[Tapak Tilas] Granada, Benteng Terakhir Islam di Andalusia

[Tapak Tilas] Granada, Benteng Terakhir Islam di Andalusia

Granada adalah nama sebuah kota yang ada di bagian selatan Spanyol Andalusia. Kota ini, dari masa ke masa, menyedot perhatian dunia. Meskipun hari ini kejayaan peradaban Islam di Granada hanya tinggal cerita, tetapi dari sinilah kita belajar bahwa Islam dan kepemimpinannya adalah sumber kebangkitan yang semestinya kembali kita perjuangkan dengan penuh iman dan kesungguhan.

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


Muslimah News, TAPAK TILAS — Siapa tidak kenal Granada? Granada adalah nama sebuah kota yang ada di bagian selatan Spanyol Andalusia. Kota yang berarti kecantikan atau keindahan ini terletak di sekitar kaki bukit pegunungan Sierra Nevada dan sekitar laut Mediterania.

Dari masa ke masa, Granada selalu menjadi salah satu perhatian dunia. Di sana terdapat banyak situs sejarah ternama dan sangat indah. Di antaranya, Istana Al-Hambra atau Qal’at (Calat) Alhambra dan Universitas Granada.

Futuhat Granada

Sebelum menjadi bagian wilayah Islam, Granada sama dengan wilayah Andalusia lainnya, seperti Cordoba, Sevilla, Toledo, Madrid, dan lain-lain. Saat itu semua kota di Semenanjung Iberia ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Visigoth.

Pada 711 M, Musa Ibn Nushair, Gubernur wilayah Afrika Utara dari Kekhilafahan Bani Umayyah mengutus pasukan jihad ke kawasan Semenanjung Iberia atau Andalusia. Pasukan yang dipimpin Thariq Bin Ziyad itu akhirnya berhasil membuka wilayah Andalus setelah berhasil mengalahkan Raja Visigoth bernama Roderic pada Perang Guadalete, Juli 711 M.

Setelah itu, satu demi satu kota-kota besar di Andalusia berhasil dibuka untuk dakwah Islam. Di antaranya kota Cordoba dan Granada. Kekejaman penguasa Visigoth yang selama ini dirasakan oleh penduduk Andalusia justru mendorong mereka menerima kedatangan pasukan muslim dengan tangan terbuka, bahkan turut bergabung bersamanya.

Pascafutuhat, wilayah Andalusia ini langsung tergabung ke dalam wilayah keamiran Khilafah di wilayah Afrika Utara. Namun, saat kekhalifahan Bani Abbasiyah mulai menggantikan kekuasaan Bani Umayyah pada 756 M, wilayah Andalusia pun menjadi pusat kekuatan Dinasti Umayyah yang berbentuk keemiran.

Ini dimulai saat Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik,  salah satu keturunan Bani Umayyah, yang kelak dikenal dengan Abdurrahman Ad-Dakhil melarikan diri dari Damaskus (pusat Khilafah). Sebagaimana diketahui, sejak lama penguasa Andalus dikenal sebagai loyalis Bani Umayyah.

Meski banyak tantangan, baik dari penguasa Bani Abbasiyah maupun dari Kaisar Charlemagne penguasa Romawi yang bertakhta di Perancis, Abdurrahman Ad-Dakhil akhirnya berhasil mengokohkan kekuasaan politik di Andalusia. Bahkan, Cordoba yang menjadi pusat keamiran ini dengan cepat berkembang menjadi pusat peradaban Islam yang setara dengan pusat Khilafah yang saat itu sudah berpindah ke Baghdad.

Saat kekuasaan Khilafah di Baghdad runtuh dengan terbunuhnya Khalifah Al-Muqtadir pada tahun 929 M, Gubernur Andalus, Abdurrahman III mengisi kekosongan kepemimpinan itu dengan mengubah emirat Andalusia menjadi pusat kekhalifahan umat Islam. Maka sejak saat itu, Andalusia berubah menjadi kekhilafahan Bani Umayyah periode kedua (929-1031 M).

Granada dan Reconquista

Sejak Andalus ditaklukkan, raja-raja Kristen di Andalus dan Eropa lainnya tentu tidak tinggal diam. Sejak 720 mereka berkoalisi melakukan gerakan perebutan kembali wilayah Andalusia yang dalam sejarah dikenal sebagai gerakan Reconquista.

Gerakan reconquista yang di Andalus dipimpin oleh kerajaan Leon, Castilia (Ratu Isabella) dan Aragon (Raja Ferdinand II) ini makin masif pada awal abad 11 M. Konon perang yang terjadi antara pasukan koalisi dengan pasukan muslim terjadi lebih dari 20 kali.

Peristiwa ini sejalan dengan peristiwa Perang Salib yang dilancarkan negara-negara Kristen Eropa. Namun, ketiga kerajaan tadi fokus untuk melenyapkan kekuasaan Islam di Andalusia.

Saat Perang Salib memasuki periode ke-3, kekuatan muslim di Andalusia sudah dalam posisi lemah maka satu demi satu kota-kota penting jatuh ke tangan mereka, termasuk pusat Khilafah Islam di Cordoba. Bahkan pada 1031, Dinasti Umayyah periode ke-2 ini akhirnya benar-benar runtuh.

Meski demikian, beberapa wilayah Islam di Andalusia masih bisa dipertahankan oleh kaum muslim. Hanya saja wilayahnya terpecah-pecah menjadi keemiran-keemiran kecil yang dikenal dengan sebutan Thaifah. Salah satu di antaranya adalah Thaifah Granada.

Thaifah Granada ini mampu bertahan di tengah ancaman gempuran reconquista pimpinan Ferdinand II dan Isabella. Thaifah ini dikuasai oleh beberapa dinasti yang memimpin dengan syariat Islam. Tercatat ada dinasti Murabithun, Muwahidun dan Nashiriyun.

Sejarah mencatat, saat Granada di bawah pimpinan Dinasti Nashiriyun, mulailah tampak tanda-tanda kebangkitan kembali. Di masa ini kekuasaan Islam di Granada muncul sebagai keamiran yang diperhitungkan secara politik, ekonomi dan pertahanan. Bahkan, di kota inilah peradaban Islam Andalusia kembali bersinar.

Menjadi Pusat Peradaban

Salah satu bukti kegemilangan Islam di Granada adalah keberadaan Istana Alhambra yang fenomenal. Istana ini dibangun oleh Gubernur Muhammad bin Al-Ahmar pada 1248 M di area seluas 14 hektar di atas bukit La Sabica, Kota Granada.

Istana Alhambra

Sebetulnya AlHambra dibangun sebagai benteng pertahanan utama masyarakat muslim di Andalusia, khususnya di Granada. Konstruksinya dikenal sangat kokoh, hingga sulit ditembus kekuatan musuh.

Fasilitas di dalamnya pun sangat lengkap dan terhitung modern di masanya. Selain ada taman-taman dan air mancur yang indah, juga ada fasilitas perpustakaan yang super megah.

Air mancur Istana Alhambra

Pantaslah jika selain sebagai benteng, Alhambra juga berfungsi sebagai istana. Lebih tepatnya, menjadi pusat salah satu keemiran Islam di wilayah Andalusia, yang dikenal dengan nama إمارة غرﻧﺎﻃﺔ‎ (Imarah Gharnathah).

Di masa kejayaannya, Kota Granada berhasil menggantikan Cordoba menjadi pusat peradaban Islam dunia. Selain ekonomi, seni dan budaya, ilmu pengetahuan pun berkembang pesat di sana.

Kota ini bahkan menjadi salah satu pusat studi dunia dengan berdirinya Universitas Granada berikut berbagai perpustakaan megah seperti Al-Hambra, Yusufiyah dan an-Nushairiyah. Dari kota ini telah terlahir ilmuwan-ilmuwan Islam ternama, di antaranya, Abu al-Qasim al-Majrithi ahli astronomi Andalusia, Ibnu Athiyyah yang ahli tafsir dan Imam asy-Syatibi yang dikenal sebagai pencetus konsep al-maqashid asy-syar’iyah (wafat 1388 M).

Madrasah Yusufiyah Granada

Kota ini pun menjadi tujuan migrasi bagi kaum muslim yang berasal dari Cordoba dan tempat-tempat lain yang sudah dikuasai raja-raja Kristen Andalus yang melancarkan reconquista. Bahkan, tidak hanya umat Islam, kaum Yahudi yang terusir pun banyak yang memilih Granada sebagai tempat menyelamatkan diri mereka. Mereka disambut dan diperlakukan dengan sangat baik oleh para pemimpin muslim di Granada.

Benteng Terakhir

Kekuasaan Islam di Granada berlangsung selama beberapa abad. Kekuasaan ini sedikit demi sedikit mulai terhubung dengan kekhilafahan Utsmaniyah yang mulai berdiri sejak 1299 di Anatolia Turki.

Saat itu Khilafah Turki sendiri mulai bangkit sebagai kekuatan global, terutama saat kepemimpinannya dipegang oleh Khalifah Muhammad Al-Fatih (Mehmed II). AlFatih bahkan mampu menorehkan prestasi besar, saat pada 1453 M berhasil menaklukan konstantinopel sebagai jantung kekuasaan negara adidaya Romawi.

Namun banyak hal yang membuat pemerintahan pusat khilafah di Turki kesulitan untuk menopang kekuatan Muslim di Andalusia, khususnya benteng terakhir di Granada. Di antaranya, karena faktor geografis dan blokade yang kuat dari negara-negara Kristen Eropa yang sulit ditembus militer Utsmani untuk mencapai Andalusia.

Pernah satu ketika, pada 1480-an, Khalifah Al-Fatih mencoba mengirimkan pasukan tentara untuk menembus Andalusia. Pada saat itu, pasukannya sudah mampu menguasai Otranto Italia. Namun upaya ini tidak berlanjut karena selain faktor hambatan geografis dan militer, Al-Fatih pun keburu wafat.

Namun demikian, di tengah rongrongan kekuasaan Safawi di Iran dan Mamluk di Mesir, khalifah Ustsmaniyah setelahnya tetap melakukan beberapa upaya membantu Muslim Andalus dari dampak proyek reconquista.

Hanya, tetap saja kekuasaan Islam di Andalusia harus menghadapi ancaman yang sangat dekat di sekeliling mereka.  Pada 1482 Granada diserang pasukan Kristen di bawah pimpinan Ferdinand II dan Isabela. Maka mulailah berkecamuk perang di Granada. Perang ini berlangsung selama satu dekade penuh.

Sekitar tahun 1491, sebelum kejatuhannya Granada mengalami pengepungan selama delapan bulan. Jadilah Granada sebagai benteng terakhir sekaligus pusat pertempuran yang tidak imbang antara kekuatan muslim dan kaum salibis. Selanjutnya, pada tanggal 2 Januari 1492, Bani Ahmar pun menyerah. Penguasanya bahkan menyetujui perjanjian damai yang mengharuskan ia keluar dari Andalusia.

Praktis sejak saat itu, wilayah Andalusia seluruhnya dikuasai oleh Tahta Cartila, yakni gabungan antara kerajaan-kerajaan Kristen Aragon, Castila, Leon dan Granada di bawah kepemimpinan Ferdinad II dan Isabella. Para penguasa ini memimpikan Andalusia menjadi negara dengan satu agama.

Banyak umat Kristen yang awalnya tinggal di Utara, difasilitasi untuk bermigrasi ke Andalusia. Seluruh jejak peradaban Islam dihapus termasuk mengalih fungsi masjid dan Istana. Yang paling keji, para penguasa Kristen ini mulai menerapkan kebijakan yang tidak bisa dilupakan sejarah dunia, yakni pengadilan inkuisisi yang bertujuan membasmi umat Islam di Andalusia.

Proyek Keji Inkuisisi

Inkuisisi (Tribunal Dinas Suci Inkuisisi)  sejatinya merupakan sebuah institusi pengadilan gereja yang didirikan oleh pasangan Monarki Katolik Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella dari Castilia. Tugasnya adalah mengembalikan ortodoksi Katolik di Andalusia, dan mengadili perkara-perkara aliran sesat pasca Reconquista, termasuk “menangani” umat Islam yang masih ada di Andalusia.

Lembaga ini nyatanya tidak lebih dari alat teror bagi umat Islam yang tersisa. Betapa tidak? Atas nama hukum, negara secara masif melakukan pengusiran umat Islam. Bahkan bukan hanya muslim, penganut Yahudi yang sebelumnya dilindungi kekuasaan Islam pun diperlakukan sama buruknya. Hingga banyak dari mereka yang berusaha meloloskan diri ke Afrika Utara atau ke wilayah khilafah Turki, khususnya di Anatolia.

Mereka yang memilih bertahan di Granada dipaksa murtad melalui proyek-proyek asimilasi dengan warga Katolik. Mereka ini kemudian dikenal dengan sebutan Moriscos dan Marranos. Tidak sedikit dari mereka yang menolak murtad mati dibunuh dengan cara dibakar secara masal dan disiksa.

Memang ada masa di mana umat muslim melakukan perlawanan. Sejarah mencatat, pada 1568-1571 pernah terjadi pemberontakan orang-orang Moriscos, tetapi berakhir dengan kemenangan pihak penguasa.

Sebagai dampaknya, penguasa Kristen melakukan pengusiran dan pembunuhan terhadap penduduk Muslim. Di pihak lain,  proses migrasi umat Katolik ke Granada pun kian didorong dan difasilitasi penuh oleh negara.

Di masa-masa itu, tidak terhitung jumlah umat Islam yang gugur di pengadilan inkuisisi. Peristiwa ini bahkan mendorong Khalifah Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M) untuk mengirimkan 80 kapal dengan 8.000 pasukan elite Janissary di bawah pimpinan Laksamana Barbarossa untuk menyelamatkan umat Islam Andalusia. Konon tidak kurang dari 500.000 orang yang ditolong dan ditempatkan di wilayah Khilafah Islam.

Di masa-masa berikutnya cerita suram terus berlanjut di Granada. Orang-orang muslim yang mentalnya lemah dan memilih murtad demi tetap tinggal di Granada ternyata tidak mendapat perlakuan yang layak dari penguasa dan reka seagama. Mereka tetap saja menjadi entitas yang terasing di bawah tekanan penduduk asli Katolik dan penguasanya.

Adapun penguasa Andalus yang kemudian berganti nama menjadi Spanyol akhirnya terlibat dalam perebutan daerah jajahan bersama negara-negara Eropa lainnya. Syahwat mereka membalas dendam kepada umat Islam di Andalusia tertunaikan sudah. Sekarang gilirannya untuk memuaskan nafsu keserakahan dengan menjadi penjajah. Hingga di antara sesama mereka tidak jarang terlibat dalam berbagai peperangan.

Hari ini kejayaan peradaban Islam di Granada memang hanya tinggal cerita. Namun dari sinilah kita belajar, bahwa Islam dan kepemimpinannya adalah sumber kebangkitan yang semestinya kembali kita perjuangkan dengan penuh iman dan kesungguhan. Wallahualam. [MNews/Has]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *