[Nafsiyah] Terlempar dari Poros Islam

[Nafsiyah] Terlempar dari Poros Islam

Muslimah News, NAFSIYAH — Orientasi hidup setiap orang tentu berbeda-beda. Hal ini terkait dengan apa yang dijadikan sebagai poros aktivitas. Sementara hal-hal lain berputar mengikuti poros aktivitas itu. Saat seseorang beraktivitas, kemudian aktivitasnya yang lain berbenturan dengan poros aktivitas, hakikatnya aktivitas lain itu tidak bisa berputar bersama poros.

Seorang muslim diperintahkan dalam Islam untuk berputar sebagaimana perputaran poros Islam. Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah sesungguhnya poros Islam selalu berputar maka berputarlah sebagaimana ia berputar.” (HR Thabrani)

Melalui hadis di atas, Rasul saw. memerintahkan kaum muslim agar berputar mengikuti perputaran Islam dalam berbagai aktivitasnya. Menjadikan Islam sebagai poros aktivitas atau kehidupan kita. Maksud dari menjadikan Islam sebagai poros ialah beraktivitas sesuai dengan ketentuan-ketentuan Islam.

Oleh karena itu, seorang muslim wajib terikat dengan Islam dan memperjuangkan penerapan Islam. Sebab hal itu merupakan poros hidupnya. Aktivitas apapun yang memalingkannya dari poros Islam harus dikesampingkan. Misal, jika aktivitas kerja atau kesibukan yang lain membuat aktivitas dakwah terganggu bahkan tidak bisa menjalankan aktivitas dakwah. Aktivitas kerja itu harus ditinggalkan dan mencari pekerjaan atau sumber penghasilan lainnya yang dapat disinergikan dengan orientasi dakwah.

Terlemparnya seseorang dari poros Islam tidak terjadi tiba-tiba, melainkan terjadi secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dan sering tidak terasa. Ia baru menyadari ketika telah jauh dari poros dan tidak terasa adanya tarikan gravitasi dari poros.

Diantaranya karena tenggelam dalam aktivitas dan jarang melakukan introspeksi, mengukur seberapa kuat ikatan gravitasi dengan poros aktivitas. Hal ini tentu akan semakin memperparah kondisi dan mendukung terlemparnya seseorang dari poros Islam.

Disinilah pentingnya sahabat seperjuangan yang senantiasa mengingatkan kita agar tetap berputar sesuai perputaran poros Islam dan tidak terlempar darinya. Sahabat yang bisa diharapkan berperan, tak lain adalah orang-orang yang berorientasi pada poros yang sama.

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw., bersabda, “Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dengan demikian, seharusnya seorang muslim mengatur berbagai aktivitasnya agar berputar sesuai dengan poros Islam. Hidupnya akan terarah dan fokus pada tujuan mulia yakni meraih rida Allah Swt.. Ia tidak mudah terombang-ambing karena pengaruh sistem sekuler. Menjadi muslim ideologis berporos Islam. Wallahualam. [MNews/Rndy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *