[Nafsiyah] Setiap Amal Ada Masa Malasnya

[Nafsiyah] Setiap Amal Ada Masa Malasnya

Salah satu di antara penyebab malas dalam ibadah ialah karena terlalu berlebihan dalam suatu amalan. Kemudian, tidak adanya suasana keimanan yang menyertai setiap amalnya.


Muslimah News, NAFSIYAH — Pernahkah Anda merasa mulai kendor dalam beramal dan muncul rasa malas untuk  bergegas memenuhi seruan Allah Swt.? Malas menunaikan salat di awal waktu, malas membaca, malas berdakwah, atau malas mengikuti kajian dalam majelis ilmu. Rasa malas merupakan bagian dari fitrah manusia. Namun, tidak semestinya kita memperturutkan rasa malas hingga melalaikan perkara syariat.

Dari Mujahid, ia berkata, aku dan Yahya bin Ja’dah pernah menemui salah seorang Ansar yang merupakan sahabat Rasulullah saw., ia berkata, para sahabat Rasul membicarakan bekas budak milik Bani ‘Abdul Mutholib. Ia berkata bahwa ia biasa salat malam (tanpa tidur) dan biasa berpuasa (setiap hari tanpa ada waktu luang untuk tidak puasa. Nabi saw. pun bersabda, ‘Akan tetapi aku tidur dan aku salat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohku maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bidah maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk.” (HR Ahmad)

Setiap orang akan menghadapi semangat dalam beramal dan ada masanya ia kendor dalam beramal (malas). Salah satu di antara penyebab malas dalam ibadah ialah karena terlalu berlebihan dalam suatu amalan. Kemudian, tidak adanya suasana keimanan yang menyertai setiap amalnya, ia beramal bukan ditujukan pada Allah semata, namun, mengharapkan pujian manusia atau imbalan materi. Saat amal dilakukan tapi minim pujian dan imbalan materi akhirnya menjadikannya malas untuk melakukannya lagi. Lalu, apa yang harus dilakukan setiap muslim jika malas melanda?

Pertama, meminta perlindungan pada Allah dari sifat malas dengan doa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, memastikan diri untuk terus mengikuti majelis ilmu. Karena jika majelis ilmu sudah sering ditinggalkan untuk bangkit dari rasa malas pun tak mampu dilakukan. Hanya dengan memahami berbagai tsaqafah Islam, rasa malas bisa ditepis. Sebab dengan ilmu kita bisa lebih produktif, kreatif, dan inovatif. Asupan ilmu “langit” akan menguatkan dan mengukuhkan langka setiap muslim.

Ketiga, jika rasa malas muncul karena dosa yang dilakukaan saat pagi, siang, atau malam hari. Hendaklah memperbanyak istigfar, memohon ampunan pada Allah Swt.. Terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia. Padahal itu merupakan salah satu penyebab lesu, malas, dan meremehkan ibadah dan ketaatan.

Ia pun tidak mampu untuk mengerjakan ketaatan dan ibadah, meski sebenarnya semua itu menjadi jalan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah Swt. berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS Asy-Syura: 30)

Dengan demikian, rasa malas bisa dihalau dengan melakukan beberapa amalan di atas. Meski kita menemukan setiap amal ada masa malasnya, tapi tidak membuat kita menjadi orang-orang yang futur dalam kehidupan.

Pastikan berada di tengah-tengah orang yang beriman dan beramal saleh, hal ini juga menjadi salah satu “obat” malas. Berada dalam lingkaran orang yang beriman dan beramal saleh menjadikan kita terus berlomba-lomba dalam kebaikan, rasa malas pun bisa ditemukan segera jalan keluarnya. Masyaallah. [MNews/Rnd]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *