Penulis: Nisa Utami
Muslimah News, REMAJA – Hai, Bestie…. Pernah enggak sih kalian merasa cepat capek, padahal enggak ngapa-ngapain? Atau, baru beres-beres kamar bentar aja pinggang rasanya sudah encok kayak nenek-nenek? Umur masih muda, tetapi kenapa jadi “jompo” begini? Kira-kira kenapa, ya?
Sadar enggak sih, kalau perkembangan teknologi pada era kapitalisme ini tuh punya imbas juga buat kesehatan remaja?
Sedentary Lifestyle
Menurut Frontiers Media (salah satu International Public Health Journal), perkembangan teknologi dapat menimbulkan gaya hidup sedenter (sedentary lifestyle), karena segala aktivitas hidup sehari-hari menjadi lebih minimal upaya. Sedentary lifestyle ini menjadi masalah di dunia karena berkurangnya lahan untuk melakukan aktifitas fisik akibat pembangunan tempat tinggal yang masif, serta adanya pengaruh yang besar dari televisi atau perangkat video (www.ncbi.nlm.nih.gov).
Pola hidup seperti ini bisa kita temui pada remaja zaman sekarang yang sering disebut kaum rebahan dengan ciri khas mager (malas gerak). Bagaimana enggak mager, kalau sekarang semuanya bisa serba instan dan praktis?
Dulu, kalau kita mau makan harus keluar rumah dulu buat ke warung makan. Sekarang dengan aplikasi ojek online, makanan datang sendiri sementara kita bisa menunggu sambil rebahan di rumah.
Dulu kalau mau ketemu orang harus jauh-jauh ketemuan. Sekarang kita tinggal video call aja sudah bisa bertatap muka langsung lewat layar gawai.
Di satu sisi, perkembangan teknologi ini memang membuat segalanya lebih praktis. Namun di sisi lain, ternyata ada bahaya yang mengintai!
Bahaya Mager, Buah Kapitalisme
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sedentary lifestyle merupakan 10 penyebab kematian dan disabilitas tertinggi di dunia (www.who.int). Sedentary lifestyle meningkatkan risiko hingga dua kali lipat seseorang dapat terkena penyakit jantung, diabetes, obesitas, kanker usus besar, tekanan darah tinggi, osteoporosis, dan kolesterol tinggi. Selain itu, ia bisa juga membuat seseorang jatuh pada depresi dan gangguan kecemasan. Wah, ngeri juga ya, bestie!
Kok bisa sih mager aja bisa bikin penyakit begitu banyaknya? Sebenarnya penjelasan medisnya panjang banget, tetapi kurang lebih begini:
Ketika kita gak banyak melakukan gerak tubuh, “mesin” metabolisme juga melambat. Akhirnya berpengaruh pada pemecahan lemak tubuh, protein, dan karbohidrat yang kita makan.
Nah, penurunan metabolisme ini menyebabkan jantung memompa lebih sedikit darah sehingga dapat berpengaruh pada sistem saraf pusat, sistem pembuluh darah, dan menurunkan hormon insulin (mengatur kadar gula darah). Lebih parah lagi, kondisi ini akan memicu beberapa hormon yang justru dapat menyebabkan kanker. Naudzubillah….
Hal yang membuat prihatin adalah jumlah orang yang mengalaminya ternyata banyak! Masih menurut WHO, jumlah kematian karena minimnya aktivitas fisik mencapai 2 juta jiwa. Sebanyak 60-80% orang di dunia, baik dari negara maju atau berkembang, memiliki sedentary lifestyle. Lebih spesifik lagi, bahwa satu dari 3 remaja berusia 15 tahun ke atas memiliki gaya hidup yang kurang aktif ini (www.ncbi.nlm.nih.gov).
Dari data-data ini menunjukkan pada kita bahwa kaum rebahan ini cukup banyak di dunia dan harus segera melakukan perubahan agar gak kena efek negatifnya.
Jika kita amati lagi, kemajuan teknologi yang malah menyebabkan sedentary lifestyle tidak terlepas dari sistem kapitalisme yang dianut sebagian besar negara di dunia saat ini. Sistem Kapitalisme menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama sehingga terbiasa mencari solusi yang serba instan dan pragmatis. Alhasil, kemajuan teknologi yang terbukti dapat menghemat waktu dan tenaga, malah dipakai untuk bersantai-santai yang pada akhirnya berimplikasi pada kesehatan.
Islam, Beda!
Hal ini sangat berbeda dengan sistem kehidupan Islam. Ketika teknologi itu dapat mempersingkat waktu dan tenaga, maka sisa waktu yang tersisa digunakan untuk beribadah dan menciptakan karya selanjutnya. Akidah Islam selalu mendorong umatnya, bahwa hidup di dunia ini bukan untuk bersenang-senang semata. Kita hidup di dunia untuk beribadah dan menjadi sebaik-baiknya umat.
Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih disukai oleh Allah Swt. dari pada orang mukmin yang lemah.” (HR Muslim)
Pola hidup sedenter membuat tubuh remaja menjadi “jompo” lebih cepat sehingga menyebabkan ibadah terganggu. Hal ini sangat bertolak belakang dengan gambaran kaum remaja muslim pada masa pemerintahan Islam yang bugar dan sehat jasmani. Karena itulah, Islam menaruh perhatian khusus pada olahraga dan aktivitas fisik dalam ajarannya.
Selain itu, dalam pandangan Islam, olahraga merupakan media persiapan yang menguatkan kaum muslim untuk berjihad di jalan Allah. Ketika melaksanakan perang, kita butuh tubuh yang bugar, kelincahan berkuda, dan penguasaan panah. Hal ini dapat ditempuh dengan olahraga sebagai sarana persiapannya.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS Al-Anfal [8]: 60)
Pola kehidupan sedenter dengan semua risiko kesehatan yang ditimbulkan, adalah buah dari kapitalisme. Dengan sistem kehidupan Islam, olah raga dilakukan dengan tujuan ibadah, bukan sekadar menguruskan badan supaya tampak lebih langsing. Sudah saatnya kita melakukan uninstall sistem kapitalisme dan meng-install ulang sistem kehidupan Islam yang terbukti menyejahterakan. [MNews/Rgl]
