Muslimah News, NASIONAL—Cendekiawan muslim, Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyatakan musuh besar L687 adalah agama. “Kaum L687 dan pendukungnya tahu bahwa musuh besar mereka adalah agama. Tidak ada perspektif apa pun yang bisa menghalangi mereka, kecuali agama,” jelasnya dalam “Jangan Jadi Corong Setan” di kanal UIY Official, Ahad (15/5/2022).
Ia menerangkan, jika memakai perspektif kesehatan, mereka punya cara-cara untuk membuat sehat.
“Ketika memakai perspektif reproduksi, mereka bilang bahwa faktor penurunan fertilitas bukan karena L687. Mereka bisa tunjukkan data-data di beberapa negara yang mengalami pertumbuhan penduduk mendekati 0% sehingga jangan salahkan L687, tetapi salahkan juga yang tidak mau punya anak,” ujarnya.
Untuk alasan cinta, lanjutnya, mereka mempertanyakan apakah cinta harus diberikan kepada lawan jenis?
“Apakah tidak boleh cinta kepada sejenis? Siapa yang mengatakan cinta harus kepada lawan jenis? [Mereka juga mengatakan bahwa] mereka juga cinta dan bisa diberikan kepada siapa saja,” ucapnya.
Lantas, ia menambahkan, apabila menggunakan perspektif kemanusiaan, mereka mengatakan justru jika mengganggap kami (kaum L687-red.) adalah manusia, maka harus diterima.
“Kami tidak meminta untuk menjadi seperti ini, tetapi kami telah menjadi seperti ini. Lalu, kami mau ditaruh di mana. Mau dibuang? Kami ini manusia juga,” katanya mengulang pertanyaan kaum L687.
Jadi, UIY menekankan, kalau tidak menggunakan perspektif agama, maka percayalah, tidak akan bisa.
“Di dalam agama, kita akan menemukan istilah fahisyah, jarimah, kisah kaum Nabi Luth, dan sebagainya. Inilah yang bisa menghalangi mereka sehingga mereka sangat tidak suka,” cetusnya.
Penghalang Utama
UIY menyatakan, pada suatu saat mereka bisa memerangi “kaum agamawan” yang dinilai menjadi penghalang utama.
“Ketika mereka benci, sadisnya bukan main. Contohnya, kasus Ryan. Penampilan luarnya tampak lembut, tetapi telah melakukan tindakan kriminal hingga level sangat keji,” ungkapnya.
Ia memaparkan sekarang kita masih bisa membicarakan persoalan ini secara bebas, tetapi bisa jadi beberapa tahun mendatang, sebagaimana terjadi di AS, orang tidak berani lagi against L687.
“Kalau ada politikus yang melawan L687, bisa dikeroyok, termasuk dengan kekerasan,” ujarnya.
Ia mencontohkan di Sydney, mereka punya pemukiman, pemasok makanan, bar, gereja sendiri, ada pendetanya, ada yang menjadi tentara dan anggota polisi.
“Bukan tidak mungkin mereka juga memiliki kelompok bersenjata yang mempertahankan eksistensi komunitasnya. Ini perang,” tukasnya. Meski ia tidak bermaksud menakut-nakuti, tetapi menurutnya, di berbagai negara fenomena ini mengarah ke sana.
Publisitas Kemaksiatan
Hal ini, menurut UIY, terjadi pula akibat adanya fenomena publisitas kemaksiatan. “Kemaksiatannya bisa jadi sudah lama terjadi, tetapi dengan media sosial akhirnya masuk ke ranah publik dan menjadi perbincangan, baik ada yang menerima maupun tidak. Mengapa ada yang menerima? Karena setan saja ada pengikutnya. Saat itulah terjadi sosialisasi yang menjadi pemassalan dan pemasifan,” jelasnya.
Padahal, ia menyatakan, Allah telah mengingatkan dalam QS An-Nur ayat 19 bahwa sesungguhnya orang-orang yang ingin agar fahisyah (perbuatan yang sangat keji itu) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat.
“Jadi, peringatan yang Allah berikan tentang tersiarnya fahisyah di tengah kaum beriman itu terjadi saat ini. Karena itu, ancaman dari Allah juga tidak main-main,” tegasnya.
Ia juga mengutip sabda Rasulullah saw. bahwa jika ada sebuah dosa dilakukan di muka bumi ini dan orang yang menyaksikan itu membenci dan menolaknya, maka ia bagai orang yang tidak menyaksikan. Sebaliknya, jika ia tidak menyaksikan, tetapi ia rida dengan kemaksiatan itu, maka ia bagai orang yang menyaksikan.
“Nah, yang terjadi hari ini adalah ia menyaksikan kemaksiatan dan rida karena dibincangkan dengan alasan mengangkat fenomena. Padahal, fenomena lain banyak yang bisa diangkat,” kritiknya.
Oleh karena itu, ia menegaskan kita harus punya dasar, yaitu benci kepada kekufuran, kefasikan, dosa, dan kemaksiatan.
“Tanpa dasar ini, maka kita akan kehilangan arah. Akibatnya, terjadilah ‘lumrahisasi‘ kemaksiatan, tidak bisa membedakan mana hitam dan putih,” pungkasnya. [MNews/Ruh]
