[Fikrul Islam] Revisi atas Kesalahan Pemahaman Hidayah dan Dhalâlah

[Fikrul Islam] Revisi atas Kesalahan Pemahaman Hidayah dan Dhalâlah

Penulis: Ustaz Hafidz Abdurrahman

Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Lafaz “hidayah” berasal dari hadâ-yahdî-hudan-hidâyah, yang berarti ar-rasyâd (kejelasan) dan ad-dalâlah (petunjuk). Sedangkan lafaz dhalâl berasal dari dhalla-yadhillu-dhalla-dhalâlatan, yang berarti dhidd ar-rasyâd (kebalikan dari petunjuk dan kejelasan).

Adapun pengartian hidayah secara syar’i adalah mengikuti petunjuk Islam dan mengimaninya, sementara dhalâlah adalah menyimpang dari Islam. Dalam konteks inilah, Rasulullah bersabda,

«أَنّ الَ لَ يَجْمَعُ أُمّتِيْ عَلَى ضَلَلَةٍ»

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam kesesatan.” (HR At-Tirmidzi dari Ibn Umar)

Allah Swt. telah menciptakan surga untuk orang-orang yang mendapatkan hidayah, sedangkan neraka untuk orang-orang yang mendapatkan dhalâlah (kesesatan). Artinya, Allah Swt. telah memberi pahala kepada orang yang mendapatkan petunjuk dan siksa kepada orang yang tersesat.

Ketika pahala dan siksa dikaitkan dengan hidayah dan dhalâlah, itu menunjukkan bahwa hidayahdan dhalâlah tersebut merupakan hasil usaha manusia, bukan karena ketentuan Allah Swt.. Sebab ini akan menjadikan Allah dituduh zalim, ketika Allah menyiksa orang yang disesatkan-Nya, padahal kesesatan tersebut ditentukan oleh Allah. Sebab, mengapa Dia yang menyesatkan, Dia juga yang menyiksa? Mahasuci Allah Swt. dari tuduhan seperti ini.

Karena itu, Allah menolak tuduhan tersebut,

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ

“Dan sekali-kali Tuhanmu tidak akan berbuat zalim kepada hamba-Nya.” (QS Fushshilât: 46)

وَمَآ اَنَا۠ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ

“Dan Aku sekali-kali tidak akan berbuat zalim kepada manusia.“ (QS Qaf: 29)

Meskipun demikian, banyak ayat yang menyatakanhidayahdan dhalâlah tersebut merupakan masyî’ah Allah Swt. sehingga dari ayat tersebut bisa dipahami bahwahidayahdan dhalâlah bukanlah usaha manusia, tetapi murni dari Allah Swt.. Di sisi lain, ada ayat-ayat yang menjelaskan, bahwa hidayahdan dhalâlah merupakan usaha manusia sehingga bisa dipahami bahwa hidayahdan dhalâlah tersebut merupakan hasil usaha manusia.

Karena itu, ayat-ayat tersebut harus dipahami dengan pemahaman yang merujuk pada penjelasan syarak. Dengan kata lain, realitas ayat-ayat tersebut harus dipahami dari aspek hukum syarak sehingga akan terlihat bahwa hidayahdan dhalâlah yang dikembalikan kepada perbuatan Allah Swt. tersebut mempunyai konotasi yang berbeda dengan hidayahdan dhalâlah yang dikembalikan pada manusia. Dengan demikian, makna hidayah dan dhalâlah menurut syarak juga akan menjadi jelas.

Memang, ayat-ayat hidayahdan dhalâlah yang dikembalikan kepada Allah telah menyatakan bahwa Dialah Zat Yang menunjukkan dan menyesatkan. Firman Allah Swt.,

وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْهِ اٰيَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖۗ قُلْ اِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ اَنَابَۖ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya Allahlah yang menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dan menunjukkan (jalan) kepada-Nya terhadap siapa saja yang bertobat kepada-Nya.'” (QS Ar-Ra’du: 27)

فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۖ

“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dan menunjukkan siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS Fâthir: 8)

وَّلٰكِنْ يُّضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ

“Tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjukkan siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS an-Nahl: 93)

مَنْ يَّشَاِ اللّٰهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَّشَأْ يَجْعَلْهُ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Siapa saja yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, Dia akan lapangkan dadanya kepada Islam dan siapa yang Dia kehendaki untuk disesatkan, maka Dia akan menjadikan sempit lagi berat seakan-akan mendaki langit.” (QS al-An’âm: 39)

قُلِ اللّٰهُ يَهْدِيْ لِلْحَقِّۗ

“Katakanlah, ‘Allahlah Zat yang memberikan petunjuk kebenaran.'” (QS Yûnus: 35)

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَاۗ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَآ اَنْ هَدٰىنَا اللّٰهُ ۚ

“Mereka menyatakan, ‘Segala puji kepada Allah Zat yang memberi petunjuk kepada kami pada ajaran (Islam) ini, dan kami tidak akan mendapat petunjuk kalau seandainya kami tidak diberikan petunjuk oleh Allah Swt.” (QS Al-A’râf: 43)

مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

“Siapa saja yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapatkan petunjuk dan siapa saja yang Dia sesatkan, maka tidak akan menemukan seorang penolong pun untuknya yang dapat memberi petunjuk.” (QS Al-Kahfi: 17).

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk orang yang kamu cintai sekalipun, tetapi Allahlah yang mampu memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS AI-Qashash: 56)

Berdasarkan manthûq (makna tersurat) ayat-ayat di atas, ada bukti yang jelas bahwa Zat Yang Maha Memberi hidayah dan dhalâlah adalah Allah Swt.. Allahlah yang menyesatkan dan menunjukkan kepada siapa saja, dan bukannya manusia. Ini artinya, bahwa manusia tidak bisa memperoleh hidayah karena usahanya sendiri, jika Allah Swt. tidak menghendakinya mendapatkan hidayah.

Demikian juga ketika Allah menyesatkan, pasti siapa pun akan tersesat. Hanya, konotasi di atas kemudian berubah setelah disertai qarînah yang mengubah konotasi hidayahdan dhalâlah yang langsung ditentukan oleh Allah menjadi Allah sebagai Pencipta hidayah dan dhalâlah, sedangkan fungsi manusia adalah sebagai pihak yang mengusahakan agar hidayah dan dhalâlah tersebut sampai kepada manusia.

Mengenai qarînah yang bisa mengalihkan makna tersebut dari makna langsung menjadi tidak langsung adalah qarînah syar’iyyah dan ‘aqliyyah. Qarînah syar’iyyah yang dimaksud di sini adalah banyaknya ayat yang menyandarkan hidayah dan dhalâlah tersebut kepada manusia. Allah Swt., misalnya, berfirman,

مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ

“Maka siapa saja yang mencari petunjuk sesungguhnya dia mencari petunjuk untuk dirinya sendiri. Dan, siapa saja yang tersesat sesungguhnya ia hanya menyesatkan dirinya sendiri.” (QS Al-Isra: 15)

لَا يَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ اِذَا اهْتَدَيْتُمْ

“Siapa saja yang tersesat tidak akan bisa membahayakan kamu, apabila kamu telah mendapati petunjuk.” (QS Al-Mâidah: 105)

فَمَنِ اهْتَدٰى فَلِنَفْسِهٖۚ

“Maka siapa saja yang mendapatkan petunjuk sesungguhnya untuk dirinya sendiri.” (QS Az-Zumar: 41)

وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah: 157)

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا رَبَّنَآ اَرِنَا الَّذَيْنِ اَضَلّٰنَا مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ

“Dan orang-orang kafir itu berdoa, ‘Wahai Tuhan kami tunjukkanlah kepada kami mereka yang bisa menyesatkan, baik dari kalangan jin dan manusia.'” (QS Fushshilât: 29)

قُلْ اِنْ ضَلَلْتُ فَاِنَّمَآ اَضِلُّ عَلٰى نَفْسِيْۚ

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Apabila aku tersesat sesungguhnya hanya menyesatkan diriku sendiri.'” (QS Saba’: 50)

Ayat-ayat di atas, dari aspek manthûq (makna tersurat)-nya dengan jelas menyatakan bahwa manusialah yang mengusahakan hidayah dan dhalâlah dan manusialah yang bisa menyesatkan dirinya sendiri juga orang lain. Setan juga demikian.

Ayat-ayat di atas juga menyandarkan hidayah dan dhalâlah tersebut pada manusia dan jin. Manusia juga bisa memperoleh petunjuk untuk dirinya dan orang lain. Semuanya ini merupakan qarînah yang mengubah konotasi hidayah dan dhalâlah secara langsung dari Allah, baik dalam konteks Zat Yang Maha Menciptakan maupun Yang Mengusahakannya, berubah pada konotasi Allah Swt. sebagai Pencipta hidayah dan dhalâlah, sedangkan pihak yang mengusahakannya adalah manusia.

Dengan menggabungkan kedua macam ayat di atas, yang secara eksplisit (konotasi tekstualnya) kelihatan kontradiktif, bisa diperoleh makna syarak bahwa Allahlah Zat Yang Maha Menciptakan hidayah dan dhalâlah, sedangkan yang mengusahakan agar hidayahdan dhalâlah tersebut sampai kepada dirinya dan orang lain adalah manusia sendiri. [MNews/Rgl]

Sumber: Hafidz Abdurrahman, Islam Politik & Spiritual

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *