Penulis: Shezan A. Gerung
Muslimah News, DUNIA REMAJA – Sobat muslimah, Ramadan memang selalu menciptakan suasana semarak. Di negeri ini, ada salah satu kebiasaan masyarakat dalam menjalani ibadah puasa, yaitu ngabuburit.
Katanya sih, kata “ngabuburit” itu diterbitkan oleh Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBBS). “Ngabuburit” berasal dari kalimat “ngalantung ngadagoan burit“ yang berarti bersantai sambil menunggu waktu sore.
Seiring berjalannya waktu, kata “ngabuburit” dipakai oleh kaum milenial untuk mengistilahkan kegiatan pada sore hari, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Hem, ternyata sejarahnya begitu, Sobat Muslimah.
Nah, sambil menunggu masuk waktu berbuka puasa, biasanya para remaja melakukan berbagai aktivitas. Ada yang melakukan kegiatan sosial seperti berbagi takjil, bercengkerama di taman, mencari spot keren buat yang hobi fotografi, atau jalan-jalan ke pasar takjil. Kalau mahasiswa sih, biasanya ngabuburit sekalian berburu takjil gratis. Benar apa betul?
Selain kegiatan di luar, banyak juga yang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah. Biasanya, sambil menunggu waktu berbuka, sebagian besar remaja menghabiskan waktu dengan menonton drama korea, nge-game, scrolling media sosial, atau tidur sampai azan magrib terdengar. Katanya sih biar laparnya tidak terasa. Wah!
Buat yang doyan sama drama Korea, jauh-jauh hari sudah membuat daftar film yang bakal dituntaskan. Lain lagi buat yang doyan nge-game, waktunya habis untuk mengejar poin dan jadi pemenang. Kalau lagi suntuk, jenis permainan jadul seperti monopoli dan ular tangga pun jadi asyik. Katanya sih, “Back to the classic! Jadul mantul!”
Waspada Dosa Mengintai
Sobat Muslimah, bulan Ramadan memang beda dari bulan lainnya. Pada bulan ini, kaum muslimin kudu ekstra memanfaatkan waktu. Pasalnya, setiap ibadah yang kita lakukan pada bulan ini, Allah ganjar dengan pahala yang berlipat-ganda. Rugi banget kalau Ramadan berlalu tanpa makna.
Jangan salah, kegiatan ngabuburit meski asalnya boleh-boleh saja, tetapi jika aktivitasnya kumpul-kumpul alias ikhtilat, menghabiskan waktu jalan-jalan berduaan, atau bagi-bagi takjil sambil ikhtilat tipis-tipis, hati-hati! Jangan sampai niat baik kalian malah ternodai dengan aktivitas yang melanggar syariat.
Bagaimana dengan mereka yang menghabiskan waktunya dengan menonton drama korea atau nge-game? Tetap saja sayang banget. Meski aktivitasnya boleh-boleh saja, tetapi yang boleh ini bisa membuat kita lalai dari hal-hal yang wajib. Sayang banget, kan.
Ramadan yang datang hanya sekali setahun, berlalu begitu saja dengan ibadah yang pas-pasan. Lantas, bagaimana sih Rasulullah saw. dan para sahabat mengisi waktu selama Ramadan?
Agar Ramadan Lebih Produktif
Kalau ngomongin masalah Ramadan yang produktif, para sahabat dan ulama layak jadi panutan. Kita akan mendapatkan sederet kisah tentang cara mereka memanfaatkan Ramadan untuk menabung pahala. Kesempatan emas yang Allah berikan tidak berlalu dengan amalan apa adanya.
Dalam masalah khatam Al-Qur’an, misalkan. Rabi bin Sulaiman berkata, “Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadan sebanyak enam puluh kali dan bulan lainnya sebanyak tiga puluh kali.”
Dibandingkan dengan generasi salaf (terdahulu), ibadah kita tentu tidak ada apa-apanya. Malah kita patut insecure dengan kegigihan mereka mengkhatamkan Al-Qur’an. Pada saat kita menyibukkan diri dengan memilih pakaian baru untuk berlebaran, atau ngabuburit mencari hidangan untuk berbuka, maka Sayyidina Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari. MasyaAllah!
Bahkan sebagian sahabat mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh malam pada salat-salat malam mereka. Sementara sebagian salaf juga mengkhatamkan Al-Qur’an pada salat malam setiap tiga malam pada bulan Ramadan. Jauh sekali dengan kita yang hanya bermodal tiga “Qul”.
Demikian juga salah satu ulama terkenal, Qatadah. Beliau mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh malam dan pada bulan Ramadan setiap tiga malam serta setiap malam pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Sementara itu, apabila bulan Ramadan tiba, Sufyan Al-Tsauri meninggalkan segala aktivitasnya dan mulai memfokuskan dirinya membaca Al-Qur’an. Diriwayatkan pula bahwa Al-Walid bin Abdul Malik mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari dan pada bulan Ramadan sebanyak tujuh belas kali.
Mereka khatam Al-Qur’an berkali-kali, sementara remaja saat ini khatam drama korea berkali-kali. Para ulama sibuk mengejar pahala pada bulan Ramadan, eh, remaja kita sibuk mengejar poin di platform game yang ada di dunia maya. Wah, memang timpang banget, ya? Nah, mumpung masih ada kesempatan, mari kita hiasi hari-hari pada bulan Ramadan dengan aktivitas yang lebih bermanfaat.
Mari Berbenah
Belum telat kok untuk berbenah, Sobat Muslimah. Kita kan belum tahu, apa Allah masih memberi kita kesempatan berjumpa dengan Ramadan berikutnya. Ingat, Ramadan adalah bulan istimewa. Banyak kebaikan dan peluang melipat-gandakan pahala di dalamnya.
Lagi pula, Ramadan ini datangnya setahun sekali. Sayang banget untuk dilewatkan. Mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum untuk berbenah. Ngabuburit harus diisi dengan aktivitas yang lebih bermanfaat.
Supaya paham aktivitas apa saja yang bisa mendatangkan pahala, yuk rajin-rajin mendatangi majelis ilmu untuk memahami syariat Islam. Daripada ngabuburit cuma buat seru-seruan, tetapi berujung pelanggaran syariat. Sayang, kan. Jadi, ngabuburit, tetapi berbuah dosa? Jangan sampai, deh![MNews/Rgl]
