka akhirat. Adapun yang sughrâ (yang kecil) adalah neraka dunia.

Sebagian mufasir mengatakan, semua neraka adalah neraka akhirat meskipun bertingkat-tingkat kerasnya. Ada neraka yang lebih besar daripada neraka lainnya. Dikatakan al-Farra’, “al-kubrâ” adalah tingkatan neraka yang paling bawah.[20]

Kemudian Allah Swt. berfirman, “Tsuma lâ yamûtu fîhâ wa lâ yahyâ (kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak [pula] hidup).” Di dalam neraka itu mereka tidak mati dan tidak hidup. Mereka tidak mati sehingga dapat beristirahat dari azab; juga tidak hidup dengan kehidupan yang memberi dirinya manfaat.[21]

Itulah siksa yang diterima oleh orang-orang yang menolak dan menyingkirkan peringatan Allah Swt. Mereka harus menghadapi siksaan yang besar atas tindakan lancang dan durhaka mereka terhadap Penciptanya, Allah Swt.

Respons Manusia terhadap Peringatan

Terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil dari ayat-ayat ini.

Pertama: perintah untuk menyampaikan peringatan kepada manusia. Perintah ini ditujukan kepada Rasulullah saw. Hal ini dengan jelas disebutkan dalam kalimat, “Fadzakkir (berikanlah peringatan).”

Menyampaikan peringatan dan nasihat merupakan tugas yang harus diemban Rasulullah saw. dan seluruh Rasul lainnya. Bahkan ini merupakan tugas utama seorang Nabi dan Rasul, termasuk beliau (Lihat: QS Al-Ghasyiyah [88]: 21).

Patut dicatat, meskipun perintah dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw., perintah tersebut juga berlaku bagi umatnya. Sebab, selama tidak ada dalil yang mengkhususkan khithab itu hanya ditujukan untuk beliau maka khithab itu berlaku umum. Demikian pula ayat ini.

Apalagi sebagaimana dijelaskan para mufasir, pengertian ayat tersebut adalah memberikan peringatan dan nasihat dengan Al-Qur’an, apa yang diwahyukan kepada Rasulullah saw., dan syariat agamanya.

Perbuatan tersebut jelas diperintahkan kendati dilakukan dalam beberapa ungkapan dalam Al-Qur’an, seperti berdakwah dan mengajak manusia pada Islam (lihat QS An-Nahl [16]: 125, Fushilat [41]: 33), melakukan amar makruf nahi mungkar (lihat QS Ali Imran [3]: 110, 114; At-Taubah [9]: 71), menyampaikan wasiat kebenaran dan kesabaran kepada manusia (QS Al-‘Ashr [103]: 30), dan lain-lain.

Tentu saja, dalam detail dan fokusnya terdapat perbedaan-perbedaan. Namun, sasaran yang dituju adalah menjadikan manusia terikat dan mengamalkan syariat.

Kedua: kemungkinan sikap manusia terhadap peringatan yang diberikan. Sikap manusia ada dua kemungkinan: (1) menerima dan mengambil peringatan itu sebagai pelajaran; (2) menolak dan menjauhinya.

Sikap tersebut bisa terjadi lantaran beliau hanya diberi kewenangan memberikan peringatan, tidak diberi kewenangan untuk memaksa mereka harus menerima peringatan itu (Lihat: QS Qaf [51]: 45).

Meskipun tidak dipaksa, seharusnya manusia memilih sikap pertama, yakni menerima peringatan dari Allah Swt. Peringatan itu jelas demi kebaikan manusia: ketika di dunia, kehidupannya mendapat limpahan berkah; di akhirat dia dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan.

Sebaliknya, tidak ada satu pun alasan yang bisa digunakan untuk mendukung pilihan kedua, yakni menolak dan menjauhi peringatan dari Allah Swt. Sebab, siapa pun yang menolak perintah itu hidupnya akan sesat dan ditimpa dengan kesengsaraan.

Di akhirat kelak lebih celaka lagi. Siksaan amat dahsyat di “an-nâr al-kubrâ” (neraka yang besar) akan ditimpakan kepada dirinya. Demikian dahsyatnya sehingga membuat penghuninya tidak bisa hidup dan tidak pula mati.

Oleh karena itu, orang yang berakal dan menggunakan akalnya dengan benar niscaya akan memilih sikap yang pertama, yakni menerima peringatan dan nasihat itu (Lihat: QS Al-Baqarah [2]: 269; Ali Imran [3]: 7).

Ayat ini juga mengajari kita bahwa sebaik dan sebenar apa pun sebuah peringatan, dua kemungkinan itu selalu terjadi. Dengan demikian, adanya penolakan dari sebagian manusia terhadap sebuah ide, tidak menandakan bahwa ide itu salah. Tidak pula menunjukkan orang menyampaikannya keliru.

Ini juga yang terjadi pada Islam. Tidak ada satu pun agama, pemikiran, dan ideologi yang dapat menandingi Islam. Yang menyampaikan juga manusia pilihan, Rasulullah saw. Meskipun demikian, tetap saja ada manusia yang menolak dan mengingkari, bahkan memusuhi Islam.

Realitas ini harus menyadarkan para pengemban dakwah bahwa dakwahnya tidak selalu disambut dengan senyum ramah dan tangan terbuka. Sebaliknya, kadang justru dakwahnya mengundang penolakan dari objek dakwah.

Menghadapi realitas tersebut, pengemban dakwah tidak boleh kecil hati, apalagi surut langkah dan berputus asa. Dia harus tetap teguh dan bersabar dalam menyampaikan dakwah. Jangankan manusia biasa, Rasulullah saw. dan para nabi lainnya pun pernah mendapatkan perlakuan serupa.

Allah Swt. berfirman,

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

“Sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka.” (QS al-An’am [6]: 34).

Semoga kita selalu menerima peringatan dan mengambil nasihat dari Rasulullah saw. Semoga kita pun bisa meneladani beliau: menyampaikan peringatan dan nasihat kepada seluruh manusia dengan risalah yang diturunkan kepada beliau, Islam. Sebaliknya, semoga kita tidak termasuk orang yang menolak peringatan dan mendapatkan ancaman siksa neraka. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [MNews/Rgl]

Referensi:

[11] Al-Ashfahani, Al-Mufradât Gharîb al-Qur‘ân, 282.

[12] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 372.

[13] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 20, 20.

[14] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 372.

[15] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 516.

[16] Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1987), 740.

[17] Al-Biqa’i, Nazhm ad-Durar, vol. 21 (Kairo: Dar al-Kitab al-Islami, tt), 399.

[18] Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 320.

[19] Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 5, 242.

[20] Ibnu ‘Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 470; al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân, vol. 20, 20.

[21] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 20, 20; lihat juga al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 5, 242.

Share

One thought on “Kewajiban Menyampaikan Peringatan (Tafsir QS Al-A’la: 9—11) (Bagian 2/2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *