Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA – Saat ini kita tengah berada pada penghujung Ramadan, beberapa hari lagi kita dan keluarga akan sampai pada hari Idulfitri, hari kemenangan. Mari kita bersama-sama menyempurnakan seluruh amal kebaikan pada hari-hari terakhir Ramadan ini dengan penuh kesungguhan.
Semoga masih ada kesempatan bagi kita dan keluarga untuk memaksimalkan amal saleh dan berharap untuk bisa mendapatkan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam lailatulqadar. Sebagaimana yang Allah kabarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Qadr ayat 3,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
“Lailatul Qadr (Malam kemuliaan) itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Rasulullah telah mencontohkan agar memperbanyak amal saleh pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
“Apabila Nabi memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut, dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Masih ada waktu beberapa hari lagi untuk memaksimalkan amal kebaikan, insyaallah.
Ketika kita menapaki akhir Ramadan, ini artinya tidak lama lagi kita akan berjumpa dengan Idulfitri. Ada rasa sukacita dan gembira menyambutnya, tetapi terselip pula rasa sedih karena akan berpisah dengan bulan yang penuh kemuliaan.
Semoga puasa yang kita jalani pada tahun ini membawa keberkahan bagi keluarga kita semua dan makin menguatkan ketakwaan kepada Allah. Pada hari kemenangan ini sejatinya lahir pribadi-pribadi yang bertakwa dan penuh dengan ketaatan kepada Allah sebagai hasil dari pelaksanaan puasa Ramadan sebulan penuh. Sebab, demi mewujudkan takwalah puasa Ramadan diwajibkan atas kita. Allah Swt. berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُون
“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”(QS Al-Baqarah: 183)
Takwa yang diharapkan tentu takwa yang sebenarnya. Demikian sebagaimana yang juga Allah Swt. tuntut atas diri kita.
Kata taqwâ berasal dari kata waqâ. Artinya, “melindungi”. Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah Swt.. Caranya tentu dengan menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya.
Pengertian takwa tersebut sebagaimana dikatakan Thalq bin Habib, seorang tabi’in, salah satu murid Ibnu Abbas ra., “Takwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. berdasarkan cahaya-Nya dengan mengharap pahala-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya-Nya karena takut terhadap azab-Nya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, I/2440)
Di sinilah pentingnya kita dan keluarga untuk mempersiapkan diri pada hari kemenangan karena banyak tuntunan Islam pada awal bulan Syawal atau pada hari Idulfitri ini. Akan tetapi, tidak hanya berhenti pada hari Idulfitri, melainkan juga hari-hari setelahnya. Semoga dengan kita mempersiapkannya, kita dan keluarga bisa terus menjaga ketakwaan kepada Allah yang telah kita bangun ketika menjalani bulan yang mulia ini.
Lalu, apa yang harus kita upayakan? Ada banyak hal yang bisa kita upayakan agar ketakwaan kita dan keluarga semakin meningkat, di antaranya:
1. Mempelajari kembali tuntunan Islam tentang hukum-hukum pada Idulfitri.
Aktivitas pada Idulfitri adalah aktivitas yang istimewa, sebagaimana Ramadan. Karenanya, alangkah baiknya jika sebelum hari kemenangan tiba, kita mempelajari kembali hukum-hukum tentangnya. Dengan ilmu, kita tidak akan ketinggalan satu peluang kebaikan sedikit pun. Ilmu laksana cahaya, akan menerangi ke jalan kebenaran dan akan menyelamatkan dari kemaksiatan.
Sebagaimana kita ketahui, kedudukan ilmu dalam Islam sangatlah penting. Banyak dalil yang menjelaskannya. Firman Allah Swt. yang artinya,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
“Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentangnya, sungguh pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan ditanya.” (QS Al-Isra’: 36)
Rasulullah bersabda, “Barang siapa dikehendaki kebaikan oleh Allah Swt., Dia berikan pemahaman tentang urusan agamanya.” (HR Bukhari Muslim)
Ada kewajiban kita menunaikan zakat fitrah yang disalurkan sebelum salat Idulfitri, dan yang penting pula adalah mencari informasi tentang kapan masuknya awal Syawal yang menjadi pertanda Idulfitri didasarkan rukyatul hilal. Tentang salat Id, Islam mengaturnya dengan sangat rinci, mulai dari jumlah rakaat, jumlah takbir tiap rakaatnya, diutamakan dilakukan di tanah lapang karena berkaitan dengan syiar Islam, serta melalui jalan yang berbeda ketika menuju dan pulang dari tempat sholat. Disunahkan memakai pakaian terbaik, walaupun bukan pakaian yang baru.
2. Memahami kembali bahwa Syawal adalah awal konsistensi ketakwaan kepada Allah.
Sesungguhnya Rasulullah saw. melalui bimbingan wahyu telah menjadikan bulan Syawal sebagai momentum yang tepat untuk menjaga konsistensi ketakwaan umatnya pasca-Ramadan. Beliau mensyariatkan puasa enam hari pada Syawal dan menjelaskan keutamaannya.
Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari ra, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, adalah (puasanya itu) seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim)
Mengerjakan puasa sunah enam hari pada Syawal yang menyertai puasa fardu Ramadan diibaratkan seperti berpuasa sepanjang tahun. Di sinilah sesungguhnya ayah dan ibu memiliki peran besar mengajak keluarganya melanjutkan amalan kebaikan yang sudah dilakukan ketika Ramadan dengan berpuasa sunah 6 hari pada Syawal.
3. Menjaga salat berjemaah dan salat-salat sunah.
Jika Tarawih yang sunah hukumnya tidak ketinggalan dikerjakan secara berjemaah pada Ramadan, salat wajib lima waktu secara berjemaah tentu lebih penting lagi dijaga dan ditingkatkan. Amalan wajib harus diutamakan dari amalan sunah.
Apalagi salat merupakan cahaya dalam kehidupan, karenanya jangan disia-siakan. Bisa dikerjakan secara berjemaah di masjid jika memungkinkan, atau dilakukan di rumah bersama seluruh anggota keluarga.
Demikian halnya salat sunah yang tidak pernah ketinggalan ditunaikan ketika Ramadan, maka selepas Ramadan tentu saja harus makin digencarkan. Setiap anggota keluarga saling mengingatkan. Terlebih ketika tahajud pada sepertiga malam, suami atau istri membangunkan pasangannya, kemudian membangunkan anak-anak sebelum sahur, memanjatkan doa bersama, dilanjutkan salat subuh berjemaah. Tentu hal ini akan semakin menguatkan ikatan keluarga, sekaligus melimpahkan pahala dan keberkahan untuk keluarga.
4. Meneruskan tilawah Al–Qur’an bersama keluarga.
Tilawah dan tadabur Al-Qur’an yang telah rutin dilakukan pada bulan Ramadan, tetap bisa kita amalkan bersama keluarga. Semisal setelah salat subuh atau setelah tahajud, jika pada waktu lain tidak mungkin dilakukan bersama.
Di samping mendapatkan pahala membaca Al-Qur’an, setiap anggota keluarga bisa saling memperbaiki bacaan, dilanjutkan dengan kultum, atau murajaah sehingga dengan kebersamaan ini, makin banyak ilmu yang kita dapatkan, makin baik tilawah dan hafalan kita, keluarga pun makin harmonis, dan ketakwaan kepada Allah makin meningkat.
5. Memperbanyak puasa sunah.
Setelah puasa wajib pada bulan Ramadan, mari dilanjutkan dengan puasa 6 hari pada Syawal. Hendaklah kita mengajak anggota keluarga lainnya untuk menyempurnakannya dengan melakukan amalan puasa sunah. Di antara keutamaannya sebagaimana sabda Nabi saw., “Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …” (HR Tirmidzi)
Puasa dalam hadis ini merupakan perisai seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka.
Keutaman lain dari puasa sunah terdapat dalam hadis qudsi berikut, Allah berfirman,
“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR Bukhari)
6. Memperbanyak amalan sunah lainnya, seperti zikir dan sedekah.
Semoga keluarga kita termasuk orang-orang yang selalu menjaga amalan sunah. Misalnya, dengan banyak berzikir kepada Allah dan bersedekah. Hal ini kita lakukan supaya terlindungi dari segala keburukan dan mendapatkan pahala yang besar. Amalan sunah ini juga akan semakin memperkuat idrak shilah billah sehingga semakin mendekatkan kita kepada Allah dan meningkatkan ketaatan kita kepada Allah Swt..
Kita bisa mengajak keluarga untuk terus membiasakan menyisihkan sebagian harta, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Juga membiasakan membaca zikir pagi dan petang, zikir sebelum tidur, zikir keluar dari rumah, dan sebagainya. Manfaatkan waktu kosong ketika bekerja, berjalan, atau beraktivitas dengan memperbanyak zikir kepada Allah Swt..
7. Semakin giat menuntut ilmu dan menghadiri majelis ilmu.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, apakah mempelajari buku keislaman, ataupun menghadiri majelis ilmu. Terlebih keluarga pengemban dakwah tentu harus meningkatkan kualitas diri, dengan memperkaya tsaqafah dan kemampuan berdakwah. Juga memperbanyak membaca buku, menghafal ayat dan hadis, serta mempelajari berbagai tsaqafah Islam adalah sebagian dari aktivitas yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas kita sebagai pengemban dakwah.
Apalagi jika program ini dilakukan bersama keluarga, tentu akan makin menyenangkan. Selain mendapatkan pemahaman yang lebih banyak, kita juga bisa berdiskusi dengan anggota keluarga lainnya sehingga semakin paham. Dalam momen ini, kita sebagai orang tua akan semakin mudah untuk menguatkan pemahaman anak-anak. Caranya dengan mengikuti kajian rutin bersama sehingga bisa menjadi ajang pembinaan dan menjalin kedekatan di antara anggota keluarga.
6. Terus berjuang menyampaikan dakwah Islam.
Ketika Ramadan, pada umumnya umat berada pada tingkat girah Islam yang tinggi sehingga mudah mengajak umat untuk mengkaji Islam, tentu saja kesempatan ini tidak boleh kita lewatkan. Selepas Ramadan, biasanya girah ini masih melekat.
Inilah saat yang amat mendukung untuk mengajak umat kembali ke jalan Allah Swt. dan memuliakan agama-Nya. Yaitu menyadarkan umat tentang permasalahan besar yang dialami kaum muslimin, yaitu tidak diterapkannya syariat Islam secara kafah dan tidak adanya junnah (perisai) kaum muslimin, yaitu Khilafah. Mari kita menyeru ke jalan Islam, menentang kebijakan penguasa yang zalim dan mengajak umat beserta keluarganya untuk makin giat melakukan amar makruf nahi mungkar.
Demikianlah, banyak aktivitas yang bisa kita dan keluarga lakukan untuk makin menguatkan ketakwaan kepada Allah. Inilah bentuk amal kebaikan yang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw. bersabda, “Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dikerjakan terus menerus meskipun sedikit.” Untuk itu, mari kita terus memelihara ketakwaan kepada Allah dengan terus melaksanakan puasa sunah, salat malam, bersedekah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dakwah, dan aktivitas kebaikan lainnya sebagaimana kita biasa melaksanakannya pada bulan Ramadan.
Kita memohon kepada Allah Swt. agar amalan Ramadan kita, yaitu puasa, salat, sedekah, dakwah, dan sebagainya diterima. Semoga Allah selalu menjaga kita dan keluarga agar berada pada syariat-Nya sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya, selalu memberikan kita taufik, menolong kita untuk istiqomah dalam ketakwaan, menunjuki kita jalan yang lurus, dan melindungi kita dari seluruh hal yang buruk. Aamiin Yaa Mujiibas saailiin. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]
Sumber foto: iStock
