Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq
Muslimah News, OPINI — “Kalau kita mengacu pada hadis Nabi, siapa yang berkata, ‘Laa ilaaha illallah dakhala jannah,’ masuk surga, berarti penduduk surga itu kebanyakan bangsa Indonesia,” ujar Wapres Ma’ruf Amin.
Siapa yang tidak suka mendengar atau membaca pernyataan di atas? Bagi kaum muslim negeri seribu pulau ini, perkataan tersebut bagaikan angin segar pelepas dahaga. Sebagaimana kita ketahui, bagi mereka yang percaya akhirat, pasti impiannya masuk surga. Namun, apakah masuk surga itu semudah membalikkan telapak tangan?
Perlu Diluruskan
Alasan Wapres berkata demikian karena Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Ia juga menyatakan bahwa masuk surga itu memang butuh proses, tetapi ada yang bisa masuk langsung, ada pula yang perlu melalui proses “pemanggangan”. Harapannya pun luar biasa, semoga orang Indonesia tidak banyak yang perlu dipanggang. (CNN Indonesia, 01/08/2022).
Mendengar pernyataan surga kebanyakan dari bangsa Negeri Khatulistiwa dan harapan tidak banyak orang yang dipanggang tentu sangat aneh. Pasalnya, pernyataan itu terkesan melebihkan bangsa ini dari bangsa lainnya.
Kalau misal kita tarik garis ke belakang, siapa yang lebih dahulu masuk Islam? Tentu jawabannya adalah orang Arab. Sejak pertama kali Islam turun hingga sekarang, mayoritas penduduk timur tengah beragama Islam. Sedangkan Islam masuk Indonesia baru sekitar abad 30 H, yaitu 300 tahun setelah peristiwa hijrah Nabi. Jadi mungkinkah bangsa negeri ini lebih banyak dari bangsa Arab?
Makna Syahadat
“Barang siapa yang mengatakan, ‘Laa ilaaha illallah,’ pasti masuk surga.” Pernyataan ini tentu memiliki maksud yang lebih dalam daripada sekadar setiap muslim pasti masuk surga.
“Laa ilaaha illallah” adalah kalimat syahadat. Ketika membaca kalimat ini, si pembaca harus memahami konsekuensinya. Tidak hanya terucap dalam lisannya, tetapi juga perlu meyakini kebenarannya, ikhlas menerima segala konsekuensinya, dan patuh pada segala ketetapan-Nya. Kalimat ini menyatakan tidak ada sembahan yang patut disembah kecuali Allah Taala.
Allah Swt. berfirman,
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS Al-Hajj: 62)
Orang Quraisy pada masa Rasulullah saw. tidak mau mengucapkan kalimat syahadat karena paham konsekuensinya. Ketika mereka mengucapkannya, harus 100% tunduk pada Allah Taala, baik dalam masalah ibadah akhirat maupun kehidupan dunia. Mereka harus ikhlas menerima aturan-Nya.
Allah Swt. berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal, mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas memurnikan ketaatan kepada-Nya semata dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah: 5)
Taat “Tanpa Tapi”
Setelah bersyahadat, seorang muslim wajib memahami bahwa Allah memiliki syarat (aturan) untuk dijalankan oleh umat manusia. Hal ini disampaikan Allah Swt. dalam Al-Qur’an,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah Taala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syariat; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/335)
Dengan demikian, umat Islam khususnya di Indonesia, seyogianya harus paham bahwa sebagai muslim tidak cukup bersyahadat saja, melainkan perlu memahami, mempelajari, dan mengamalkan semua perintah Allah Swt. dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Contohnya, menegakkan sanksi Islam, meninggalkan riba, hingga melaksanakan seluruh hukum Allah dalam seluruh interaksi kehidupan dalam dan luar negeri. Penguasa paling bertanggung jawab dalam merealisasikan kalimat tersebut dalam mengelola negaranya, bukan malah menjadi pelopor sekularisme. Di akhirat kelak, tidak ditanyakan seberapa banyak kita membaca syahadat, tetapi bagaimana cara kita beramal.
“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS Ar-Ra’du: 18)
Mampir di Neraka
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra., Nabi saw, bersabda, “Penghuni surga akan masuk surga dan penghuni neraka akan masuk neraka. Kemudian Allah Taala memerintahkan, ‘Keluarkan dari neraka orang-orang yang dalam hatinya ada iman seberat biji sawi.’ Maka dikeluarkanlah mereka dari neraka yang warna (badannya) benar-benar hitam, lalu dimasukkan ke dalam sungai hidup atau sungai kehidupan, lalu tumbuhlah mereka seperti biji yang tumbuh setelah air bah. Adakah engkau tidak melihatnya? Sesungguhnya ia keluar berwarna kuning yang melilit.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, sebelum masuk surga, umat Islam ada yang mampir ke neraka. Hal ini untuk menebus dosa-dosanya di dunia. Lamanya di neraka tergantung kesalahannya. Namun, kita tidak boleh menyepelekan hal ini sebab siksaan di neraka tidaklah main-main.
“Sungguh siksa yang paling ringan bagi penduduk neraka di hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan di ujung kedua tumitnya dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya.” (HR Muslim)
Sungguh, kita tidak bisa membayangkan panasnya bara api itu. Bara api di akhirat lebih panas daripada api di dunia. Jika di dunia saja kulit kita bisa melepuh, bagaimana dengan di akhirat?
Demikian juga tentang lamanya di akhirat. Allah Swt. berfirman,
وَیَسۡتَعۡجِلُونَكَ بِٱلۡعَذَابِ وَلَن یُخۡلِفَ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥۚ وَإِنَّ یَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةࣲ مِّمَّا تَعُدُّونَ
“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Al-Hajj: 47)
Artinya, sehari di neraka sama saja dengan seribu tahun di dunia. Jadi, ketika kita membicarakan siksa Allah di akhirat, ini bukan perkara yang main-main.
Khatimah
Dari sini, kita dapat menyimpulkan, jika kita ingin masuk surga, kuncinya adalah taat tanpa syarat. Sebagai orang beriman, selayaknya kita bersungguh-sungguh taat demi meraih rida Allah Taala. Semoga Allah meringankan hisab kita di akhirat kelak. Wallahualam. [MNews/Gz]
