Sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an itu mau beriman dan mengikuti konsekuensi keimanan. Berbeda jauh dengan orang-orang kafir Makkah yang tetap mengingkari Al-Qur’an.
Kategori: TafsirAlQuran
[Tafsir Al-Qur’an] Berita tentang Jin, Tafsir QS Al-Jin [72]: 2—3 (Bagian 3/5)
Ayat yang dibahas ini merupakan teguran dan celaan bagi yang kafir dari kalangan manusia. Sebabnya, jin saja bisa beriman dengan hanya mendengarkan Al-Qur’an satu kali. Sebaliknya, manusia-manusia yang kafir tidak dapat mengambil manfaat darinya.
[Tafsir Al-Qur’an] Berita tentang Jin, Tafsir QS Al-Jin [72]: 1—5 (Bagian 2/5)
Keberadaan Al-Qur’an yang menunjukkan pada ar-rusyd (kebenaran, petunjuk, dan kebaikan) mewajibkan siapa pun untuk memutus kesyirikan dari pangkalnya. Lalu masuk ke dalam agama Allah Swt. secara menyeluruh.
[Tafsir Al-Qur’an] Berita Tentang Jin, Tafsir QS Al-Jin [72]: 1—5 (Bagian 1/5)
Ayat yang sedang dibahas memberitakan tentang perkataan dan sikap para jin yang mendengarkan Al-Qur’an serta keadaan mereka.
[Tafsir Al-Qur’an] Kabar Gembira bagi Rasulullah ﷺ (Tafsir QS Al-A’la [87]: 6—8)
Dalam ayat yang dibahas ini, Rasulullah saw. mendapatkan dua kabar gembira. Pertama, beliau tidak akan lupa terhadap semua ayat yang dibacakan kepada beliau. Kedua, beliau diberi taufik ke jalan yang mudah.
[Tafsir Al-Qur’an] Orang yang Beruntung (Tafsir QS Al-A’la [87]: 14—19)
Rasulullah saw. mengumpamakan kehidupan dunia dibandingkan dengan akhirat seperti jari telunjuk yang dicelupkan di laut, maka maka air yang melekat di jari itulah kenikmatan dunia. Oleh karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang lebih memilih dan mengutamakan akhirat.
[Tafsir Al-Qur’an] Bacalah dengan Nama Tuhanmu
Ayat yang dibahas ini merupakan wahyu yang pertama kali diturunkan dan menjadi kenikmatan paling besar bagi manusia. Setelah mereka hidup dalam keadaan jahiliah dan tanpa bimbingan wahyu, cahaya petunjuk telah datang untuk menerangi kehidupan mereka.
Membiarkan Kemungkaran, Mengundang Siksaan (Tafsir QS Al-Anfal [8]: 25)
Fitnah, kerusakan, atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat, tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi juga orang lain yang tidak terlibat langsung. Agar hal itu tidak terjadi, setiap kemungkaran harus dicegah dengan melaksanakan amar makruf nahi mungkar.
[Tafsir Al-Qur’an] Terikat Syariat, Menuai Maslahat (Tafsir QS Al-Anfal [8]: 24)
“Di mana ada syariat, di situ pasti ada maslahat.” Kaidah ini harus diyakini setiap mukmin, sekalipun akalnya tidak selalu dapat menjangkau fakta maslahat yang terkandung dalam syariat itu. Dengan keyakinan tersebut, seorang mukmin akan lebih lapang menerima ketetapan syariat.
[Tafsir Al-Qur’an] Konspirasi Kaum Kuffar (Tafsir Surah Al-Anfal [8]: 30)
Konspirasi orang-orang kafir terhadap Islam dan umatnya tidak pernah berhenti. Oleh karena itu, konspirasi tersebut harus dibongkar. Al-Qur’an sendiri memberikan banyak contoh tindakan membongkar konspirasi (kasyf al-mu‘âmarât) tersebut.
[Tafsir Al-Qur’an] “Kalimat Sawa’” Bukan Justifikasi untuk Dialog Antaragama (Tafsir Surah Ali Imran (3) Ayat 63)
Ayat yang dibahas ini sering dijadikan argumentasi oleh kalangan tertentu yang berusaha menjustifikasi dialog antaragama dengan asumsi bahwa ketiga agama—Islam, Kristen, dan Yahudi—mempunyai persamaan, yakni sama-sama agama samawi. Faktanya, tidak ada satu kata atau frasa pun yang bisa dijadikan argumentasi gagasan tersebut.
Keistimewaan Al-Qur’an (Tafsir QS ‘Abasa [80]: 11—16)
Di antara keistimewaan Al-Qur’an adalah sifatnya yang mudah diingat dan dihafal, bukan hanya sebagian, bahkan semuanya. Keistimewaan lainnya adalah tertulis dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan di sisi Allah Taala. Oleh karena itu, isinya pasti benar dan adil. Selain itu, disucikan, yakni terbebas dari semua kesalahan, pengurangan, penambahan, dan perubahan.
