“Perkataan yang berat” pada ayat yang dibahas, maknanya adalah Al-Qur’an. Nabi saw. merasakan beban yang sangat berat ketika menerima wahyu. Ada yang mengatakan berat itu sangat dirasakan oleh kaum kafir karena di dalamnya terdapat hujah yang mengalahkan mereka, menjelaskan kesesatan mereka, mencela tuhan-tuhan mereka serta menyingkap berbagai khurafat ahli kitab.
Kategori: TafsirAlQuran
Ancaman bagi Mereka yang Mendustakan Al-Qur’an (Bagian 2)
Allah Swt. memerintahkan Nabi saw. untuk bersabar terhadap perkataan orang kafir yang menyakitkan. Juga (agar Nabi) meninggalkan mereka dengan cara yang baik. Allah Swt. juga memerintahkan beliau untuk menyerahkan urusan orang kafir itu kepada-Nya.
Ancaman bagi Mereka yang Mendustakan Al-Qur’an (Bagian 1)
Menurut Az-Zuhaili, Allah Swt. mengancam dan memperingatkan orang-orang kafir Makkah dan yang lainnya, Dialah Yang Maha Agung yang tidak ada sesuatu pun bisa menghadapi murka-Nya.
Sifat Manusia Penghuni Neraka
Orang-orang kafir itu sebenarnya tidak punya alasan sama sekali untuk berpaling dan menolak Al-Qur’an. Penolakan mereka terhadap Al-Qur’an disebabkan mereka tidak takut terhadap akhirat.
Saat Pertolongan Allah Taala Tiba
Tatkala pertolongan Allah Swt. dan kemenangan itu telah datang, terjadi pula peristiwa lainnya yang menakjubkan, yakni manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.
Orang yang Tidak Mendapatkan Syafaat
Syafaat menjadi otoritas Allah Swt. semata. Tidak ada yang bisa memberikan syafaat, kecuali dengan izin dan rida-Nya. Syafaat juga hanya akan diberikan kepada ahli tauhid, yakni kaum mukmin.
Tuntunan untuk para Dai
Dakwah tidak boleh berhenti sekalipun mendapatkan penolakan, permusuhan, dan berbagai tindakan menyakitkan. Ini pula yang diperintahkan Allah Swt. kepada Nabi-Nya untuk tetap bersabar dan tidak risau terhadap orang yang ingkar.
Dakwah Itu Mengajak, Bukan Memaksa (Tafsir QS An-Nahl Ayat 125)
Dakwah sejatinya mengajak orang ke jalan yang benar dan menyeru untuk taat. Hanya saja, jika dilakukan dengan cara-cara yang keliru seperti pemaksaan, justru keluar dari esensi dakwah itu sendiri yang merupakan wujud kasih sayang. Oleh karena itu, penting bagi para pengemban dakwah memahami cara dakwah itu harus disampaikan.
Mendudukkan Makna Lâ Ikrâha fid-dīn (Tafsir QS Al-Baqarah: 256)
Tidak memaksa orang kafir untuk memeluk Islam bukan berarti rida terhadap kekafiran mereka, bukan membenarkan semua agama yang ada, dan bukan menghilangkan status “kafir” dari diri mereka seperti pendapat pengusung Islam moderat.
Ancaman bagi Mereka yang Mendustakan Rasul ﷺ
Bagi mereka yang mendustakan Rasul, Allah mengancam akan menimpanya dengan azab sebagaimana yang telah menimpa orang-orang yang serupa dengan mereka.
Wahai Orang Yang Berselimut (Bagian 2/2)
Umat Islam diwajibkan mendirikan salat malam. Perintah wajib itu kemudian di-nasakh menjadi sunah bagi umatnya. Itu artinya, umat Islam tetap diperintahkan untuk mengerjakannya. Hanya saja, perintah itu ghayr jâzim (tidak tegas) sehingga jika meninggalkannya, tidak mendapatkan dosa, tetapi, telah meninggalkan banyak keutamaan.
Wahai Orang yang Berselimut (Bagian 1/2)
Muhammad Ali ash-Shabuni berkata, “Tinggalkan selimut dan bangkitlah melakukan salat malam serta bangun dalam beberapa saat untuk beribadah kepada Tuhanmu agar siap menanggung perkara yang agung, penting lagi berat. Itulah aktivitas menyampaikan dakwah Tuhanmu kepada manusia dan memberikan kabar gembira kepada mereka tentang agama yang baru, kemudian menjelaskan poros yang semestinya dilakukan dalam beribadah kepada Allah Swt.”
