Mendidik anak pada zaman sekarang ini banyak sekali tantangannya. Pendidikan anak usia dini belum bisa optimal. Pengaruh lingkungan dan sistem sekuler saat ini kurang kondusif. Lalu bagaimana cara mendidik anak pada masa golden age agar mereka menjadi generasi emas?
Penulis: Ummu Naira
Muslimah News, KELUARGA — Anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah Taala. Pada orang tua ada kewajiban pengasuhan dan pendidikan yang baik dan benar sesuai syariat-Nya. Kewajiban memberikan maklumat Islam yang benar harus dimulai sejak anak dalam kandungan.
Sejak anak usia dini atau kita sebut sebagai the golden age (usia emas), orang tua bisa mulai mengajarkan anak tentang tauhid, iman, dan syariat Islam. Pada masa inilah potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku anak terbentuk.
Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa otak anak akan menunjukkan tingkat kecerdasan optimal jika distimulus sejak tiga tahun pertama usianya. Gordon Dryden dan Jeanette Voss (Martuti, 2008) menunjukkan hasil penelitian bahwa 50% kemampuan belajar seseorang ditentukan pada empat tahun pertama dan membentuk 30% yang lain sebelum mencapai delapan tahun. Adapun sisanya pada usia setelah itu.
Memang, mendidik anak pada zaman sekarang ini banyak sekali tantangannya. Pendidikan anak di usia dini belum bisa optimal. Pengaruh lingkungan dan sistem sekuler saat ini kurang kondusif. Tantangan mulai dari media seperti televisi dan gadget sangat besar untuk keluarga dan anak-anak. Keinginan para orang tua untuk mengoptimalkan potensi anak terus menemui ganjalan.
Lalu bagaimana cara mendidik anak pada masa golden age agar mereka menjadi generasi emas? Pertama, pahami potensi dasar anak. Kedua, menciptakan suasana belajar yang positif dan menyenangkan. Ketiga, sharing dan konsultasi dengan tenaga ahli di bidangnya. Keempat, dukungan negara.
1. Pahami potensi dasar anak.
Anak usia dini juga manusia. Ia memiliki kebutuhan jasmani, naluri, dan akal. Kebutuhan jasmani seperti rasa lapar, rasa haus, ingin tidur dan lainnya. Kebutuhan jasmani harus terpenuhi dan jika tidak terpenuhi akan berpotensi mengakibatkan kematian. Kebutuhan jasmani berasal dari dalam diri manusia.
Selain kebutuhan jasmani, anak memiliki kebutuhan naluri. Naluri (gharizah) ada tiga macam, yaitu beragama (gharizah tadayyun), mempertahankan diri (gharizah baqa’), dan berkasih sayang (gharizah nau’).
Penampakan naluri beragama adalah seperti ingin dekat dengan Allah Swt. dengan beribadah sebaik mungkin, rajin salat dan mengaji. Contoh penampakan naluri berkasih sayang adalah rasa ingin diperhatikan orang lain dan ingin disayangi. Adapun penampakan naluri mempertahankan diri adalah seperti ingin dihargai dan dipuji. Jika semua kebutuhan naluri ini tidak terpenuhi, tidak sampai mengakibatkan kematian.
Potensi terakhir adalah akal. Orang tua bisa mengoptimalkan perkembangan akal anak sejak usia dini dengan cara menstimulus komponen akal, yaitu fakta, pancaindra, otak, dan informasi sebelumnya. Orang tua bisa berupaya memenuhi kebutuhan anak dengan melihat potensi dasar yang anak miliki.
2. Ciptakan suasana belajar yang positif dan menyenangkan.
Komponen akal anak yang belum sempurna perlu disokong oleh orang tua dengan menghadirkan fakta yang menyenangkan bagi anak sehingga bisa menjadi informasi sebelumnya yang positif.
Suasana yang menyenangkan dan kondisi hati anak yang bahagia bisa mengoptimalkan perkembangan otak anak. Pada saat bahagia, anak lebih cepat menyerap informasi dan banyak memahami hal-hal baru.
Sejak anak dalam kandungan, orang tua bisa memperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Hal ini sangat baik untuk menstimulus kecerdasan anak dan merangsang perkembangan indra anak, terutama pendengarannya.
3. Sharing dan konsultasi dengan tenaga ahli di bidangnya.
Tidak jarang para orang tua mengalami kebuntuan atau stagnasi dalam proses mendidik anak. Dalam kondisi ini, para orang tua bisa melakukan sharing atau berbagi pengalaman dan kendala apa saja yang dihadapi dalam proses tumbuh-kembang anak dengan pakarnya.
Orang tua bisa memilih guru, dokter dan lain-lain yang lebih profesional di bidangnya untuk mendapatkan solusi atau minimal bisa mengurai masalahnya.
4. Dukungan negara.
Bagaimanapun, peran negara sangat penting bagi proses pendidikan anak usia dini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, negara bisa mewajibkan (dan senantiasa mengingatkan) para orang tua untuk mendidik anak usia dini sesuai dengan perintah syariat Islam. Sumber hukum syariat menggunakan Al-Qur’an, hadis Rasulullah saw., ijmak, dan kias.
Negara juga mengingatkan hal-hal teknis terkait pengasuhan anak sehingga anak mendapatkan hak mereka dengan baik dan tidak ditelantarkan. Kontrol negara secara langsung dalam hal ini bisa dilakukan dengan menugaskan aparatur negara.
Secara tidak langsung, negara ikut berperan dalam membuat sistem pendidikan islami yang sangat mendukung terhadap perkembangan anak pada masa golden age.
Semua poin di atas memang hanya akan terwujud jika sistem kehidupan yang diterapkan oleh negara adalah sistem Islam kafah, bukan yang lain karena piranti teknis untuk menjalankan semua poin di atas hanya dimiliki oleh sistem Islam. Wallahualam. [MNews/Has]
