Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Muslimah News, OPINI — Pemerintah Indonesia resmi menunjuk Maudy Ayunda sebagai Juru Bicara (Jubir) Presidensi G20, yakni forum kerja sama multilateral antara 19 negara utama dan Uni Eropa (EU) di bidang ekonomi dan pembangunan internasional. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tersebut akan dilaksanakan pada November 2022 di Bali. (Kompas, 6/4/2022).
Terpilihnya Maudy Ayunda sebagai Jubir Presidensi G20 langsung direspons Pakar Marketing Communication Studies Unair Rani Sukma Ayu Suteja. Ia menilai, kemampuan komunikasi Maudy Ayunda sudah tidak diragukan lagi sehingga pantas menjadi Jubir Presidensi G20 mewakili Indonesia. Selama kiprahnya di dunia hiburan, sebut Rani, Maudy Ayunda juga mampu menjaga langkah dengan hati-hati sehingga selalu memiliki citra positif di hadapan publik.
Talenta Muda
Tidak hanya Maudy Ayunda. Pemerintah beberapa kali mencoba memberikan citra yang dekat dengan anak muda. Berawal dari adanya Staf Khusus Milenial Presiden yang semuanya terdiri dari anak muda.
Selanjutnya beberapa waktu lalu, Kementerian Agama juga mengajak Cinta Laura untuk mengampanyekan moderasi beragama. Di awal tahun ini, Presiden juga sempat memanggil pulang talenta muda Ainun Najib, pakar IT yang juga aktivis Islam, dari Singapura.
Memang tidak bisa dimungkiri bahwa Indonesia sedang mengalami bonus demografi. Namun, dengan rekam jejak pemerintah selama ini, akan seperti apakah potensi para talenta muda itu?
Isu G20 Relevan dengan Anak Muda?
Tidak terlepas dari penunjukan Maudy Ayunda tersebut, isu yang akan dibahas di G20 diklaim relevan dengan anak muda. Maudy menyebutkan, tiga isu prioritas tersebut adalah arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi berkelanjutan. Ketiganya sangat relevan dengan generasi milenial.
Menurut Maudy, tiga isu prioritas tersebut akan menjadi warisan bagi milenial dan generasi Z (Gen-Z) ke depan, terutama pada isu prioritas transformasi digital dan transisi energi berkelanjutan. (Kontan, 10/4/2022).
Maudy menyebutkan, perihal energi berkelanjutan atau energi bersih berarti membicarakan dunia yang memang akan diwariskan kepada anak-anak muda. Demikian halnya dengan transformasi digital.
Jadi, Maudy menekankan arti penting keterlibatan dan peran milenial dan Gen-Z dalam setiap pembahasan dan diskusi selama kepemimpinan Indonesia. Menurutnya, materi bahasan tidak hanya memiliki kepentingan nasional maupun internasional, tetapi juga secara personal.
Sebagai milenial, Maudy bertekad untuk tidak sekadar aktif berkontribusi kepada negara, tetapi juga lebih membuka diri atas wawasan dan informasi. Termasuk update terbaru mengenai diskusi penting dalam Presidensi G20 Indonesia yang harus menjadi prioritas personal untuk anak-anak muda.
Membajak Potensi Generasi Terdidik
Meski Indonesia memiliki sosok-sosok talenta muda, seperti Maudy Ayunda, Cinta Laura, hingga Ainun Najib, tetapi kita juga tidak bisa memungkiri tingginya angka kerusakan generasi muda di Indonesia. Terlebih dengan adanya pengaruh kehidupan sekuler dan budaya liberal, serta suasana pandemi, kerusakan generasi seolah makin terakselerasi.
Perkosaan merupakan bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan yang paling banyak terjadi di Indonesia sepanjang 2016—2020, yakni 7.338 kasus atau 29,61% dari total kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Bentuk kekerasan seksual paling banyak berikutnya adalah pencabulan, yakni 6.186 kasus (24,96%) dan inses sebanyak 3.318 kasus (13,39%). (Media Indonesia, 1/1/2022).
Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), per November 2021, terjadi kekerasan pada anak pada 2019 sebanyak 11.057 kasus, 11.279 kasus pada 2020, dan 12.566 kasus pada 2021. Angka kekerasan terhadap perempuan juga mengalami kenaikan.
Data-data ini baru mewakili sebagian kecil dari potret kehancuran generasi muda. Tidak pelak, figur publik sekaligus merepresentasikan generasi terdidik, seperti Maudy Ayunda, Cinta Laura, hingga Ainun Najib, justru jauh sekali dari realitas profil generasi muda di akar rumput. Potensi mereka yang menginternasional toh juga tidak mampu digunakan untuk perjuangan hakiki karena kiprahnya memang tidak untuk menyentuh persoalan mendasar di negeri ini.
Sosok talenta muda lulusan luar negeri seperti mereka ternyata sekadar ibarat lipstik dibandingkan kondisi riil generasi muda di dalam negeri yang konon sedang mengalami bonus demografi ini. Ditambah adanya momentum konvensi internasional sebagaimana G20, sungguh ini tidak ubahnya pembajakan potensi mereka selaku generasi terdidik.
Jangan Mau Dijajah
Generasi muda tidak semestinya tidak mau dijajah, lebih-lebih penjajahan pemikiran. Pasalnya, anak muda adalah titik tembak penjajahan pemikiran kapitalisme. Di antara wujud penjajahan pemikiran anak muda adalah dengan menjadikannya ikon bagi konvensi-konvensi internasional.
Atas nama prestise untuk tampil di konvensi-konvensi internasional, sejatinya penjajahan pemikiran itu tengah dilancarkan. Bagaimanapun, konvensi internasional pasti untuk kepentingan pemilik modal selaku tuas bagi berjalannya ideologi kapitalisme saat ini.
Anak muda yang belum selesai dengan dirinya sendiri menjadi sasaran empuk penjajahan pemikiran itu. Maksudnya, ada tiga pertanyaan besar kehidupan—yang jika ketiganya mampu terjawab cemerlang—maka anak muda itu layak dinyatakan selesai dengan dirinya sendiri. Ketiga pertanyaan itu adalah dari mana dirinya berasal, untuk apa dirinya hidup di dunia, dan akan ke mana dirinya setelah kehidupan ini berakhir.
Sekelumit potret anak-anak muda generasi terbaik Islam dahulu, mereka adalah orang-orang yang sudah selesai dengan urusan dirinya sejak belia. Mereka mampu melawan pemikiran jahiliah dengan kebangkitan pemikiran hakiki, pemikiran Islam.
Tidak heran, pada usia muda, mereka sudah mampu menyelesaikan permasalahan umat, bahkan mampu membangun peradaban dunia. Mereka bukanlah orang-orang yang mudah tergiur iming-iming prestise dunia, apalagi sekadar tampil sebagai label konvensi-konvensi internasional.
Dengan demikian, anak muda harus jeli. Jangan mau terperosok ke dalam penjajahan pemikiran. Kembalikan segala urusan dengan penyelesaian menurut Sang Khalik, Allah Taala.
Allah Taala berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha [20] : 124)
Khatimah
Kapitalisme masih tegak. Ideologi kufur itu masih belum berhenti untuk terus menyesatkan generasi muda muslim. Oleh karena itu, apakah kita akan mau disesatkan begitu saja atau kita melawan dan bangkit dari pemikiran kita selaku makhluk bagi Sang Khalik?
Allah Taala berfirman, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imron [3]: 110) [MNews/Gz]
