[Editorial] Invasi Budaya dan Kapitalisasi Potensi Pemuda

[Editorial] Invasi Budaya dan Kapitalisasi Potensi Pemuda

Muslimah News, EDITORIAL – Fenomena “Citayam Fashion Week” (CFW) tampaknya cukup mewakili potret pergolakan pemikiran dan budaya yang sedang melanda kaum muda Indonesia. Mereka yang rata-rata berasal dari kelas menengah ke bawah, seakan punya ruang bebas untuk mengekspresikan segala bentuk pikiran dan gaya hidup yang menurut mereka sangat kekinian.

Fenomena CFW ini tentu tidak terjadi secara kebetulan. Senyatanya, kaum muda kita sudah lama menjadi anak asuh media sosial. Sementara media sosial begitu sarat dengan propaganda paham sekuler liberal yang melahirkan gaya hidup serba permisif, hedonis, konsumtif, dan serba instan.

Lihat saja. Bagi entitas ini, nongkrong seakan telah menjadi sebuah budaya. Tampil “gaya” bagi mereka adalah segalanya. Sementara jadi viral seakan menjadi cita-cita bersama. Demi itu pula mereka berlomba tampil sebeda mungkin dari yang lainnya. Tidak peduli mereka justru tampak alay, bahkan lebay. Yang penting mereka bisa eksis di media sosial, syukur-syukur kalau viral.

Invasi Budaya dan Posisi Penguasa

Mirisnya, fenomena ini justru mendapat apresiasi positif dari penguasa dan sebagian masyarakat kita. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno misalnya, berharap kawasan Sudirman Center Business District (SCBD) dan CFW ini bisa menjadi pusat budaya dan fesyen ekstrem sebagaimana Harajuku di Jepang.

Ia memandang, ada potensi ekonomi besar di balik fenomena CWF di Taman Dukuh Atas jalan Sudirman ini. Setidaknya, kawasan SCBD dan ajang CWF ini bisa menjadi sumber konten menarik untuk mengangkat urban tourism alias pariwisata perkotaan.

Ia juga berharap, SCBD dan CFW bisa menjadi trendsetter bagi fesyen. Sekaligus menjadi influencer (pemengaruh) yang mendukung promosi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Maklum, saat ini UMKM tengah mendapat perhatian lebih karena menjadi andalan pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tengah lesunya ekonomi global.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan juga mengapresiasi sama. Ia bahkan sengaja menyambangi Taman Dukuh Atas di SCBD dan berinteraksi dengan para tongkrongers yang sedang berada di sana.

Ia mengatakan bahwa Dukuh Atas dan Terowongan Kendal memang sengaja dirancang sebagai ruang ketiga. Di tempat ini warga bisa berkumpul dan bertemu dalam posisi yang setara. Menurutnya, Jalan Sudirman yang tadinya hanya milik sedikit orang saja, kini bisa dinikmati semua orang, termasuk para pemuda Citayam dan sekitarnya.

Jika dilihat sepintas, fenomena CFW di SCBD memang tampak wajar saja. Apa salahnya jika kaum muda menikmati masa mudanya dengan penuh kreasi dan ekspresi? Daripada mabuk-mabukan dan terlibat narkoba, bukankah lebih baik jika mereka menghabiskan waktu bersama teman sebaya, lalu menjadi inspirasi bagi para kreator dan influencer di dunia maya? Bukankah dunia maya hari ini bisa menjadi salah satu sumber cuan yang bisa memutar roda perekonomian juga?

Masalahnya, budaya yang sedang mereka kembangkan bukan modal yang kita butuhkan untuk menjadi negara besar. Anak-anak muda kita justru sedang diaruskan menjadi objek pasar budaya sekuler liberal, sekaligus lapak bagi produk industri kapitalis lokal dan internasional. Kalaupun ada harapan menggenjot UMKM, tetap saja posisi mereka hanyalah sebagai objek pasar!

Lihat saja, bukan hanya mode yang sedang berkembang di Sudirman. Anak-anak muda itu berani tampil berpasang-pasangan, bahkan sebagian mereka adalah pengidap penyakit seks menyimpang. Mereka tidak malu menampilkan diri sebagai bucin (budak cinta) yang bangga punya pacar keren bergaya ala Korea. Jika mereka ditanya, mereka pun punya definisi tersendiri soal visi hidup, makna keren, dan bahagia.

Pertanyaannya, profil anak muda seperti inikah yang kita harapkan bisa mengisi masa depan bangsa? Akankah visi Indonesia Emas 2045 dengan tagline “Menjadi bangsa yang maju, berdaulat, adil, dan makmur” serta “Menjadi satu dari lima kekuatan ekonomi dunia”, bisa tercapai di tangan pemuda seperti mereka?

Persoalan Paradigma

Fenomena CFW sesungguhnya menambah panjang problem kepemudaan di tengah ancaman perang politik, budaya, dan pemikiran. Betapa banyak dari mereka yang kehilangan visi hidup dan pegangan moral hingga menjadi generasi cuek dan pragmatis yang minus rasa tanggung jawab, baik terhadap masa depan dirinya, keluarga, masyarakat, negara, apalagi agama.

Sebagian mereka tenggelam dalam arus pergaulan bebas yang menodai masa depan mereka. Kriminalitas pun sudah lekat dalam kehidupan para pemuda. Narkoba, tawuran, kekerasan seksual, juga lumrah dalam keseharian mereka.

Bisa jadi, ekspresi bebas yang mereka tunjukkan dalam berbagai gaya, bukan datang dari kreativitas sesungguhnya. Melainkan bukti merebaknya mental illness yang menimpa anak-anak muda gegara menghadapi situasi ekonomi yang makin berat.

Sementara itu, peran pendidikan dan sistem sosial tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sistem yang diterapkan justru menjadi salah satu pemicu munculnya generasi yang bingung dengan dirinya. Kepribadian mereka rusak, bahkan nyaris tidak kenal agama. Bagi mereka, ajaran agama hanyalah olok-olokan dan dipandang berbahaya.

Masalahnya, semua berangkat dari paradigma penguasa; mulai soal visi, misi, dan fungsinya dalam bernegara. Juga bergantung pula pada bagaimana pandangan mereka menyangkut potensi para pemuda serta tanggung jawab mereka terhadap para pemuda.

Sayangnya, dalam sistem pemerintahan sekuler kapitalisme, posisi penguasa memang hanya regulator dan wasit saja. Penguasa dan negara tidak punya fungsi mengurus dan menjaga umat sebagaimana diajarkan Islam. Mereka hanya hadir demi melegitimasi kerakusan para pemilik modal.

Wajar jika rakyat, termasuk para pemuda, bisa memilih jalan hidup semau mereka. Soal agama atau moral tidak ada urusan dengan penguasa dan negara.

Dalam paradigma sekuler kapitalisme, potensi pemuda pun dipandang tidak lebih sebatas aset ekonomi saja. Besarnya jumlah pemuda dan bonus demografi yang luar biasa hanya dihitung sebagai potensi andalan untuk menggerakan kembali ekonomi bangsa yang lesu akibat wabah dan krisis yang melanda dunia.

Tidak heran jika program-program pemberdayaan pemuda melulu fokus pada meningkatkan peran serta mereka dalam aspek perekonomian. Pendidikan vokasional dan pelatihan kewirausahaan terus digenjot sedemikian rupa. Bahkan konsep merdeka belajar hanya ditujukan untuk menciptakan generasi produktif dan punya daya saing serta kemandirian di aspek ekonomi semata.

Ndilalahnya, soal moral dan agama makin lama makin termarjinalkan saja. Proyek moderasi Islam justru diarusderaskan sebagai prasyarat terbentuknya masyarakat inklusif yang–katanya–dibutuhkan untuk mendukung liberalisasi ekonomi yang mendunia.

Akibatnya, tatkala muncul problem di berbagai bidang, termasuk moral, penguasa hanya fokus untuk menyelesaikan masalah cabang saja. Padahal akar problemnya adalah penerapan asas dan aturan hidup sekuler kapitalis neoliberal.

Selamatkan dengan Islam

Sungguh, paradigma penguasa dan pembangunan sekuler kapitalistik telah menjauhkan pemuda dari posisi strategisnya sebagai motor peradaban. Bahkan paradigma ini telah membajak potensi pemuda untuk kepentingan mengukuhkan penjajahan kapitalisme global, khususnya di dunia Islam.

Mereka hanya diarahkan menjadi sekrup mesin pemutar roda industri kapitalis, sekaligus menjadi objek pasar bagi produk yang dihasilkan. Fesyen, barang-barang konsumsi, produk hiburan dan permainan, semua dipropagandakan sebagai alat meraih kebahagiaan dan prestasi.

Hal ini sejalan dengan pengarusan produk pemikiran yang mengubah mindset kaum muda menjadi kian cinta dunia. Hingga pada saat yang sama hilanglah kecintaan akan agama dan perjuangan membangkitkan umatnya. Padahal dalam konteks perang peradaban yang senyatanya sedang terus berjalan, kondisi ini tentu sangat diharapkan oleh musuh-musuh Islam.

Oleh karena itu, para pemuda harus segera diselamatkan. Namun, berharap pada penguasa sekuler dan sistem yang diterapkannya tentu bukan pilihan. Justru keduanya bertanggung jawab atas hilangnya kekuatan dan potensi yang ada pada kaum muda. Padahal, melalui tangan merekalah peradaban cemerlang diharapkan bisa kembali ke pangkuan umat Islam.

Cara yang bisa ditempuh adalah melalui dakwah mengubah mindset tentang hidup dan hakikat Islam sebagai solusi sahih bagi seluruh problem kehidupan. Tentu bukan hanya menyasar kepada kalangan pemuda, tetapi kepada semua kelompok masyarakat agar mereka siap menerima Islam dengan penuh keyakinan, sekaligus siap memperjuangkan.

Dengan cara inilah umat akan memiliki daya tolak atas propaganda sesat tentang kehebatan peradaban sekuler liberal. Melalui dakwah pemikiran pula, pola pikir dan pola sikap mereka, makna dan standar kebahagiaan mereka, akan benar-benar diformat ulang. Sehingga yang tadinya sangat profan dan materialistik menjadi kental semangat ruhiyah dan ukhrawiyah.

Mindset seperti inilah yang pernah dimiliki umat, termasuk kaum muda, pada era peradaban emas Islam. Mereka, kala itu, dengan tepat mendudukan diri mereka dan tanggung jawab hidup mereka sebagai hamba Allah sekaligus khalifah pemakmur alam semesta.

Mereka giat beribadah, tetapi pada saat yang sama terdorong menjadi pribadi yang bermanfaat untuk umat. Tidak heran jika generasi mereka mampu tampil sebagai mercusuar peradaban selama belasan abad. Ilmu pengetahuan dan kemajuan material berkembang di tangan kaum beriman. Sementara negara mereka, yakni khilafah Islamiah, mampu muncul sebagai adidaya yang memimpin dunia dan menebar kerahmatan.

Tidakkah kita rindu para pemuda kembali pada fungsinya sebagai motor perubahan sekaligus pilar peradaban cemerlang? Jika iya, maka segera selamatkan mereka dengan dakwah penegakkan Islam kafah. Jangan biarkan musuh-musuh Islam memenangkan pertarungan hanya karena kita lalai dan malas untuk berjuang mengubah keadaan.

Benar bahwa berjuang menegakkan Islam pada era hegemoni peradaban sekuler kapitalisme neoliberal pasti sangat berat dan butuh pengorbanan besar. Namun, Baginda Rasulullah saw. telah mewariskan sebuah jalan perjuangan yang rasional dan sesuai untuk diterapkan sepanjang zaman.

Jika jalan ini ditempuh dengan sabar dan istikamah, dipastikan ujungnya adalah kemenangan. Masalahnya, siapkah kita mengambil jalan ini sebagai pilihan? Allah Swt. telah berfirman,

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.’” (QS Yusuf: 108)[MNews/SNA]

#IslamSelamatkanGenerasi

#WaspadaPembajakanPotensi

#KapitalisasiGenerasi

Share

One thought on “[Editorial] Invasi Budaya dan Kapitalisasi Potensi Pemuda”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *