Manusia yang senantiasa berserah diri kepada Allah akan diliputi kemudahan dan keberkahan dalam hidupnya.
Muslimah News, NAFSIYAH — Tidak ada satu pun ketetapan serta ujian yang menimpa manusia kecuali ada hikmah dari Allah Swt.. Kewajiban kita adalah mencari hikmah dari setiap ujian. Ibnul Qayyim memaknai hikmah yaitu melakukan sesuatu yang harus dilakukan, dalam bentuk yang sebagaimana mestinya dan pada waktu yang tepat.
Apakah manusia berpikir bahwa Allah Swt. akan membiarkan mereka ketika mengatakan, “Kami beriman” tanpa menguji kebenaran dari perkataan mereka dengan ujian melalui harta dan diri mereka? Tentu tidak demikian, karena Allah Swt. pasti akan menguji manusia agar menjadi jelas kebenaran dan keteguhannya.
Allah Swt. berfirman, “Dan Kami jadikan sebagian kamu ujian bagi sebagian yang lain. (Demikian untuk membuktikan, apakah) kamu mau bersabar? dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.” (QS al-Furqan: 20)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian bala’ dan sesungguhnya siapa yang rida mendapat ujian, tentu baginya keridaan Allah, dan siapa yang murka mendapat ujian, tentu baginya murka Allah.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)
Salah satu hikmah bersabar dalam ujian ialah melatih diri untuk tidak mengeluh saat menghadapi ujian. Ia bertawakal kepada Allah Swt., mewakilkan kepercayaan kepada-Nya ketika suatu ujian menimpanya. Ia akan berserah diri kepada Allah Swt. (atsiqah billah). Kemuliaan akan tampak pada dirinya, karena memiliki totalitas kepasrahan pada Allah Swt..
Dalam kehidupan para Nabi, kepasrahan total kepada Allah menjadi metode paling efektif untuk menghadapi setiap masalah. Manusia yang senantiasa berserah diri kepada Allah akan diliputi kemudahan dan keberkahan dalam hidupnya. Ia menjadi manusia yang tak mudah berputus asa, memiliki hati dan kemandirian yang kuat dalam mengambil keputusan untuk hidupnya.
Dengan berserah diri kepada Allah Swt., manusia menjalani kehidupan di jalan yang benar, tanpa keraguan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan. Karena ia memahami sebaik-baiknya rencana manusia, jauh lebih baik rencana yang Allah susun untuknya. Hidupnya pun bermakna dan selalu optimis dengan berbagai keadaan yang menimpanya.
Hendaknya kita berdoa kepada Allah Swt. dengan doa, “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami.” (QS al-Baqarah: 128) [MNews/Rnd]
