Keruntuhan Khilafah benar-benar telah membuka pintu keburukan bagi umat Islam. Negeri-negeri Islam tercerai-berai dan harta kekayaan mereka dijarah. Kehidupan anak dan kaum perempuan jauh dari kemuliaan. Datangnya Rajab semestinya menjadi momentum tepat untuk merenungkan kembali sejarah umat Islam dan mengambil ibrah tentang yang semestinya dilakukan.
Muslimah News, EDITORIAL –Bagi umat Islam, bulan Rajab memiliki kedudukan istimewa. Salah satunya karena Rajab termasuk bulan yang disucikan sebagaimana bulan Zulhijah, Zulkaidah, dan Muharam. Allah Swt. berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram…”(QS at-Taubah : 36)
Kesucian bulan-bulan haram ini salah satunya tampak dari larangan menumpahkan darah dan melakukan kezaliman di dalamnya. Allah Swt. berfirman,
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ
“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah…” (QS al-Baqarah: 217)
Juga firman-Nya,
فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“…maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS at-Taubah: 36)
Namun tak hanya itu, Imam Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa keistimewaan bulan-bulan haram, termasuk Rajab, adalah dilipatgandakannya pahala dan dosa dari setiap perbuatan. Beliau berkata,
فيضاعف فيه العقاب بالعمل السيئ كما يضاعف الثواب بالعمل الصالح
“Perbuatan dosa di bulan haram hukumannya dilipatgandakan, sebagaimana pahala amal saleh dilipatgandakan.” (Tafsir al-Qurthubi 8/68)
Peristiwa Penting pada Bulan Rajab
Pengetahuan tentang keistimewaan Rajab tadi tentu patut menjadi renungan. Namun kita pun perlu mengetahui bahwa ada keistimewaan lain yang tersemat pada bulan Rajab. Pada bulan ini banyak peristiwa penting dalam sejarah umat Islam.
Di antara peristiwa itu adalah hijrah pertama kaum muslim ke Habsyah yang terjadi pada tahun ke-5 kenabian, peristiwa Isra Mikraj pada tahun ke-10 kenabian, perang Tabuk melawan adidaya Romawi pada tahun ke-9 setelah hijrah, serta pembebasan Baitulmaqdis oleh pasukan muslim di bawah pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi pada Rajab tahun 583 H.
Namun pada bulan Rajab pula ada satu peristiwa penting yang tak boleh dilupakan oleh umat Islam. Sebuah peristiwa yang menandai hilangnya kemuliaan umat, yakni runtuhnya institusi khilafah yang selama 14 abad menaungi kehidupan umat Islam di seluruh dunia.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada 28 Rajab 1342 H, bertepatan dengan tanggal 3 Maret 1924 M. Saat itu, kepemimpinan umat Islam dunia sedang berada di tangan Bani Utsmaniyah yang berkuasa sejak 1299 M. Pada hari itu, khalifah terakhirnya, Abdul Majid II dan keluarganya, diusir dari istana dan diasingkan ke Swiss dalam keadaan sangat terhina.
Buah Kesungguhan Makar
Apa yang terjadi pada hari itu sesungguhnya merupakan hasil perjuangan panjang kaum kafir dan antek-anteknya. Inggris, Prancis, bersama sekutu lainnya telah berusaha menghancurkan institusi khilafah sejak kepemimpinan berada di tangan Bani Umayyah. Dilanjut pada masa Utsmaniyah yang kekuasaannya sudah mulai menyasar wilayah Eropa.
Namun 200 tahun Perang Salib yang dilancarkan generasi terdahulu telah memberi mereka banyak pelajaran. Umat Islam tak mungkin dihancurkan dengan pedang. Maka pada awal abad 16, mulailah mereka serius membuat makar. Mereka melancarkan perang pemikiran dan budaya di berbagai negeri Islam.
Nasionalisme dan sekularisme mereka pilih sebagai senjata utama merusak persatuan umat Islam. Mereka tebar pemikiran rusak ini melalui gerakan misionaris dan budaya untuk melepas keterikatan negeri-negeri Islam kepada kepemimpinan khilafah. Mereka provokasi para pemimpin wilayah untuk mengikuti syahwat kekuasaan dengan iming-iming dukungan politik dan bantuan finansial.
Hasilnya, satu demi satu para penguasa wilayah membelot dari pusat kekhilafahan. Padahal sejatinya mereka sedang menyerahkan kedaulatan negeri muslim pada cengkeraman penjajah. Tak heran jika separatisme pada era kekhalifahan berjalan bersamaan dengan era penjajahan bangsa-bangsa Eropa di negeri-negeri Islam.
Keberadaan antek bagi bangsa penjajah pun benar-benar menjadi senjata ampuh untuk memenangkan peperangan. Di Arab ada Abdul Aziz bin Saud, di Mesir ada Ibrahim Pasha dan ayahnya Muhammad Ali Pasha, dan lain-lain.
Mereka dengan sengaja memanfaatkan kelemahan kepemimpinan internal sebagai alasan untuk melakukan pemberontakan. Terlebih di level kekuasaan pusat, para penjajah pun bekerja keras menyeret khilafah untuk melakukan reformasi konstitusi.
Khilafah yang sudah dijuluki “The Sick Man of Europe” itu pun akhirnya tunduk pada kemauan penjajah. Pada 1855 konstitusi negara tak lagi 100 persen berasal dari Islam.
UU Pidana serta UU Keuangan dan Perdagangan mulai mengadopsi sistem Barat. Begitu pun dengan sistem peradilan, mulai dibagi menjadi sipil dan agama. Politik luar negeri berupa jihad dan dakwah Islam pun harus dihapuskan atas nama menjaga perdamaian. Semuanya dilakukan pemimpin lemah hanya demi memperoleh pengakuan bahwa negara Turki (khilafah) adalah bagian dari keluarga internasional.
Terlebih saat Inggris berhasil merekrut agen setia dan paling berjasa, dialah Mustafa Kemal Pasha laknatullah ‘alayh. Sosoknya mulai muncul saat Perang Dunia I, ketika tentara khilafah yang dipimpinnya dan bersekutu dengan Jerman berhasil memenangkan perang di Galipoli (1915).
Sejak saat itu, Mustafa dielu-elukan sebagai seorang pahlawan. Dan saat perang berakhir dengan kemenangan Inggris dan sekutunya pada 1918, khilafah dipecah belah berdasarkan perjanjian Sykes-Picot yang sudah lebih dulu dilakukan oleh Inggris dan Prancis pada 16 Mei 1916.
Setelah itu, kekuasaan Inggris di pusat khilafah pun makin kuat. Melalui tangan Mustafa inilah Inggris melancarkan serangan telak pada kedudukan khalifah. Ia bahkan mendesak penghapusan institusi khilafah dan menjadikan Turki sebagai negara sekuler.
Pada periode selanjutnya, ia dan organisasi Partai Rakyat yang didirikannya berhasil menjadi eksekutor penghancuran khilafah. Dan peristiwa tragis itu terjadi pada 27 Rajab 1342 H. Praktis sejak saat itu, umat Islam hidup tanpa ra’in (pengurus) dan junnah (perisai).
Potret Buram Tanpa Khilafah
Keruntuhan khilafah benar-benar telah membuka pintu keburukan bagi umat Islam. Negeri-negeri Islam tercerai-berai, masuk dalam cengkeraman penjajahan. Harta kekayaan mereka dijarah, kehormatan mereka dilanggar, pemikiran dan budaya mereka pun dirusak.
Kemerdekaan yang akhirnya didapat justru menjadi pengukuh keterpecahbelahan. Satu negeri muslim dengan negeri muslim lainnya kian kehilangan makna ukhuwah.
Bahkan tak jarang mereka bertikai demi memperebutkan sejengkal tanah. Tak sadar bahwa meski musuh tak hadir secara fisik, penjajahan masih ada dalam benak dan sistem hidup yang mereka terapkan.
Betapa tidak, negeri-negeri yang dulunya diatur dengan Islam, justru berkhidmat melanggengkan UU dan sistem hidup warisan penjajah. Sistem politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, persanksian, dan hankam, semua meniru dan membebek aturan-aturan Barat.
Wajar jika identitas dan kepribadian mereka tak mencirikan individu dan masyarakat Islam. Bahkan individu, keluarga, dan masyarakat di negeri-negeri muslim jauh dari gambaran khairu ummat (sebaik-baik umat) sebagaimana predikat yang Allah sematkan.
Dengan aturan hidup sekuler, umat Islam dan negaranya alih-alih bisa hidup damai sejahtera sebagaimana saat khilafah dulu tegak, yang terjadi justru umat ditimpa krisis di berbagai bidang kehidupan. Termasuk krisis politik, ekonomi, dan moral hingga taraf yang mengerikan.
Semua ini menjadi bukti atas firman Allah Ta’ala dalam QS Thaha 124,
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Nasib Anak dan Perempuan Tidak Kalah Menyedihkan
Di bawah naungan sistem sekuler, kehidupan anak dan kaum perempuan juga jauh dari kemuliaan. Hak-hak dasar mereka sebagai manusia dan makhluk yang harus dijaga juga telah dirampas.
Berbeda jauh dengan saat khilafah tegak, semuanya terjamin hingga tumbuh kembang anak dan fungsi politis-strategis kaum perempuan sebagai pencetak generasi cemerlang bisa berjalan dengan sempurna. Tak heran jika peradaban emas Islam mampu tegak selama belasan abad.
Penerapan sistem sekuler kapitalisme neoliberal memang terbukti membawa kemudaratan luar biasa. Kemiskinan, ketidakadilan, gap sosial, kekerasan, perbudakan, kezaliman, dan sejenisnya menjadi potret buram mayoritas masyarakat, termasuk kaum perempuan dan anak-anak di berbagai belahan dunia.
Tak jarang kedua entitas ini dikapitalisasi hanya demi memutar roda perekonomian sebuah negara. Alih-alih dijamin hak finansial dan keamanannya, kaum perempuan dan anak justru terjebak dalam kemiskinan struktural yang diciptakan sistem kapitalisme global dan dikukuhkan penguasa. Sementara kemiskinan biasanya berdampak pada problem sosial lain, seperti kebodohan, gap sosial, kekerasan, kriminalitas, dan sebagainya.
Yang miris, dalam situasi ini kaum perempuan justru diperdaya oleh proyek-proyek pemberdayaan dengan dalih demi meningkatkan kesejahteraan keluarga. Efeknya, perempuan memikul beban ganda yang membuat tugas utamanya tak berjalan secara optimal. Tingkat stres juga meningkat, sementara interaksi mereka dengan anak makin berkurang.
Tak heran jika generasi umat Islam makin tak jelas warna. Mereka tumbuh dalam keluarga dan masyarakat yang tak mendukung terbentuknya pribadi-pribadi istimewa sebagaimana yang diinginkan Islam. Yakni generasi berkepribadian Islam yang siap memimpin peradaban cemerlang pada masa depan.
Sebagian perempuan dan anak di belahan bumi yang lain malah harus berjibaku melawan kezaliman rezim penguasa. Di Palestina, Yaman, Uighur, Rohingya, India, dan Kashmir, kaum perempuan dan anak diuji dengan kehidupan yang sangat berat. Tak ada yang mampu menolong mereka, meski umat Islam di dunia jumlahnya sangat banyak.
Tak berlebihan jika dikatakan bahwa pada era ini kaum perempuan dan anak di berbagai negeri Islam benar-benar hidup dalam kondisi terburuk. Semua adalah karena ketiadaan institusi khilafah pelindung dan pemersatu umat yang runtuh seabad lalu pada bulan Rajab.
Khatimah
Datangnya bulan Rajab semestinya menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali sejarah umat Islam dan mengambil ibrah tentang apa yang semestinya dilakukan. Nyatanya, pada masa lalu, bulan ini menjadi pembatas yang jelas antara kondisi umat dalam naungan khilafah dengan kondisi umat tanpa naungan khilafah.
Keduanya seperti terang dengan gelap. Dan kehidupan hari ini adalah kehidupan yang serba gelap bagi umat Islam. Tak ada kebaikan sedikit pun saat umat hidup jauh dari aturan Islam. Mereka bukan hanya berkubang dalam kehinaan, tetapi yang lebih mengerikan, mereka terus berkubang dalam dosa berkepanjangan.
Pertanyaannya, apakah kita pantas diam, sementara musuh-musuh Islam serius membuat berbagai makar? [MNews/SNA]

Sangat tidak pantas..untuk itu sy tergabung dgn jamaah ideologis yg memperjuangkan Syariat Alloh secara kaaffah
Datangnya Rajab semestinya menjadi momentum tepat untuk merenungkan kembali sejarah umat Islam dan mengambil ibrah tentang yang semestinya dilakukan
#RajabVibes
#RajabBulanMulia
#WomenAndKhilafah
Allahumma bariklanaa fii rojabi wa sya’ban wa ballighnaa ilaa ramadhan