[Nafsiyah] Menyembuhkan Kecondongan Hati atas Pujian Manusia

[Nafsiyah] Menyembuhkan Kecondongan Hati atas Pujian Manusia

Muslimah News, NAFSIYAH — Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah Swt. dengan karakter pemenang. Bagaimana tidak? Lihatlah dari proses penciptaannya. Dari jutaan sel sperma yang berjuang membuahi sel telur, hanya satu yang menjadi pemenangnya, yaitu kita.

Karena kita adalah seorang muslim dan pemenang, maka sudah seharusnya selalu positive thinking serta optimis menjalani hidup. Namun pada faktanya, ada saja muslim yang memiliki sifat pesimis dan pikiran yang buruk hingga berakhir membunuh kualitas diri dan mengakhiri hidupnya.

Hal ini bisa terjadi ketika manusia haus akan pujian dan menjadikan pujian sebagai obsesi atau tujuan hidup. Firman Allah Swt., “Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS Al Imran: 188)

Seluruh amal saleh yang kita lakukan tidak akan bermakna jika kita masih mengharapkan pujian manusia. Kualitas kita sebagai hamba pun ikut terkubur di hadapan Allah selama penyakit ujub dan riya ada pada dirinya.

Imam Syafi’i pernah berkata, “Jika hidup mencari keridaan manusia, hal itu mustahil untuk kita dapatkan.” Inilah mengapa kita harus meluruskan niat dan semata-mata berharap keridaan Allah Swt..

Ibnu Rajab pun berkata, “1 juta lebih hadis Nabi saw., yang paling inti dari jutaan hadis itu ada tiga. Pertama, hadis yang berbunyi ‘segala amal bergantung pada niatnya. Kedua, amal itu tergantung ilmunya. Ketiga, harta harus bersih dari haram dan syubhat.’”

Jumhur ulama berpandangan bahwa sepertiga kekuatan hadis Nabi saw. terletak pada niat. Oleh karena itu seorang mukmin akan selalu menyucikan niat dalam hatinya. Ia hidup terbebas dari penilaian manusia dan tidak mengindahkan pujian manusia yang hanya seujung lidah. Pujian manusia tidaklah mutlak, karena ketika ia wafat, maka ia akan segera dilupakan. Hanya orang tuanya, pasangannya, dan anak-anaknya yang masih mengingatnya.

Inilah yang menjadikan para ulama tidak pernah mengharapkan pujian manusia dan hanya fokus mendapatkan rida-Nya. Imam Syafi’i berkata, “Aku ingin ilmu diambil dariku tanpa mereka menisbatkan ilmu itu kepadaku.” Masyaallah, beliau ingin memberikan manfaat sebesar-besarnya pada manusia tanpa sedikit pun mengharapkan pujian.

Sesungguhnya, mental pemenang akan terbentuk manakala manusia tidak lagi haus akan pujian. Lantas bagaimana jika kita menerima pujian? Berdoalah, “Allaahumma Anta a’lamu minnii bi nafsii, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allaahummaj ‘alnii khoiron mimmaa yazhunnuun, waghfir lii maa laa ya’lamuun, wa laa tu-aakhidznii bimaa yaquuluun.” (Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri, dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka). (HR Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 228)

Saudariku, ketahuilah bahwa sebaik apa pun ibadah kita, jika tertempel setitik riya, maka tidak lagi berharga di hadapan Allah Swt.. Manusia yang hebat di hadapan Allah ialah ketika ia merdeka di hadapan manusia. Ia akan tetap beramal saleh di mana pun dan kapan pun, baik perbuatannya dilihat manusia ataupun tidak.

Berhati-hatilah jika muncul perasaan ingin dipuji saat kita beribadah, ingin dipuji atas perkara yang tidak ia lakukan, ingin dipuji dari apa yang ia lakukan, ingin dipuji atas kemaksiatan—ini adalah yang terparah—.

Saudariku, orang yang hebat ialah ketika ia sering menyucikan hatinya dari pujian manusia dan hanya memfokuskan dirinya untuk meraih keridaan Allah Swt.. Inilah penyembuh dari kecondongan hati manusia atas pujian yang justru mematikan kita. Semoga Allah menjaga diri kita dari sikap ujub dan riya, serta dari kesibukan atas penilaian manusia, hingga ketika bertemu dengan Allah Swt., tidak ada satu amal pun yang bisa menyelamatkan kita dari azab-Nya di akhirat. Naudzubillah! [MNews/Rndy]

Share

3 thoughts on “[Nafsiyah] Menyembuhkan Kecondongan Hati atas Pujian Manusia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *