Menata Ulang Sistem Moneter, Saatnya Mengembalikan Uang pada Fungsi Asalnya

Menata Ulang Sistem Moneter, Saatnya Mengembalikan Uang pada Fungsi Asalnya

Penulis: Nida Saadah, S.E., Ak., M.E.I.

Muslimah News, FOKUS EKONOMI — Ketika berbicara tentang krisis ekonomi, perhatian publik biasanya diarahkan pada inflasi, kenaikan harga, pelemahan nilai tukar, ataupun suku bunga. Namun, ada persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana sistem moneter dirancang dan untuk apa uang seharusnya digunakan?

Pertanyaan tersebut makin relevan ketika aktivitas keuangan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan aktivitas ekonomi riil. Uang pada era peradaban sekuler kapitalisme tidak lagi sekadar digunakan sebagai alat tukar, melainkan juga menjadi instrumen investasi, lindung nilai, perdagangan valuta asing, derivatif, dan berbagai aktivitas finansial lainnya.

Walhasil, persoalan moneter tidak cukup dilihat sebagai persoalan teknis bank sentral. Ia perlu dibaca sebagai persoalan struktural, yakni apakah sistem uang yang berlaku mampu menjaga stabilitas nilai, mendukung sektor riil, dan menciptakan keadilan ekonomi?

Besarnya Aktivitas Finansial Global

Salah satu indikator penting adalah perkembangan pasar valuta asing global. Dalam Triennial Central Bank Survey 2025, Bank for International Settlements (BIS) mencatat bahwa transaksi valuta asing (foreign exchange/FX) mencapai rata-rata US$9,6 triliun per hari pada April 2025, meningkat sekitar 28% dibandingkan US$7,5 triliun per hari pada 2022 (BIS, 2025a).

Angka tersebut memberikan gambaran betapa luar biasanya skala aktivitas finansial global. Dari jumlah tersebut, transaksi FX swap mencapai sekitar US$4 triliun per hari, transaksi spot sekitar US$3 triliun, sedangkan outright forwards sekitar US$1,8 triliun (BIS, 2025a).

BIS mencatat bahwa volume perdagangan valuta asing global pada 2025 sekitar 30 kali PDB global, sedangkan volumenya sekitar 70 kali volume perdagangan global. BIS juga menjelaskan bahwa perdagangan untuk motif finansial telah menjadi makin dominan dibandingkan perdagangan yang secara langsung berkaitan dengan pertukaran barang dan jasa. (Huang et al., 2025).

Secara ekonomi, uang memiliki beberapa fungsi utama, yaitu sebagai alat tukar, satuan hitung, dan penyimpan nilai. Masalah muncul ketika uang dan instrumen keuangan berkembang menjadi sarana untuk menghasilkan keuntungan finansial yang makin jauh dari aktivitas produksi barang dan jasa. Fenomena ini sering dibahas dalam literatur sebagai financialization, yaitu meningkatnya peran pasar keuangan, motif finansial, dan institusi finansial dalam perekonomian.

Persoalannya adalah ketika sektor finansial tumbuh sedemikian besar sehingga aktivitas keuangan tidak lagi sekadar melayani sektor riil, tetapi justru menjadi tujuan ekonomi tersendiri. Di sinilah pentingnya mengembalikan pembahasan kepada fungsi uang.

Fiat Money, Velocity of Money, dan Emas sebagai Alternatif

Sistem moneter era kini menggunakan fiat money, yaitu uang yang nilainya tidak ditentukan oleh kandungan komoditas seperti emas, melainkan terutama oleh kepercayaan terhadap penerbit dan kemampuan sistem moneter mempertahankan daya belinya. Ketika jumlah uang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan kapasitas produksi ekonomi, tekanan terhadap harga dapat meningkat. Dalam perspektif teori kuantitas uang, apabila jumlah uang tumbuh terlalu besar dibandingkan ukuran perekonomian, nilai unit mata uang dapat menurun dan daya belinya melemah.

Sementara itu, terkait velocity of money, secara sederhana menggambarkan berapa kali satu unit uang digunakan untuk melakukan transaksi dalam periode tertentu. Dalam teori kuantitas uang dikenal hubungan M × V = P × Y, yang dalam hal ini M adalah jumlah uang beredar, V = kecepatan perputaran uang, P = tingkat harga, dan Y = output riil. Alhasil, bukan hanya jumlah uang yang penting, kecepatan uang berputar dan ke mana uang tersebut mengalir juga sangat penting.

Tatkala uang berputar dalam kegiatan produksi dan perdagangan, perputarannya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, jika sebagian besar aktivitas keuangan hanya menghasilkan perpindahan klaim finansial tanpa peningkatan produksi yang sebanding, pertumbuhan transaksi belum tentu identik dengan pertumbuhan kesejahteraan.

Dalam perdebatan mengenai alternatif sistem moneter, emas sering kembali muncul. Alasannya sederhana, bahwasanya emas memiliki karakteristik yang berbeda dengan fiat money. Emas merupakan aset fisik dengan jumlah yang terbatas dan tidak dapat diciptakan melalui keputusan otoritas moneter.

Menurut World Gold Council (2025), estimasi stok emas above-ground pada akhir 2025 sekitar 219.891 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 97.645 ton berbentuk perhiasan, 50.978 ton berupa batangan dan koin termasuk ETF berbasis emas, serta sekitar 38.666 ton berada dalam cadangan bank sentral. Hampir seluruh emas masih berada dalam berbagai bentuk ini adalah karena emas relatif tidak mengalami kerusakan atau kehancuran secara fisik.

Data tersebut memperlihatkan satu hal penting, yakni emas bukanlah aset yang dapat ditambah secara bebas sesuai keputusan kebijakan moneter. Alhasil, pembahasan mengenai emas berkembang menjadi pertanyaan: Karakteristik apa dari emas yang dapat digunakan untuk memperbaiki kelemahan sistem moneter modern?

Perspektif Islam terhadap Fungsi Uang

Dalam perspektif ekonomi Islam, uang pada dasarnya diposisikan sebagai alat untuk memfasilitasi pertukaran dan mengukur nilai, bukan sebagai komoditas yang menjadi tujuan untuk menghasilkan uang dari uang. Pandangan ini memiliki konsekuensi penting terhadap desain sistem ekonomi.

Jika uang ditempatkan sebagai alat, orientasi ekonomi akan diarahkan kepada aktivitas produksi, perdagangan, dan pertukaran barang serta jasa. Sebaliknya, apabila uang diperlakukan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk menghasilkan keuntungan semata-mata dari uang, ruang bagi aktivitas spekulatif menjadi makin besar. Di sinilah konsep dinar dan dirham menjadi menarik untuk dikaji.

Dinar berbasis emas dan dirham berbasis perak. Secara historis, keduanya memiliki keterkaitan langsung dengan komoditas bernilai. Itulah sebabnya, keduanya menawarkan konsep uang yang berbeda secara fundamental dari fiat money modern.

Perdebatan mengenai sistem moneter seharusnya tidak berhenti pada pilihan antara rupiah, dolar, dinar, emas, atau mata uang digital. Persoalan sebenarnya jauh lebih dalam. Misalnya, bagaimana uang diciptakan? Siapa yang mengendalikan penciptaannya? Bagaimana nilai uang dijaga? Ke mana uang mengalir? Juga siapa yang paling diuntungkan dari sistem tersebut?

Sistem moneter yang sehat seharusnya mampu menjaga fungsi uang sebagai alat pertukaran, satuan nilai, dan penyimpan nilai, mendukung sektor produktif, mencegah eksploitasi, serta membatasi aktivitas finansial yang tidak memberikan kontribusi proporsional terhadap ekonomi riil.

Agenda Intelektual

Krisis ekonomi yang terjadi berulang seyogianya mendorong masyarakat untuk tidak sekadar bertanya tentang kebijakan apa yang harus dilakukan ketika krisis terjadi, melainkan juga perlu bertanya, apakah desain sistemnya sendiri sudah tepat?

Ketika uang terus mengalami pelemahan daya beli, lalu aktivitas finansial berkembang jauh lebih cepat dibandingkan aktivitas perdagangan riil dan ketidakstabilan moneter berulang, maka evaluasi terhadap sistem bukan lagi pilihan intelektual, melainkan kebutuhan.

Dinar dan dirham memang dapat dipelajari sebagai bagian dari sejarah sistem moneter Islam. Emas dapat dipertimbangkan sebagai aset penopang nilai. Teknologi digital dapat digunakan untuk menciptakan sistem pembayaran yang lebih efisien. Akan tetapi, semuanya harus ditempatkan dalam satu kerangka besar, yakni mengembalikan uang kepada fungsi ekonominya dan memastikan sistem moneter bekerja untuk kepentingan masyarakat luas.

Oleh karenanya, pertanyaan terpentingnya adalah apakah kita membutuhkan sistem moneter baru yang lebih adil, stabil, transparan, dan terhubung dengan ekonomi riil? Jika jawabannya adalah ya, maka diskusi tentang reformasi sistem moneter tidak boleh lagi dianggap sebagai wacana utopis. Ia harus menjadi bagian dari agenda intelektual dan kebijakan ekonomi masa depan. Wallahualam. [MNews/Gizh]

Referensi

Bank for International Settlements. (2025a, September 30). OTC foreign exchange turnover in April 2025. BIS.

Bank for International Settlements. (2025b, September 30). Global FX trading hits $9.6 trillion per day in April 2025 and OTC interest rate derivatives surge to $7.9 trillion: Triennial Survey. BIS.

Huang, W., Krohn, I., & Sushko, V. (2025, December 8). Global FX markets when hedging takes centre stage. BIS Quarterly Review.

International Monetary Fund. (n.d.). Inflation: Prices on the rise. IMF Finance & Development.

International Monetary Fund. (n.d.). Monetarism: Money is where it’s at. IMF Finance & Development.

World Gold Council. (2025, February 11). How much gold has been mined? Goldhub.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *