Banyak Pengangguran pada Usia Produktif,  Berkah atau Musibah?

Banyak Pengangguran pada Usia Produktif, Berkah atau Musibah?

Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq

Muslimah News, OPINI — Manusia diwajibkan melakukan usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu upaya itu adalah bekerja. Dengan bekerja seseorang akan mendapatkan gaji/upah. Dari uang itu, mereka dapat hidup dan memenuhi keperluannya. Sayangnya, sejak pandemi masyarakat kesulitan mendapatkan pekerjaan. Jutaan orang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Usai kondisi membaik, jumlah pengangguran belum sebanding dengan sebelum pandemi. Meski sempat mengalami penurunan, jumlahnya masih  banyak. Saat ini ada 8,4 juta orang menganggur, sedangkan pada 2020 (sebelum pandemi) ada 6,93 juta orang. (CNBC, 11/5/2022).

Lebih mengagetkan lagi, usia produktif menyumbang pengangguran terbanyak. Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), 40,05% pengangguran berasal dari usia 15—24 tahun. Sebanyak 46,69% dari usia 25-44 tahun, sisanya adalah usia 44 tahun ke atas. (BPS, 9/5/22).

Muncul Masalah sebagai Musibah

Tingginya pengangguran anak muda dan usia produktif dapat mengakibatkan bencana demografi. Sebagaimana kita tahu, saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari usia lainnya.

Membludaknya usia muda ini diharapkan dapat menyumbang kemajuan bagi negeri. Dengan memanfaatkan berbagai keahlian mereka, roda perekonomian dapat berputar, negara pun bisa maju.

Sayangnya, bonus demografi yang terjadi saat ini malah berkebalikan. Bukannya menyumbang kemajuan, tetapi justru menambah jumlah pengangguran. Ini dikarenakan jumlah pekerja jauh lebih banyak dari pada lapangan pekerjaan yang disediakan. Selain itu, banyaknya lulusan yang tidak sesuai kebutuhan industri membuat para pemuda sulit menjemput rezeki.

Kalau sudah seperti ini, bonus demografi akan berubah menjadi bencana demografi. Meminjam istilah Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, bencana demografi adalah masuknya Indonesia pada jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) setelah bonus demografi selesai.

Ancaman ini terjadi jika tidak tersedianya angkatan kerja yang cukup untuk menanggung atau mengompensasi penduduk usia tidak produktif. Jadi, jika di rata-rata, pendapatan per kapita akan cenderung turun karena penduduk yang bekerja lebih sedikit daripada yang tidak bekerja.

Lebih parah lagi, sulitnya mencari pekerjaan di tengah kebutuhan yang makin mahal menyebabkan munculnya tindak kriminal. Masyarakat akan berpikir untuk mencari uang dengan singkat serta menghalalkan berbagai macam cara. Walhasil, lahirlah ketaknyamanan dan rasa tidak aman karena selalu dibayangi kejahatan. Aktivitas penipuan, penjambretan, pencurian, perampokan, penganiayaan, hingga pembunuhan bisa saja terjadi setiap hari.

Kapitalisme dan Demokrasi sebagai Biangnya

Munculnya masalah ini sebagai akibat dari penerapan kapitalisme dan demokrasi. Ada beberapa sebab yang membuat munculnya masalah ini.

Pertama, prinsip kebebasan kepemilikan yang dianut sistem ini melahirkan para pemodal kelas kakap. Hukum rimba berlaku dalam setiap usaha. Siapa saja yang memiliki modal banyak dan punya kekuatan bisa melindas yang lemah. Bahkan para pengusaha itu juga leluasa menentukan berapa upah dan siapa saja yang dapat bekerja (harus wanita). Alhasil, bagi pengusaha asing tentu sangat menguntungkan mereka jika mengambil pekerja dari negara sendiri.

Kedua, salah strategi kurikulum pendidikan. Selama ini SMK selalu dielu-elukan, lulusan siap kerja diharapkan akan memenuhi kebutuhan industri. Namun, pada kenyataannya lulusan SMK justru menjadi penyumbang besar dalam pengangguran. Alasannya karena banyak lulusan yang tak sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Padahal, pada saat SMK itu dibuka, jurusan itu sangat diperlukan oleh industri.

Artinya, sistem kurikulum yang mengikuti permintaan pasar tidak bisa laku selamanya. Karena seiring berkembangnya zaman, industri pun juga berubah. Lagi-lagi kurikulum seperti disetir oleh para oligarki. Karena harus mengikuti kemauan mereka. Tidak hanya SMK, perguruan tinggi pun juga didesain mengikuti permintaan pasar. Seperti penerapan kurikulum kampus merdeka.

Ketiga, jebakan riba juga membuat pengangguran makin meningkat. Saat ini banyak sekali penawaran modal usaha. Bukan niatan membantu memberi modal untuk buka usaha, tetapi mencari keuntungan dengan menarik riba dari pinjaman yang diberikan. Bunga dari pinjaman itu tidak sedikit sehingga membuat para usaha kecil dan  menengah juga cukup sulit melunasi.

Pandemi membuat usaha kecil banyak gulung tikar karena sepinya konsumen. Padahal, mereka juga harus mengembalikan pinjaman itu. Walhasil, tidak jarang pengusaha kecil harus merelakan harta bendanya untuk menutup utang dan bunganya. Pekerjaan hilang dan harta pun sirna.

Keempat, dalam sistem ini negara hanya berperan sebagai fasilitator. Maksudnya, negara tidak menyediakan lapangan kerja dengan membuka usaha, tapi negara hanya memfasilitasi atau menghubungkan para pekerja dengan industri. Dengan demikian, negara lagi-lagi terlihat mengikuti permintaan korporat.

Bagaimana Islam Menyelesaikannya?

Masalah pengangguran ini akan mudah diselesaikan oleh Islam sebagai agama yang sempurna. Selain itu, Allah melalui Rasul-Nya sudah berpesan untuk selalu mengambil Islam dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nisa: 65, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Islam memberikan tugas kepada pemimpin untuk mengurusi rakyatnya, termasuk menyediakan lapangan pekerjaan. Diceritakan oleh Anas bin Malik, “Suatu ketika ada pengemis yang datang menemui Rasulullah saw., Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasulullah saw. langsung berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!” Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada Rasulullah, kemudian Rasul menawarkannya kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Rasul menawarkannya kembali. “Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasulullah saw. menyuruh pengemis itu untuk membelanjakannya makanan untuk keluarganya dan selebihnya, Rasul menyuruhnya untuk membeli kapak. Rasulullah saw. bersabda, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua pekan ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya Rasulullah pun memberinya uang untuk ongkos.

Setelah dua pekan pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Lalu Rasulullah menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya, seraya bersabda, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha.” (HR Abu Daud).

Dari hadis tersebut terlihat jelas bagaimana seharusnya seorang pemimpin mengurusi rakyatnya. Ia harus mencari solusi agar rakyat tidak lagi menganggur, meminta-minta, bahkan melakukan kejahatan. Jadi, pemimpin (negara) harus membuka lapangan pekerjaan, menyediakan fasilitas, ataupun memberikan modal (tanpa riba).

Selain itu, negara juga akan membuka iklim investasi di sektor riil dan mengharamkan investasi dan usaha di sektor nonriil. Negara akan menjaga agar tidak ada persaingan yang tidak sehat. Dengan  begitu, rakyat akan mudah mendapatkan pekerjaan yang halal.

Tidak menutup kemungkinan ada orang-orang yang malas dalam berusaha. Negara akan menghadapi mereka dengan memahamkan kewajiban dan kedudukan bekerja bagi laki-laki hingga memberikan keterampilan khusus.

Melihat keseriusan Islam dalam menanggulangi pengangguran, masihkah jika berharap pada sistem demokrasi kapitalisme yang selalu melahirkan musibah tanpa berkah? Wallahualam. [MNews]

Foto sampul: Shutterstock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *