Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Pemimpin yang baik dan disegani akan berpengaruh besar terhadap kepercayaan dan sikap orang-orang yang dipimpinnya. Ia adalah Sa’ad bin Muadz ra., tokoh pemimpin suku Bani Abdul Asyhal. Ketika berislam, Sa’ad tidak mencukupkan keislaman itu hanya ada pada dirinya. Akan tetapi, ia sadar bahwa posisinya sebagai pemimpin akan mampu memengaruhi kaumnya untuk berislam juga.
Kemudian Sa’ad bin Muadz menjadi sahabat terkemuka yang ditunjuk oleh Rasulullah saw. sebagai pembawa bendera kaum Anshar dalam Perang Badar. Ia juga salah seorang sahabat yang ditanya pendapatnya oleh Rasulullah saw. dalam perang tersebut. Tidak hanya itu, meninggalnya Sa’ad membuat Arasy Allah berguncang, Allah tersenyum kepadanya, dan kepergiannya diiringi 70 ribu malaikat.
Awalnya Tidak Suka, lalu Berislam
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa As’ad bin Zurarah membawa Mush’ab bin Umair ra. menuju perkampungan Bani Abdul Asyhal dan Bani Zhufar. Sa’ad bin Muadz adalah putra bibi As’ad bin Zurarah. Keduanya duduk dikelilingi orang yang telah berislam. Mereka mendengarkan penjelasan Islam dari Mush’ab bin Umair. Sementara itu, Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Muadz adalah pemuka Bani Abdul Asyhal yang masih musyrik. Keduanya tidak suka dengan kehadiran Mush’ab yang membawa ajaran baru.
Ketika mengetahui keberadaan Mush’ab dengan aktivitas dakwahnya, Sa’ad bin Muadz mengutus Usaid bin Hudhair untuk menegur dan memperingatkan Mush’ab agar keluar dari kampung mereka. Usaid langsung mengambil pedangnya, lalu bertolak menemui Mush’ab bin Umair. Ketika As’ad bin Zurarah melihat kedatangannya, ia berkata kepada Mush’ab, “Orang yang datang ini adalah pembesar kaumnya, maka sampaikanlah ajaran Allah dengan optimal dan gunakanlah cara yang terbaik.” Mush’ab membalas, “Jika ia mau duduk, aku akan menyampaikan dakwah kepadanya.” Usaid pun datang dengan mengecam dan berusaha mengusir Mush’ab. Mush’ab memandang Usaid, lalu berkata, “Maukah engkau duduk dan mendengar alasan kami? Jika engkau suka dengan apa yang kami sampaikan, terimalah. Namun, jika tidak, kami akan pergi dan tidak datang lagi kemari.” Sambil menancapkan pedangnya di atas tanah, Usaid menjawab, “Baiklah, ini keputusan yang adil.”
Mush’ab bin Umair ra. mulai menyampaikan Islam dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah Mush’ab mengakhiri penjelasannya, Usaid berkata, “Sungguh luar biasa dan indah sekali apa yang engkau sampaikan tadi. Apa yang harus dilakukan jika ingin berislam?” Mush’ab menjawab, “Mandilah dan bersihkan bajumu. Kemudian ucapkan kalimat syahadat bahwa tidak ada tuhan yang pantas disembah, kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian salatlah dua rakaat.” Setelah mengerjakan semuanya, Usaid berkata, “Sesungguhnya aku disuruh ke sini oleh Sa’ad bin Muadz. Jika ia mau mengikuti kalian, tidak ada seorang pun dari kaumnya yang menolak berislam. Aku akan mengusahakannya datang ke sini sekarang juga.”
Setelah bertemu dengan Usaid, Sa’ad langsung berdiri dengan penuh amarah dan bergegas menemui Mush’ab bin Umair. Sesampainya di sana, Sa’ad berdiri sambil melontarkan kecaman kepada mereka. As’ad bin Zurarah berkata kepada Mush’ab, ”Wahai Mush’ab, demi Allah, orang ini adalah tokoh paling terkemuka di kaumnya. Jika ia mau mengikutimu, tidak ada seorang pun dari kaumnya yang menolak berislam.”
Mush’ab pun berkata kepada Sa’ad, “Apakah engkau bisa duduk sejenak dan mendengar apa yang ingin kami sampaikan? Jika engkau suka dengan apa yang kami sampaikan, terimalah. Akan tetapi, jika tidak, kami akan pergi dan tidak akan melakukan kegiatan yang tidak engkau sukai.” Sa’ad menjawab sambil menancapkan pedangnya ke tanah, “Baiklah, itu keputusan yang adil.”️
Mush’ab mulai menyampaikan Islam dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah Mush’ab mengakhiri penjelasannya, Sa’ad berkata, “Apa yang kami lakukan jika mau berislam dan menerima agama ini?” Mush’ab menjawab, ”Mandilah dan bersihkan bajumu, lalu ucapkan kalimat syahadat dengan benar, lalu salatlah dua rakaat.” Sa’ad langsung menuju sumur. Ia mandi dan membersihkan bajunya. Kemudian, ia mengucapkan kalimat syahadat dengan benar dan diteruskan dengan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah itu, Sa’ad mengambil pedangnya dan pulang ke tempat pertemuan kaumnya bersama Usaid bin Hudhair.
Posisi Ketokohannya untuk Islam
Ketika kaumnya melihat kedatangan Sa’ad, mereka berkata, ”Kami bersumpah dengan nama Allah, Sa’ad datang dengan wajah yang berbeda ketika ia pergi dari sini tadi.” Sesampainya di tempat itu, Sa’ad berdiri dan berkata, ”Wahai segenap anggota suku Bani Abdul Asyhal, apa kedudukanku di tengah kalian selama ini?” Mereka menjawab, “Kami memandangmu sebagai pemimpin kami, orang yang paling baik dalam menjaga hubungan kekeluargaan di antara kami, memiliki pandangan yang paling baik, dan paling banyak membawa keberuntungan bagi kami.” Sa’ad melanjutkan, “Jika memang benar seperti itu, semua laki-laki dan perempuan di antara kalian haram berbicara kepadaku, kecuali jika kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Akhirnya sebelum matahari terbenam, tidak ada seorang pun dari suku Bani Abdul Asyhal yang belum menyatakan berislam.
Kepergian Sahabat Mulia
Sa’ad bin Muadz adalah sahabat mulia. Ia salah seorang sahabat yang berkontribusi besar dalam perjuangan bersama Rasulullah saw. hingga kematiannya pun telah mengguncangkan Arasy Allah Taala. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah saw., “Arasy Allah yang Maha Pengasih berguncang karena kematian Saad bin Muadz.” (Muttafaq ‘alaih).
Sa’ad bin Muadz telah memberikan contoh kepada kaum muslim hari ini, terutama para tokoh dan pemimpin agar mengontribusikan ketokohan dan kepemimpinan mereka demi kemuliaan Islam dan kaum muslim. [MNews/YG]
