Jangan Lupakan Adab terhadap Orang Tua

Jangan Lupakan Adab terhadap Orang Tua

Penulis: Ummu Naira Asfa (Forum Muslimah Indonesia)

Muslimah News, KELUARGA—Rodiah (72), warga Kampung Gudang Huut RT 03/RW 03, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, dilaporkan ke Mapolrestro Bekasi atas tuduhan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dan atau Pasal 385 KUHP tentang Penyerobotan Tanah oleh kelima anak kandungnya (beritasatu, 2/12/2021). Di usianya yang sudah senja, Rodiah harus melewati masa sulit seperti ini. Sungguh miris. Kasus serupa banyak terjadi. Kenapa sampai muncul kasus seperti ini?

Penyebabnya adalah kurangnya pendidikan adab anak terhadap orang tua. Adab sangat penting dan utama dalam proses pembentukan kepribadian anak. Kita harus memperhatikan hal ini dan jangan sampai terlewat menanamkan pemahaman adab yang baik pada diri anak. Sebab, sepintar-pintarnya seorang anak, jika kurang adabnya maka bisa menimbulkan celaka bagi diri dan orang tuanya seperti yang dialami oleh Ibu Rodiah di Bekasi. Na’uzubillahi mindzalik.

Berikut beberapa adab anak kepada orang tua yang perlu diperhatikan dan diajarkan.

Pertama, memandang dengan lembut. Anak selayaknya memandang orang tua dengan tatapan lembut dan sopan, bukan dengan tatapan yang tajam dan tidak menyenangkan.

Kedua, berbicara dengan mendahulukan yang lebih tua. Hal ini akan menyenangkan hati orang tua kita. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

كُنَّا عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَأُتِىَ بِجُمَّارٍ فَقَالَ « إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ » . فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِىَ النَّخْلَةُ ، فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ فَسَكَتُّ ، قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « هِىَ النَّخْلَةُ »

“Dulu kami berada di sisi Nabi saw., kemudian didatangkanlah bagian dalam pohon kurma.  Lalu beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya di antara pohon adalah pohon yang menjadi permisalan bagi seorang muslim.’ Aku (Ibnu ‘Umar) sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma. Namun, karena masih kecil, aku lantas diam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Itu adalah pohon kurma’.” (HR Bukhari no. 72 dan Muslim no. 2811)

Ketiga, berbicara dengan sopan santun. Hendaknya anak berbicara kepada orang tua dengan nada yang lembut dan sopan, bukan dengan nada tinggi dan membentak.

Dari Al Musawwir bin Makhramah ra. tentang sahabat Rasulullah terhadap Rasul ketika berbicara,

وإذا تكَلَّمَ خَفَضُوا أصواتَهم عندَه ، وما يُحِدُّون إليه النظرَ؛ تعظيمًا له

“Jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah.” (HR Bukhari no. 2731).

Keempat, tidak berdiri dan duduk di depan orang tua. Dari Jabir bin Abdillah ra.:

اشتكى رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فصلينا وراءَه وهو قاعدٌ, وأبو بكرٍ يُسْمِعُ الناسَ تكبيرَه, فالتفتَ إلينا فرآنا قيامًا فأشار إلينا فقعدنا, فصلينا بصلاتِه قعودًا. فلما سلَّمَ قال: إن كدتُم آنفًا لتفعلون فعلَ فارسَ والرومِ, يقومون على ملوكِهم وهم قعودٌ. فلا تفعلوا. ائتموا بأئمَّتِكم. إن صلى قائمًا فصلوا قيامًا وإن صلى قاعدًا فصلوا قعودًا

“Rasulullah saw. mengaduh (karena sakit), ketika itu kami salat bermakmum di belakang beliau, sedangkan beliau dalam keadaan duduk, dan Abu Bakar memperdengarkan takbirnya kepada orang-orang. Lalu beliau menoleh kepada kami, maka beliau melihat kami salat dalam keadaan berdiri. Lalu beliau memberi isyarat kepada kami untuk duduk, lalu kami salat dengan mengikuti salatnya dalam keadaan duduk. Ketika beliau mengucapkan salam, maka beliau bersabda, ‘Kalian baru saja hampir melakukan perbuatan kaum Persia dan Romawi, mereka berdiri di hadapan raja mereka, sedangkan mereka dalam keadaan duduk, maka janganlah kalian melakukannya. Berimamlah dengan imam kalian. Jika dia salat dalam keadaan berdiri, maka salatlah kalian dalam keadaan berdiri, dan jika dia salat dalam keadaan duduk, maka kalian salatlah dalam keadaan duduk.” (HR Muslim, no. 413).

Kelima, mendahulukan orang tua. Rasulullah saw. pernah bercerita tentang tiga orang pemuda yang terjebak di dalam gua. Salah satunya pun berdoa kepada Allah dan bertawasul bahwa ia selalu mendahulukan untuk memberi susu kepada orang tuanya sebelum memberikannya pada anak-anaknya sendiri. (lihat HR Bukhari no. 5974 dan Muslim no. 2743)

Belajar menerapkan adab-adab baik tersebut di era sekarang adalah hal yang luar biasa karena seperti melawan arus zaman. Sistem kehidupan sekuler saat ini bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Arus zaman sistem sekuler membentuk mental anak-anak milenial yang kurang adab kepada guru dan orang tua.

Pembentukan karakter di dunia pendidikan masih sekadar ilmu di atas kertas dan minim penerapan. Selain disebabkan konsepnya yang kurang mengakar dan mendasar, juga disebabkan karena kurangnya contoh dari guru dan orang tua maka persoalan adab ini menjadi PR kita bersama. Sudah saatnya kita kembali kepada sistem pendidikan Islam kafah yang mengedepankan adab sebelum ilmu, membentuk generasi yang berakhlak mulia dan terdidik. Wallahualam. [MNews/Has]

Sumber foto: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *