Nusaibah Ummu Imarah dan Militansi Muslimah Zaman Now

Nusaibah Ummu Imarah dan Militansi Muslimah Zaman Now

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Beliau dikenal dengan julukan Ummu Umara atau Ummu Imarah. Beliau adalah anak Kaab bin Amr dan Rabbab binti Abdullah bin Habib. Ia memiliki dua orang saudara yaitu Abdullah bin Kaab dan Abu Laila Abdurrahman bin Kaab. Nusaibah menikah dengan Zaid bin Asim. Dari pernikahannya, ia memiliki dua orang anak yaitu Abdullah dan Habib.

Pada suatu hari, Zaid pulang dengan gembira. Zaid bercerita, bahwa ia baru saja mendengar kabar dari Mush’ab bin Umair, seorang penduduk Makkah utusan Muhammad bin Abdullah, tentang bangkitnya seorang Rasul di kalangan kaum Quraisy. Ia bercerita tentang Muhammad saw., sang Rasul yang tetap tegar berdakwah walaupun dimusuhi kaumnya. Muhammad juga tidak tergiur dengan harta dan kedudukan yang ditawarkan kepadanya.

Cerita itu sangat menyentuh hati Zaid. Kemudian Zaid berkata, ”Demi Allah, saya tidak hanya heran mendengar cerita itu, tetapi saya beriman dan bersaksi bahwa tidak ada illah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Andaikata kedua telingamu mendengarkan cerita Mush’ab tentang Muhammad dan dakwahnya, niscaya engkau tidak akan mengingkarinya.”

 Mendengar perkataan suaminya, hati Nusaibah tergerak. Kemudian dengan penuh keharuan ia berkata, “Saya beriman kepada Allah sebagai illah dan Muhammad sebagai Nabi.” Kemudian keduanya berjanji untuk melakukan baiat pada musim haji yang akan tiba beberapa saat kemudian.

Saat musim haji tiba, rombongan dari Madinah datang ke Makkah. Mereka kemudian dipertemukan oleh Mush’ab dengan Rasulullah dan melakukan baiat. Nusaibah dan suaminya termasuk orang yang ikut berbaiat kepada Nabi dalam keheningan malam di Aqabah.

Setelah peristiwa itu, Nusaibah dan suaminya beserta rombongan dari Madinah kembali pulang. Beberapa saat kemudian, Rasulullah berhijrah ke Madinah dan menjadikan Madinah sebagai pusat dakwah dan pemerintahan. Nusaibah, suami, dan kedua putranya adalah orang-orang yang senantiasa istikamah dengan keimanan mereka dan membantu dakwah Rasulullah.

Saat Perang Badar, Abdullah putranya ikut berjuang dengan gagah berani menegakkan panji-panji Islam sampai umat Islam mendapat kemenangan. Tidak lama setelah kembalinya pasukan dari Perang Badar, Zaid meninggal dunia. Nusaibah kemudian dilamar oleh Ghaziyah bin Amr. Dari pernikahannya dengan Ghaziyah, Nusaibah mempunyai dua orang anak yaitu Tamim dan Khawlah.

Kesibukan Nusaibah mengurus rumah tangga, suami dan anak-anaknya tidak membuatnya mengurangi perannya dalam dakwah dan perjuangan umat Islam. Nusaibah bersama suami dan putra-putranya pun ikut dalam berbagai peristiwa penting, seperti Perang Uhud, Peristiwa Hudaibiah, Perang Khaibar, Perang Hunain, dan Perang Yamamah.

Dalam berbagai pertempuran itu, Nusaibah tidak hanya membantu mengurus logistik dan merawat orang-orang yang terluka, ia juga terjun ke medan perang dan mengangkat senjata untuk melindungi Rasulullah saw. hingga Nusaibah terkenal dengan julukan “Sang Perisai Rasulullah saw.”.

Waktu perang Uhud, Nusaibah keluar memberi minum kepada pasukan muslimin yang kehausan dan merawat mereka yang mendapat luka. Ketika tentara Islam terlalaikan oleh ganimah yang ditinggalkan musuh lalu terdesak dan lari dari medan perang hingga cuma ada seratus orang saja yang bertahan, Nusaibah pun menjadi salah seorang yang menghunuskan pedang serta memakai perisai untuk melindungi Rasulullah dari sasaran musuh.

Nusaibah saat itu berperang dengan gagah berani di sisi Rasulullah dan melindungi beliau. Nusaibah tetap siaga, lincah bergerak ke sana ke mari bersama putranya. Bahkan dikatakan sampai para sahabat Rasul saw. malu menyadari bahwa mereka kalah tegar, kalah gagah dan kalah perkasa pada waktu itu bila dibandingkan beliau yang perempuan. Masyaallah!

Pada perang ini, Nusaibah menderita dua belas luka pada tubuhnya dengan luka paling parah di bagian leher. Kesungguhan Nusaibah melindungi Rasulullah begitu hebat, hingga Rasulullah berkata, “Aku tidak menoleh ke kiri dan ke kanan kecuali melihat Ummu Imarah (Nusaibah) berperang di hadapanku.”

Ketika itu, anaknya Abdullah luka parah ditikam musuh. Dia mengikat luka anaknya lalu berkata, “Bangun, wahai anakku.” Anaknya itu terus bangun dan melawan tentara musuh. Rasulullah yang melihat peristiwa itu merasa terharu. “Wahai Ummu Imarah, siapakah yang mampu berbuat seperti mana yang engkau lakukan?” kata Rasulullah kepadanya. Ketika tentara musuh yang menikam anaknya itu menghampiri, Rasulullah berkata kepadanya, “Ini dia orang yang telah melukakan anakmu.”

Nusaibah menghampiri orang itu dan menikam betisnya dengan pedang. “Ya, Ummu Imarah! Engkau berjaya membalasnya,” kata Rasulullah sambil tersenyum melihat kesungguhan Nusaibah. Kemudian, Nusaibah dengan bantuan beberapa tentara muslimin berjaya membunuh orang itu. Melihat keadaan ini, Rasulullah berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menenangkanmu dan menggembirakan hatimu daripada musuhmu serta memperlihatkan balas dendammu di hadapanmu.”

Ketika Perang Uhud, Nusaibah mengalami luka yang banyak, terutamanya di bagian bahu. Rasulullah memeriksa lukanya lalu meminta Abdullah, anak Nusaibah, untuk mengikat luka tersebut sambil berkata, “Semoga Allah sentiasa memberkati dan merahmati kamu semua.” Nusaibah mendengar kata-kata Rasulullah itu. “Ya Rasulullah! Mohonlah kepada Allah agar kami boleh menemanimu di surga nanti,” kata Nusaibah. Maka Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah! Jadikanlah mereka semua ini orang-orang yang menemaniku di surga kelak.” Nusaibah lalu menjawab, “Aku tidak akan mengeluh setiap musibah yang menimpa diriku di dunia ini.”

Setelah Rasulullah saw. meninggal dunia, sebagian kaum muslimin kembali murtad dan enggan berzakat. Abu Bakar ash-Shiddiq yang menjadi Khalifah pada waktu itu segera membentuk pasukan untuk memerangi mereka. Abu Bakar mengirim surat kepada Musailamah dan menunjuk Habib sebagai utusannya.

Maka bersegeralah Ummu Imarah mendatangi Abu Bakar dan meminta izin kepada beliau untuk begabung bersama pasukan yang akan memerangi orang-orang yang mutad dari Islam.

Abu Bakar ash-Shiddiq bekata kepadanya, “Sungguh aku telah mengakui peranmu di dalam perang Islam maka berangkatlah dengan nama Allah.” Maka beliau berangkat bersama putranya yang bernama Hubaib bin Zaid bin Ashim.

Di dalam perang ini Ummu Imarah mendapatkan ujian yang berat. Pada perang tesebut putranya tertawan oleh Musailamah al-Kadzab dan ia disiksa dengan bebagai macam siksaan agar mau mengakui kenabian Musailamah al-Kadzab. Akan tetapi, bagi putra Ummu Imarah yang telah terbiasa dididik untuk bersabar tatkala berperang dan telah dididik agar cinta kepada kematian syahid, ia tidak kenal kompromi sekalipun diancam kematian.

Bahkan, ketika Musailamah memerintahkan Habib untuk menyatakan bahwa ia adalah utusan Allah, Habib menolaknya dengan berpura-pura tuli. Inilah dialog antara dia dengan Musailamah. Kata Musailamah: “Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?“ Hubaib berkata: “Ya Musailamah, Engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah? Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan itu!” Musailamah pun marah dan akhirnya menyiksa Habib dengan memotong anggota tubuhnya satu persatu sampai syahid.

Meninggalnya Habib tentu saja meninggalkan luka yang dalam di hati Nusaibah. Ummu Imarah pun ikut serta dalam Perang Yamamah besama putranya yang lain, yaitu Abdullah. Beliau bertekad untuk dapat membunuh Musailamah dengan tangannya sebagai balasan bagi Musailamah yang telah membunuh Hubaib.

Akan tetapi, takdir Allah menghendaki lain, yaitu bahwa yang mampu membunuh Musailamah adalah putra beliau yang satunya, Abdullah. Ia membalas Musailamah yang telah membunuh saudara kandungnya. Tatkala membunuh Musailamah, Abdullah bekeja sama dengan Wahsyi bin Harb.

Ummu Imarah pun mengetahui kematian si Thaghut al-Kadzdzab maka beliau pun bersujud syukur kepada Allah. Ummu Imarah pulang dari peperangan dengan membawa dua belas luka pada tubuhnya setelah kehilangan satu tangannya dan kehilangan anaknya yang terakhir yaitu Abdullah. Sungguh kaum muslimin pada masanya mengetahui kedudukan beliau. Beliau wafat beberapa tahun kemudian setelah peristiwa Perang Yamamah ini.

Sungguh, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sosok Nusaibah. Beliau bukanlah sosok perempuan biasa. Kecintaan beliau pada surga menghantarkannya menjadi wanita Ansar pertama yang beriman pada Rasulullah, istikamah berjuang demi Islam dengan segenap jiwa dan raganya. Sebagai istri, beliau berhasil mendukung perjuangan suami-suaminya dan menghantarkan mereka kepada kesyahidan. Sebagai ibu, beliau tampil sebagai teladan dan berhasil mencetak generasi terbaik yang berkontribusi besar pada perjuangan Islam.

Kecerdasan dan ketangguhan beliau nampak dalam setiap aktivitas yang senantiasa bertarget, dan disiapkan dengan cermat demi mengarah pada tujuan yang jelas, yakni ditujukan demi keridaan Allah dan meraih kemenangan Islam. Beliau tidak pernah melewatkan sedikitpun peluang atau kesempatan yang sudah diberikan Allah untuk mendapatkan pahala, kemuliaan, dan surga Firdaus karena kesadaran bahwa kesempatan belum tentu datang untuk kedua kalinya.

Beliau senantiasa ada di barisan terdepan perjuangan dan seakan tidak rela jika termasuk orang yang tertinggal. Beliau juga seolah tidak rela jika posisi/kesempatan berharga tersebut digantikan oleh orang lain sehingga nampak beliau tidak pernah memilih atau mengambil bagian yang teringan dari perjuangan. Beliau juga bukan perempuan cengeng yang mudah lemah menghadapi situasi sesulit apa pun. Hal ini nampak ketika di Perang Uhud, beliau terluka dengan 13 tusukan.

Jika dibayangkan, saat satu demi satu tubuhnya terkena tusukan senjata musuh itu, tentu beliau merasakan sakit yang amat sangat. Akan tetapi, itu tidak menjadikan beliau mundur dari gelanggang peperangan.

Dikatakan bahwa salah satu lukanya sangat parah, yakni luka di bahu/dekat leher dan memerlukan penyembuhan hingga satu tahun. Namun, pengalamannya ini tidak membuatnya mundur atau kapok untuk berjuang. Bahkan, sebelum lukanya benar-benar sembuh, beliau ikut dalam perjuangan-perjuangan lainnya, hingga di Perang Yamamah beliau mendapatkan 11 luka dan lengannya terputus.

Subhanallah, alangkah besar kecintaannya pada surga, hingga apa pun bisa dikalahkannya. Lantas, seberapa besar arti surga bagi kita hingga belum cukup termotivasi untuk maksimal berjuang demi Islam? Wallahualam. [MNews/Has]

Share

One thought on “Nusaibah Ummu Imarah dan Militansi Muslimah Zaman Now”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *