Penulis: Nida Alkhair
Muslimah News, OPINI — Aksi “buang dolar” alias Local Currency Settlement (LCS) kini banyak dilakukan negara-negara di dunia. LCS adalah penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.
Melalui LCS, ketika negara ingin melakukan aktivitas ekspor dan impor tidak perlu menukarkan uang ke dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini berdampak pada berkurangnya kebutuhan terhadap dolar AS sehingga mengurangi ketergantungan terhadapnya.
LCS dipandang penting untuk pemulihan ekonomi. Strategi ini juga ditujukan untuk mengurangi risiko akibat guncangan ekonomi global yang bermuara pada ketidakstabilan keuangan.
Indonesia telah menjalin kesepakatan LCS dengan beberapa negara lain, yaitu Cina, Jepang, Malaysia, dan Thailand. Sepanjang tahun 2021, transaksi LCS Indonesia mencapai USD2,53 miliar atau Rp36,18 triliun (asumsi kurs Rp14.300).
Ke depan, Indonesia akan mengajak negara lagi untuk melakukan kerjasama LCS. Selain Indonesia, Cina juga gencar mengajak kerja sama LCS, yakni pada negara-negara G20.
Tidak Efektif
Sayangnya, strategi “buang dolar” ini tidak cukup efektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar. Memang betul, kebijakan LCS yang dilakukan banyak negara mampu membuat porsi dolar AS di cadangan devisa global menurun hingga ke level terendah dalam 25 tahun terakhir. Namun, berdasarkan data IMF, ternyata porsi dolar AS masih jauh lebih besar daripada mata uang lainnya.
Hingga 2021, persentase dolar AS di cadangan devisa global masih di atas 50%, sementara mata uang terbesar kedua yakni euro hanya sekitar 20%. Artinya, dolar AS masih merajai cadangan devisa global.
Tidak signifikannya pengaruh LCS terhadap dolar AS disebabkan kecilnya penggunaan mata uang selain dolar dalam transaksi perdagangan internasional. Pengusaha umumnya cenderung memilih dolar AS karena negara juga tidak mewajibkan mereka untuk meninggalkan dolar. Pembayaran utang luar negeri juga masih menggunakan dolar AS. Walhasil, penggunaan dolar masih mendominasi transaksi internasional.
Bahkan seandainya kerja sama LCS dengan salah satu negara bermata uang kuat, misalnya Cina, berlangsung masif dan berpengaruh signifikan terhadap dolar AS, hal ini juga tidak akan berdampak positif bagi Indonesia. Sebab, hanya mengalihkan dari dolar ke yuan. Hal ini akan memindahkan dari satu ketidakpastian ekonomi ke ketidakpastian ekonomi lainnya, karena secara umum sentimen global memang mengarah pada ketidakstabilan ekonomi.
Selain, tentu saja, Paman Sam tidak akan tinggal diam melihatnya, pasti akan ada teguran ekonomi bagi negara yang berani-beraninya mencampakkan dolar.
Tinggalkan Fiat Money
Jika memang Indonesia sudah jengah dengan ketidakstabilan ekonomi yang disebabkan dominasi dolar AS, langkah yang efektif bukanlah pindah ke yen, yuan, euro, atau yang lainnya, melainkan hijrah meninggalkan fiat money (sistem uang kertas) secara kafah. Selanjutnya berganti menggunakan sistem uang emas dan perak, yakni dinar dan dirham.
Perlu kita ingat kembali bahwa ketidakstabilan mata uang dunia diawali pada tahun 1971, ketika AS mengumumkan berakhirnya Bretton Woods Agreement. Sejakitudolar AS terlepas sama sekali dari standar emas dan menjadi fiat money. Dunia semuanya menggunakan fiat money dan menjadikan dolar AS sebagai standar mata uang global.
Dolar pun merajai transaksi internasional. Apalagi dengan dikukuhkannya IMF (International Monetary Fund) dan World Bank sebagai lembaga keuangan dunia, takhta dolar sebagai sang raja mata uang makin tidak tergoyahkan hingga saat ini.
Namun, sistem fiat money berdampak buruk pada ekonomi global. Ketidakstabilan terus terjadi, krisis demi krisis terus menghantam dunia, karena mata uang yang dipakai tidak bersandar pada zat yang bernilai, melainkan hanya selembar kertas. Sistem uang kertas ini mudah diguncang dengan isu-isu terkait trust (kepercayaan) sehingga tidak pernah stabil. Krisis moneter tahun 1998 adalah bukti rentannya sistem fiat money terhadap isu yang menyerang trust.
Ganti dengan Sistem Dinar dan Dirham
Solusi atas kemelut fiat money adalah berhijrah ke sistem mata uang emas dan perak, yaitu dinar dan dirham. Maksudnya adalah menggunakan emas dan perak sebagai standar satuan uang. Kedua logam ini dapat digunakan sebagai mata uang tanpa batasan bentuk.
Sistem emas dan perak telah jamak digunakan di dunia sebelum akhirnya diganti sistem fiat money. Pemerintahan Islam, yakni Khilafah, juga menggunakan sistem mata uang emas dan perak.
Sistem emas dan perak bersifat internasional. Dunia secara keseluruhan telah mempraktikkan sistem mata uang emas dan perak sejak ditemukannya uang hingga Perang Dunia I. Nilai mata uang dua logam ini stabil sehingga tidak ada ancaman inflasi sebagaimana fiat money.
Sistem mata uang emas dan perak juga tidak mudah diguncang dengan isu trust, karena zat logam yang menjadi bahan mata uang memiliki nilai intrinsik yang tinggi. Artinya, zatnya sendiri bernilai sehingga tidak mungkin nilainya bisa dimainkan sebagaimana uang kertas yang nilai intrinsiknya sangat rendah, dan bahkan nyaris tidak bernilai.
Emas dan perak juga diterima oleh semua negara di dunia untuk transaksi perdagangan sehingga tidak perlu khawatir mata uang kita tidak laku di luar negeri seperti nasib rupiah saat ini.
Butuh Khilafah
Namun, sayangnya, dominasi AS bukan semata dalam persoalan mata uang. AS telah menjaga dominasi dolar dengan adanya lembaga dunia yaitu IMF dan World Bank. AS juga merupakan pemimpin politik dunia yang akan sangat berkuasa untuk menindak tegas negara yang hendak menggoyang takhta dolar.
Oleh karena itu, hijrah dari dolar ke dinar dan dirham tidak bisa dilakukan secara individual dan parsial, seperti membuat komunitas penggunanya karena hasilnya tidak akan signifikan.
Hal yang kita butuhkan adalah adanya negara berdaulat yang tidak didikte negara mana pun, dan berani menggunakan sistem mata uang dinar dan dirham untuk menantang dominasi dolar AS. Untuk bisa menerapkan sistem dinar dan dirham, negara ini tidak boleh tunduk di bawah lembaga internasional IMF dan World Bank, karena keduanya tidak akan pernah meridai. Berarti, negara tersebut haruslah negara global (bukan lokal nasional) dengan pengaruh politik yang mendunia.
Negara yang seperti ini hanyalah Daulah Khilafah Islamiah, bukan yang lain. Khilafah akan menyatukan seluruh negeri muslim dari Asia, Afrika, dan Eropa sehingga menjadi kekuatan politik yang mendunia. Dengan kekayaan alam yang luar biasa, serta sistem ekonomi yang menyejahterakan, Khilafah akan mampu menantang hegemoni AS.
Untuk selanjutnya, negara-negara lain di dunia akan berada pada dua pilihan, apakah bertahan dengan dolar AS yang terus terjun dalam krisis, ataukah mengikuti Khilafah menggunakan standar emas perak yang menawarkan stabilitas.
Yang jelas, sistem Islam yang berasal dari Allah Swt. itulah yang unggul. Sedangkan sistem buatan manusia akan terus menghasilkan kerusakan. Wallahualam. [MNews/Has]

Kami butuh khilafah
tak cukup buang dolar seperti ini untuk menghindari krisis ekonomi, tapi butuh ganti sistem mata uang sekalian politiknya.. Negara khilafah berkekuatan global akan menantang dolar AS dan mengeluarkan manusia dari krisis ekonomi, that’s why we need to raise Khilafah