Penulis: Arum Harjanti
Muslimah News, KOMENTAR POLITIK — Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan saat ini statistik telah menunjukkan perkembangan positif bagi gender perempuan, baik dari segi angka harapan hidup, indeks pemberdayaan gender, hingga angka investasi ritel.
Bahkan, survei membuktikan proporsi perempuan di posisi strategis perusahaan terus bertumbuh serta terdapat proyeksi tambahan produk domestik bruto (PDB) dunia sebesar USD28 triliun apabila terdapat kesetaraan gender (4/4/2022).
Menurut Destry, hal positif tersebut makin mendefinisikan bahwa peran perempuan sebagai natural born leader memegang keseimbangan di dunia profesional hingga rumah tangga.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komite Tetap Bidang Pendidikan IWAPI & Co-Chair G20 Empower Rina Prihatiningsih mengungkapkan peran Presidensi G20 melalui inisiatif aliansi G20 Empower telah mendorong keterwakilan perempuan di posisi kepemimpinan di sektor swasta dan publik guna mewujudkan keberagaman, inklusivitas, dan kekuatan ketahanan ekonomi yang berkelanjutan.
Terdapat lima indikator G20 Empower, yaitu peran seimbang lelaki perempuan, persentase perempuan yang dipromosikan dalam posisi tertentu, total kesenjangan remunerasi, persentase perempuan dalam jajaran direksi, dan persentase terkait pekerjaan teknis.
Lebih jauh ia mengungkapkan, “Dengan kesetaraan, kebijakan yang diambil akan berpihak pada para perempuan sehingga perempuan semakin terlindungi.”[1]
Komentar
Kesetaraan gender sungguh telah menjadi kalimat sakti yang dikampanyekan ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, sebagai solusi persoalan perempuan. Tidak hanya itu, partisipasi perempuan dalam dunia kerja bahkan dianggap dapat meningkatkan PDB dunia!
Berbagai narasi sejatinya menunjukkan dunia telah menjadikan perempuan sebagai tumbal pertumbuhan ekonomi dunia. Perempuan sengaja diposisikan sebagai pendongkrak ekonomi, bahkan hanya dihargai ketika berperan serta dalam proses produksi.
Kesejahteraan gender sesungguhnya menyimpan bom waktu yang mengancam keutuhan keluarga. Peran strategis perempuan sebagai istri, ibu, dan pendidik generasi tergerus, bahkan terpinggirkan. Alih-alih didukung untuk menyiapkan generasi berkualitas, perempuan justru diposisikan sebagai penghasil materi sebagaimana laki-laki, terancam kekerasan di tempat kerja, dan mendapat gaji lebih rendah.
Padahal, sejatinya peran strategis laki-laki juga terlecehkan ketika peran sebagai pencari nafkah beralih kepada perempuan. Manusia telah memutarbalikkan ketetapan Allah yang memberikan peran berbeda antara laki-laki dan perempuan sesuai jenisnya masing-masing. Dengan lantang kaum feminis menyatakan pekerjaan perawatan dan pengasuhan perempuan dalam keluarga sebagai aktivitas yang membuat dunia mengalami kerugian finansial.
Laporan sebuah lembaga konsultan internasional McKinsey menyebutkan apabila suatu negara tidak menciptakan lingkungan yang setara seperti kesetaraan gender, USD12 triliun “kue ekonomi” akan hilang atau kira-kira 16,5% dari total ekonomi global setara 8 kali ekonomi Indonesia.[2]
Inilah akibat persekongkolan kapitalisme dan kesetaraan gender. Perempuan mendapatkan beban ganda, laki-laki justru dilemahkan perannya sebagai kepala keluarga. Pengabaian peran utama ibu sebagai pendidik anak yang pertama dan utama akan berdampak buruk terhadap pembentukan kepribadian anak. Inilah tata kelola ala kapitalisme yang menjadikan materi sebagai hal utama.
—
Sesungguhnya, ketetapan Allah akan peran yang berbeda adalah satu keniscayaan sesuai kodrat manusia demi terwujudnya keharmonisan kehidupan. Meski demikian, sebagai manusia, Allah tidak membedakannya, bahkan menempatkan ketakwaan sebagai unsur kemuliaan yang utama.
Islam membolehkan perempuan bekerja sepanjang sesuai tuntunan syariat. Pada saat yang sama, Islam meletakkan tanggung jawab pengasuhan anak kepada orang tua, baik ayah maupun Ibu, dengan menjadikan laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah, serta perempuan sebagai pendidik generasi.
Islam juga menjadikan negara sebagai pihak penjamin nafkah dalam kondisi tertentu agar ibu bisa optimal melaksanakan fungsinya. Dengan demikian kehidupan berjalan selaras dan harmonis sesuai tanggung jawab masing-masing disertai dukungan negara.
Tidak akan terjadi kasus ibu menggorok anaknya sendiri karena putus asa akan problem kemiskinan yang membelitnya. Ini karena Islam mengharuskan negara menjamin kebutuhan pokok rakyat, individu per individu, sehingga kesejahteraan rakyat adalah keniscayaan. Wallahualam. [MNews/Gz]
[1] https://www.medcom.id/ekonomi/global/Gbma9vyb-bi-berkat-kesetaraan-gender-pdb-dunia-diproyeksi-dapat-tambahan-usd28-triliun
[2] https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/ini-pentingnya-kesetaraan-gender-untuk-sebuah-negara/
