Hadis yang dibahas merupakan jawami’ul kalim [singkat namun penuh makna] yang dikaruniakan kepada Rasulullah saw.. Hadis ini dengan tegas menolak setiap perkara bidah dan setiap perkara (dalam urusan agama) yang direkayasa. Melalui hadis ini, kemurnian Islam terjaga dari tangan orang-orang yang melampaui batas. Hadis ini menyatakan dengan jelas keharusan meninggalkan setiap perkara bidah, baik diciptakan sendiri maupun mengikuti orang lain.
Penulis: Nabila asy-Syafi’i
Muslimah News, SYARAH HADIS –
عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللَّهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ، رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ، وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah, Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang mengada-ngadakan dalam urusan kami (agama kami) sesuatu yang bukan merupakan perkara agama, maka ia tertolak.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim, “Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah kami, maka ia tertolak.“
Kandungan Hadis
Kata ” رَدٌّ” (raddun) menurut ahli bahasa adalah tertolak atau tidak sah. لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا “Bukan dari urusan kami” maksudnya bukan dari hukum kami.
Hadis ini merupakan jawami’ul kalim [singkat namun penuh makna], yang dikaruniakan kepada Rasulullah saw.. Hadis ini dengan tegas menolak setiap perkara bidah dan setiap perkara (dalam urusan agama) yang direkayasa. Melalui hadis ini, kemurnian Islam terjaga dari tangan orang-orang yang melampaui batas. Hadis ini menyatakan dengan jelas keharusan meninggalkan setiap perkara bidah, baik diciptakan sendiri maupun mengikuti orang lain.
Al Allamah Syekh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah menjelaskan dalam tanya jawabnya, secara bahasa, bidah artinya adalah al-mubtadi’ alladzi ya’ti amran ‘ala syubhin lam yakun (orang yang melakukan bidah adalah orang yang mendatangkan perkara yang belum ada penggambaran sebelumnya); wa abda’ta asy syai’a ikhtara’tahu la ‘ala mitsalin (dan Anda melakukan bidah, yaitu Anda melakukan inovasi yang tidak ada contohnya). Artinya, di situ ada contoh yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan seorang muslim melakukan dengan menyalahinya.
Jadi, bidah adalah menyalahi tata cara yang telah dijelaskan oleh syariat untuk menunaikan perintah syarak. Makna ini ditunjukkan oleh hadis yang seringkali dijadikan dalil tentang bidah.
“Siapa saja yang melakukan perbuatan yang tidak ada ketentuan kami atasnya, maka tertolak.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Contohnya, barang siapa sujud tiga kali dalam salatnya (dan bukan dua kali), maka dia telah melakukan bidah. Sebab dia menyalahi apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Siapa yang melempar jumrah 8 kali lemparan (dan bukan 7 lemparan), maka dia telah melakukan bidah. Sebab ia juga menyalahi apa yang dicontohkan Rasul saw.. Siapa yang menambahi lafal azan atau menguranginya, maka ia telah melakukan bidah, sebab ia menyalahi azan yang dicontohkan atau telah ditetapkan oleh Rasulullah saw..
Imam Muslim telah mengeluarkan hadis dari Aisyah ra., beliau menggambarkan salat Rasulullah saw., Aisyah ra. berkata,
“Rasulullah saw. jika beliau mengangkat kepala setelah rukuk, beliau tidak sujud hingga tegak berdiri, dan jika beliau mengangkat kepala dari sujud, beliau tidak sujud hingga duduk tegak.”
Di dalam hadis ini Rasulullah saw. menjelaskan bahwa seorang muslim setelah bangkit dari rukuk, ia tidak sujud hingga ia berdiri tegak, dan jika mengangkat kepala dari sujud, ia tidak sujud lagi hingga ia duduk tegak.
Tata cara ini dijelaskan oleh Rasulullah saw.. Siapa saja yang menyalahi tata cara yang dijelaskan dalam hadis ini, ia telah melakukan bidah. Jadi, jika seseorang yang sedang salat bangkit dari rukuk, kemudian sujud sebelum berdiri tegak, maka ia telah melakukan bidah. Sebab ia menyalahi tata cara yang telah dijelaskan (dicontohkan) oleh Rasulullah saw.. Bidah ini adalah sesat dan pelakunya berdosa besar.
Sedangkan menyelisihi perintah syariat yang tidak ditentukan tata caranya namanya bukan bidah, tetapi menyalahi hukum syariat. Menyalahi atau penyimpangan seperti ini tidak dikatakan bidah, tetapi jika berkaitan dengan hukum taklifi (wajib, sunah, makruh, haram, dan mubah), dihukumi makruh atau haram. Jika berkaitan dengan hukum wadh’i, dihukumi fasad atau batil.
Imam Muslim telah mengeluarkan hadis dari Ubadah bin Shamit ra., ia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,
“Rasulullah saw melarang menjual emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sorgum dengan sorgum, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, kecuali harus sama, berupa bendanya dengan bendanya. Siapa saja yang menambah atau minta tambah, maka sungguh telah berbuat riba.”
Seandainya seorang muslim menyalahi hadis ini, lalu ia menjual emas dengan emas, tetapi ada kelebihan harga satu dengan yang lain, dan timbangannya tidak sama, maka ia tidak disebut telah melakukan bidah, tetapi disebut telah melakukan keharaman yakni riba.
Oleh karena itu, yang terkait dengan perkembangan sains dan teknologi, semisal komputer, alat transportasi, dan komunikasi, maka semua itu bukan terkategori bidah, dan bukan pembahasan bidah, tetapi terkait dengan sarana dan prasarana untuk kemudahan hidup, yang hukumnya adalah mubah. Allahu a’lam. [MNews/Rgl]
Sumber: https://suaramubalighah.com/2020/12/16/syarah-hadis-arbain-ke-5-perbuatan-bidah-tertolak/

MaasyaaAlloh akhirnya sy tau maksud hadits tentang bidah. Terimakasih ilmunya
Jadi bid’ah ini dalah perkara ritual/habluminallah ya ustadzah?