Membebaskan Gen Z dari Impitan Finansial dan Hedonisme dengan Solusi Islam

Membebaskan Gen Z dari Impitan Finansial dan Hedonisme dengan Solusi Islam

Penulis: Irianti Aminatun

Muslimah News, FOKUS — Berdasarkan riset Deloitte tahun 2025, sekitar 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Ketidakamanan ini dipicu oleh tingginya biaya hidup, sistem upah bulanan yang pas-pasan, serta ketidakpastian kondisi ekonomi di masa depan.

Meski demikian, di tengah tekanan finansial, alokasi belanja Gen Z untuk self reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Mereka menganggap hal tersebut sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Menurut mereka, self reward dan healing bukanlah pemborosan, melainkan ”biaya wajib” untuk menjaga kewarasan di tengah impitan dan tekanan ekonomi.

Buah Pahit Kapitalisme

Tekanan finansial yang menimpa Gen Z hari ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Kondisi ini merupakan buah pahit penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem ini, yang hanya sebatas regulator yang memberikan ruang lebar kepada pemilik modal untuk menguasai berbagai sektor strategis. Sebagian besar sumber daya alam (SDA) yang sejatinya milik umat seperti minyak, gas, batubara, nikel, emas, tembaga, timah, bauksit, hasil laut, hutan, serta kekayaan alam lainnya justru diserahkan kepada swasta atau asing.

Akibatnya, aset publik dikuasai segelintir korporasi swasta yang menyebabkan ketimpangan distribusi harta kekayaan makin meluas. Negara pun kehilangan sumber fiskal yang memadai untuk bisa membangun industri strategis yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja serta menjamin kebutuhan pokok rakyat.

Dalam kapitalisme, tenaga kerja diperlakukan hanya sebagai faktor produksi yang nilainya ditentukan mekanisme pasar. Saat jumlah pencari kerja jauh lebih banyak daripada lapangan kerja, perusahaan menjadikannya alasan untuk tidak menaikkan upah. Upah hanya mengikuti standar hidup minimum, sehingga tidak akan mampu menutup biaya kebutuhan hidup.

Sudahlah upah stagnan, biaya hidup terus melonjak tinggi, harga hunian yang kian tidak terjangkau, serta kompetisi di dunia kerja yang makin kompetitif menciptakan kecemasan kolektif terhadap masa depan.

Selain itu, kapitalisme juga gagal menjamin kebutuhan pokok setiap warga negara karena hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan aspek distribusi. Distribusi hanya dipandang sebagai aspek pelengkap, mengabaikan kewajiban negara menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Akibatnya, kemiskinan tidak pernah terselesaikan, Gen Z dibiarkan berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya.

Terjebak Budaya Hedonis

Tekanan ekonomi diperparah oleh gaya hidup sekuler yang hedonis. Gen Z, yang lahir di era digital, setiap hari dibombardir algoritma media sosial yang menampilkan etalase kehidupan mewah dan potongan momen terbaik, yang tidak jarang dijadikan tolok ukur hidup normal. Standar artifisial ini menimbulkan desakan psikologis untuk menyamainya.

Kebutuhan akan pengakuan sosial, rasa takut tertinggal (FOMO), serta kemudahan akses instrumen keuangan modern seperti paylater dan pinjaman daring menciptakan jebakan konsumsi. Banyak anak muda akhirnya membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Healing yang dilakukan dan barang yang dibeli tidak selalu bernilai guna, melainkan sekadar pamer demi mempertahankan citra diri di ruang publik digital.

Dalam situasi psikologis yang tidak pasti, pengeluaran gaya hidup sering kali beralih fungsi menjadi mekanisme pertahanan diri atau bentuk penghargaan diri (self reward) atas kelelahan harian. Ada dorongan emosional untuk menikmati hasil kerja keras saat ini karena masa depan terasa terlalu abstrak untuk direncanakan.

Krisis Tujuan Hidup

Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya digitalisasi, survei IPSOS 2025 menunjukkan bahwa mata pelajaran agama menjadi salah satu yang paling tidak diminati Gen Z. Pendidikan agama yang seharusnya menjadi panduan hidup dipersepsikan tidak relevan.

Hal ini tidak lepas dari karakter negara kapitalis yang menjadikan pendidikan sebagai instrumen pencetak tenaga kerja. Pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan mengejar capaian materi. Keberhasilan generasi diukur dari prestasi akademik, gelar, karier, dan penghasilan, sementara pendidikan akidah dan ketakwaan terabaikan. Akibatnya, Gen Z mengalami kekosongan spiritual dan tumbuh menjadi generasi rapuh, tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, kecuali sekadar meraih kebahagiaan materi semata.

Pola pikir sekuler kian melekat dan jiwa menjadi rapuh karena sejak awal agama tidak diajarkan sebagai landasan berfikir dan bertindak. Kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari rida Allah dan kemuliaan sebagai hamba Allah Taala.

Tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan Gen Z dari kehancuran selain mengambil paradigma hidup yang berasal dari Zat Yang Maha Benar, yaitu kembali kepada sistem Islam.

Negara Pengurus Rakyat

Dalam perspektif Islam, negara diberi amanah untuk mengurus rakyat serta menjamin kebutuhan dasar, baik kebutuhan pokok maupun kolektif. Negara hadir sebagai pengurus yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Rasulullah ﷺ mengingatkan,“Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum muslim, lalu ia menutup dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka dan kemiskinan mereka, Allah akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Maryam).

Kepala negara adalah pelayan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusannya. Rasulullah ﷺ bersabda,

 الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika ia lalai dan abai dalam melayani urusan rakyat, niscaya kekuasaan yang ada di tangannya akan menjadi sebab penyesalan dirinya kelak di akhirat. Apabila ia mengkhianati amanah yang telah diberikan rakyat, dosa besar dan azab yang pedih akan ditimpakan kepadanya.

Negara wajib mengelola sumber daya alam yang termasuk kategori milik umum. Islam melarang penyerahan pengelolaan harta milik umum kepada individu atau swasta. Dengan pengelolaan SDA sesuai syariat, negara dapat membangun industri strategis, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, menyediakan pelayanan publik yang berkualitas, harga kebutuhan pokok terjangkau, dan jaminan sosial yang memadai. Dengan kebijakan tersebut, para penanggung nafkah, termasuk Gen Z mudah mendapat pekerjaan yang layak dan tidak akan merasakan tekanan finansial yang berat.

Dalam hal pengaturan upah tenaga kerja, Islam menetapkan bahwa upah ditentukan berdasarkan manfaat yang diberikan pekerja kepada pemberi kerja. Besarnya upah berbeda antarsektor dan profesi, yang ditetapkan melalui kesepakatan kedua pihak, dengan kemungkinan merujuk pada pendapat ahli (khubara’) ketenagakerjaan sesuai harga pasar tenaga kerja.

Ibnu Mas’ud ra. berkata, Nabi ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian, mengontrak (tenaga) seorang ajir, maka hendaknya diberitahu tentang upahnya. Dengan demikian, upah yang diterima seorang pekerja merupakan hak penuh sebagai kompensasi atas tenaga yang telah dicurahkan.” (HR Ad-Daruquthni).

Upah tidak boleh didasarkan pada harga barang dan jasa yang fluktuatif, karena akan merugikan salah satu pihak. Demikian pula, upah tidak boleh ditentukan berdasarkan kebutuhan dasar pekerja atau konsep upah minimum, sebab pemenuhan kebutuhan pokok merupakan tanggung jawab negara, bukan pengusaha.

Paradigma Hidup yang Benar

Islam memberikan paradigma yang benar, yaitu Allah Taala menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah dan menggapai rida-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Manusia yang hanya berorientasi pada kebahagiaan dunia akan merugi. Urusan hidupnya selalu gagal dan berantakan. Jika tampak berhasil, itu hanya sementara, tetapi akhirnya tetap sengsara di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda, ”Barang siapa tujuan hidupnya adalah dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barang siapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR Ahmad).

Sebaliknya, jika hidupnya berorientasi akhirat untuk beribadah kepada Allah, maka akan memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat. Tidak ada aktivitas dunia yang terlepas dari orientasi akhirat. Memenuhi kebutuhan fisik dan naluri bukanlah tuntutan gaya hidup, melainkan sarana ibadah kepada Allah Taala. Bekerja pun dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, mencukupi nafkah keluarga, dan berharap pahala di sisi Allah Taala.

Allah Taala berfirman, ”Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (QS Asy-Syura [42]: 20).

Orientasi hidup seperti ini akan melahirkan sikap kanaah, tawaduk, dan aulawiyat. Kanaah bermakna merasa cukup atas hasil usaha serta rezeki yang diberikan Allah Taala, setelah usaha maksimal dijalankan, hidup sesuai kemampuan, serta bersyukur atas apa yang dimiliki. Tawaduk yaitu sikap rendah hati karena menyadari semua karunia yang ada pada dirinya adalah anugerah Allah semata. Aulawiyat berarti kemampuan untuk bisa meletakkan segala sesuatu pada posisinya sesuai urutan secara proporsional berdasarkan timbangan hukum syariat. Jika uang hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok, ia tidak akan membelanjakan uang untuk sekadar membeli barangbermerek hanya takut FOMO dan sebagainya.

Islam Menutup Gaya Hidup Hedonis

Hedonisme berasal dari bahasa Yunani hedone yang berarti kesenangan. Menurut KBBI, hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Orang yang bergaya hidup hedonis senantiasa menjadikan kesenangan sebagai prinsip perilaku sehari-hari.

Makna hidup seperti ini jelas bertolak belakang dengan Islam. Islam memandang dunia hanya sementara dan setiap amal akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Allah Taala berfirman,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Al-Zalzalah [99]: 7-8).

Islam menutup celah hedonisme dengan kurikulum pendidikan Islam yang membentuk visi hidup yang benar, yaitu dunia sebagai ladang beramal dan akhirat sebagai tujuan. Dengan itu, gaya hidup sederhana melekat pada generasi. Harta yang dimiliki bukan untuk kesenangan duniawi, melainkan dikontribusikan untuk bekal di akhirat nanti.

Negara Islam tidak akan membiarkan media swasta apalagi asing bebas membentuk opini publik demi kepentingan ideologi asing. Media dalam negara Khilafah diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan individu.

Negara berperan sebagai junnah (perisai) yang melindungi ideologi dan ajaran Islam dari bahan olokan dan hinaan, menyaring informasi yang merusak, dan menjadi corong informasi dan dakwah Islam bagi dunia.

Allah Taala berfirman,

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ

”Jika sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentu orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” (QS An-Nisa’ [4]: 83).

Pasal 103 dalam Draft Konstitusi Khilafah menjelaskan, “Instansi penerangan adalah direktorat yang menangani penetapan dan pelaksanaan politik penerangan Daulah demi kemaslahatan Islam dan kaum muslim. Di dalam negeri untuk membangun masyarakat islami yang kuat dan kukuh, menghilangkan keburukan, dan menonjolkan kebaikannya. Di luar negeri untuk memaparkan Islam dalam kondisi damai dan perang dengan pemaparan yang menjelaskan keagungan Islam dan keadilannya, kekuatan pasukannya; juga menjelaskan kerusakan sistem buatan manusia dan kezalimannya serta kelemahan pasukannya.”

Dengan penjagaan ini, media sosial tidak akan menjadi pintu masuk tsaqofah asing yang merusak generasi.

Gen Z tidak akan terjamin kecuali kapitalisme dan sistem buatan manusia digantikan oleh sistem Islam kafah. Khilafah adalah sistem yang menyebarkan kebaikan, kegembiraan, dan ketenangan. Khilafah bertanggung jawab atas kesejahteraan umat manusia dan mampu mengakhiri ancaman terhadap kehidupan.

Dalam ketiadaan Khilafah, penting adanya komunitas yang tepat agar Gen Z menggunakan masa muda untuk mengembalikan Islam dalam tatanan kehidupan. Para pemuda yang saleh/salihah dan energik harus menjadi motivator umat untuk bangkit dari keterpurukan, dan memandu umat menuju kejayaan dengan penerapan Islam secara totalitas di semua lini kehidupan masyarakat. Dengan itu, tegaklah peradaban Islam yang agung. [MNews/CJ]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *