[Kabar] Aksi Walkout Negeri Muslim di PBB, UIY: Hanya Pencitraan Diplomatik

[Kabar] Aksi Walkout Negeri Muslim di PBB, UIY: Hanya Pencitraan Diplomatik

Muslimah News, INTERNASIONAL — Menyikapi aksi walkout sejumlah delegasi negeri muslim saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hendak berpidato di Sidang Umum PBB, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menilainya hanya sebagai bentuk pencitraan diplomatik atau “politik halaman depan” (front-stage politics).

“Aksi tersebut hanya pencitraan diplomatik atau lebih tepatnya ‘politik halaman depan’. Hal itu tidak mencerminkan kesungguhan nyata dalam membela Palestina. Di balik layar atau dalam ‘politik halaman belakang’ (back-stage politics), sejumlah penguasa negeri muslim justru dinilai tetap menjaga hubungan komersial, intelijen, dan diplomatik dengan pihak musuh demi mempertahankan kekuasaan,” ucapnya dalam Fokus to The Point: “Sandiwara Walkout Negeri Muslim?”, Ahad (4-10-2026) di kanal UIY Official.

Ia menjelaskan adanya perbedaan mencolok antara narasi publik yang dipertontonkan penguasa negeri muslim dengan realitas kebijakan yang mereka jalankan. “Aksi meninggalkan ruang sidang PBB yang dilakukan oleh puluhan delegasi hanya sekadar cara untuk menghindari kecaman publik domestik serta memoles citra politik. Mereka harus tampak tidak setuju terhadap Netanyahu dalam ‘politik halaman depan’. Akan menjadi persoalan besar ketika mereka tidak bereaksi, karena akan dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap Netanyahu,” paparnya.

Namun, pada saat yang sama, ungkapnya, praktik ‘politik halaman belakang’ tetap berjalan. “Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Yordania, hingga Maroko tetap memelihara hubungan resmi maupun jalur komunikasi rahasia dengan Israel. Media melaporkan mengenai pertemuan rahasia di Jerman antara kepala militer sejumlah negara Arab/Teluk dengan pejabat militer Zion*s dan Amerika Serikat,” terangnya.

Menurutnya, akar utama ketidakberdayaan negeri-negeri muslim dalam menghentikan kezaliman di Palestina terletak pada orientasi politik penguasanya. “Para penguasa Teluk dan negeri muslim lebih mengutamakan kepentingan politik domestik serta keamanan kekuasaan dinasti ketimbang kepentingan umat Islam. Ketergantungan yang mendalam terhadap Amerika Serikat dipicu oleh ketakutan para penguasa akan ancaman penggulingan kekuasaan,” jelasnya.

Ia menyampaikan, penguasa di negeri muslim khawatir bernasib sama seperti Presiden Mohamed Mursi di Mesir yang digulingkan lewat kudeta. “Ketakutan ini membuat mereka rela berkompromi dengan musuh. Negara betul-betul didedikasikan untuk keamanan dinasti atau keluarga, untuk kekuasaan keluarga, meski untuk hal itu mereka mengorbankan kehormatan seorang muslim di hadapan Netanyahu yang tangannya berlumuran darah,” tegasnya.

Ia menyatakan, populasi umat Islam yang mencapai lebih dari 2 miliar jiwa saat ini belum mampu menjadi kekuatan penekan karena terpecah-pecah ke dalam lebih dari 50 negara bangsa. “Solusi hakiki untuk membebaskan Palestina dan menyatukan kekuatan dunia Islam memerlukan dua unsur mutlak, yakni seorang pemimpin yang menyatukan dan institusi kepemimpinan tunggal (Khilafah),” bebernya.

Barat dan Zion*s, lanjutnya, sangat menyadari potensi ini sehingga mereka berupaya keras melakukan pembusukan politik (political assassination) dengan menyematkan stigma radikal dan fundamentalis terhadap ide penyatuan umat. “Umat Islam segera membebaskan diri dari westoxication atau racun pemikiran Barat—seperti sekularisme, kapitalisme, dan pragmatisme—serta terus bekerja keras melanjutkan perjuangan mengembalikan kejayaan Islam,” tuntasnya. [MNews/Ika Mawar]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *