Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Setiap muslim tentu selalu mengingat sosok wanita mulia ini. Ia adalah Hindun binti Uthbah. Pada masa jahiliah, ia dikenal sebagai wanita yang sangat kejam dan membenci Rasulullah ﷺ. Ia wanita yang membayar seseorang untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib. Ketika paman Rasulullah ﷺ ini telah terbunuh, Hindun tidak hanya merobek tubuhnya, tetapi juga memakan jantungnya. Namun, dengan izin Allah, ia kemudian masuk Islam. Setelah memeluk Islam, ia begitu mencintai Rasulullah ﷺ dan benar-benar menjadi pembela Islam tepercaya.
Hindun binti Uthbah adalah seorang wanita Arab yang terkenal sangat baik sebelum maupun setelah ia masuk Islam. Ia bernama lengkap Hindun binti Uthbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Umawiyah al-Qurasyiyah. Ayahandanya menikahkannya dengan Fakih bin Mughirah al-Makhzumi. Namun, pernikahannya tidak bertahan lama. Ia pun bercerai dengan suaminya. Setelah itu, Hindun menikah lagi dengan Abu Sufyan bin Harb. Mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu Uthbah bin Abu Sufyan dan Muawiyyah bin Abu Sufyan yang pada kemudian hari menjadi Khalifah Bani Umayyah.
Hindun pada Masa Suramnya
Pada masa cahaya Islam memancar ke seluruh penjuru Jazirah Arab dan banyak bangsa Arab yang menerima Islam, Hindun dan suaminya justru menolaknya. Bahkan, keduanya memusuhi Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang mengikutinya. Puncak permusuhan ini terjadi saat Perang Badar al-Kubra. Pada perang ini, ayah, pamannya yang bernama Syaibah, dan saudaranya, Al-Walid bin Uthbah terbunuh. Paman dan ayahnya dibunuh oleh Hamzah bin Abdul Muthallib. Pamannya dibunuh oleh Hamzah seorang diri, sedangkan ayahnya dibunuh oleh Hamzah yang dibantu oleh Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu, rasa dendam meliputi hatinya. Pada siang dan malam, ia berpikir agar bisa membalas dendam atas kematian ayah, paman, dan saudara laki-lakinya.
Setahun setelah Perang Badar, terjadilah Perang Uhud antara kaum muslim melawan kaum musyrik Makkah. Perang ini dianggap momen tepat untuk membalas dendam. Dalam perang ini, Hindun meminta bantuan seorang budak berdarah Habasyah bernama Wahsyi untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib. Wahsyi dijanjikan merdeka dan mendapatkan perhiasan-perhiasan yang menjadi kebanggaan setiap wanita jika bisa membunuh paman Rasulullah ﷺ tersebut. Oleh karena itu, keinginan Wahsyi hanya satu, yakni membunuh Hamzah agar ia mendapat kemerdekaan dan perhiasan dari Hindun.
Dalam Perang Uhud, Hamzah sang Singa Allah gugur di tangan Wahsyi dengan tikaman tombak yang mengenai perutnya hingga tembus ke belakang. Setelah mendengar kematian Hamzah, Hindun pergi bersama para wanita Quraisy untuk merusak tubuh para pejuang Islam yang mati syahid. Ia merobek dada Hamzah, lalu mengambil jantungnya dan mengunyahnya. Begitulah Hindun, ia mendapat gelar aklatul akbad (wanita pemakan jantung) akibat kekejamannya itu.
Keislaman Hindun binti Uthbah
Titik balik kehidupan Hindun terjadi ketika Fathu Makkah pada 8 H. Saat Rasulullah ﷺ memasuki Makkah sebagai pemenang, banyak penduduk Quraisy khawatir terjadi pembalasan atas permusuhan mereka selama bertahun-tahun. Namun, Rasulullah ﷺ justru menunjukkan sikap penuh kasih sayang dan pemaaf. Sikap mulia inilah yang meluluhkan hati banyak tokoh Quraisy, termasuk Hindun dan suaminya. Kemudian, Hindun datang untuk berbaiat kepada Rasulullah ﷺ dan menyatakan keislamannya.
Berislamnya Hindun, berawal dari berislamnya Abu Sufyan bin Harb, sang suami. Abu Sufyan berislam pada pagi hari Fathu Makkah (penaklukan Makkah). Dalam peristiwa ini, pasukan kaum muslim memasuki kota suci ini secara damai. Hindun menjadi salah seorang yang berislam. Keislamannya dilakukan dengan baik. Ia menyampaikan kepada suaminya, “Aku ingin menjadi pengikut Muhammad.” Abu Sufyan berkata, “Bukankah aku melihat kau begitu membencinya kemarin?” Hindun pun menjawab, “Sesungguhnya aku sebelumnya tidak pernah melihat orang yang beribadah pada Allah itu dengan benar hingga apa yang aku saksikan tadi malam. Demi Allah, mereka betah berdiri, rukuk, dan sujud.” “Jika kau tetap dengan keputusanmu, laksanakanlah. Pergilah membawa seorang dari kaummu untuk menemanimu,” kata Abu Sufyan.
Kemudian, Hindun berangkat menemui Rasulullah ﷺ untuk berbaiat. Dalam riwayat Imam Ath-Thabari disebutkan, Hindun datang dengan bercadar untuk menutupi wajahnya karena takut dikenali. Hindun masih merasa takut akibat tindakannya pada masa lalu terhadap Hamzah, paman Rasulullah ﷺ. Pada saat itu, banyak pula pria, termasuk Abu Sufyan, dan wanita yang datang berbaiat. Rasulullah ﷺ didampingi oleh para sahabatnya.
Hindun berkata, “Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah menurunkan agama yang menjadi pilihan-Nya agar dapat bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah memberi rahmat-Nya kepadamu, wahai Muhammad. Demi Allah, tiada sesuatu pun di muka bumi ini penduduk yang berdiam di tenda-tenda lebih aku cintai daripada mereka yang selalu bersama dengan tendamu. Sungguh, aku telah menjadi bagian dari itu. Tidak ada di muka bumi ini penduduk yang berdiam di tenda-tenda lebih aku cintai daripada mereka yang selalu ingin dekat denganmu.”
Di atas bukit Shafa, Nabi ﷺ berkata, “Aku meminta kalian berjanji untuk tidak menyekutukan apa pun dengan Allah (syirik).” Kemudian, Umar ra. yang berada di bawah bukit menyampaikan perkataan Rasulullah itu kepada kaum wanita dan memastikan jawaban mereka.
Rasulullah ﷺ melanjutkan, ”Tidak boleh mencuri.” Tiba-tiba Hindun berkata, ”Sesungguhnya Abu Sufyan sangat kikir. Bagaimana jika aku mengambil sebagian hartanya tanpa ia mengetahuinya?” Abu Sufyan yang berada tidak jauh dari tempat tersebut menimpali, ”Semua yang engkau ambil telah aku halalkan.” Mendengar jawaban itu, Nabi ﷺ pun tersenyum, lalu berkata, “Engkau pasti Hindun.” Wanita bercadar itu pun menjawab, ”Benar. Maafkanlah segala kesalahanku pada masa lalu, wahai Nabi Allah.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Semoga Allah mengampunimu.”
Rasulullah ﷺ melanjutkan, ”Tidak boleh berzina.” Hindun lalu menimpali, ”Apakah wanita merdeka suka berzina?” Nabi berkata lagi, ”Tidak boleh membunuh anak-anak kalian.” Hindun berkata, ”Kami telah bersusah payah membesarkannya, tetapi setelah besar, kalian membunuhnya. Kalian dan mereka lebih mengetahui tentang hal ini.” Akhirnya Rasulullah ﷺ berkata padanya, “Dulu tidak ada penghuni rumah yang lebih ingin aku hinakan selain penghuni rumahmu. Sekarang, tidak ada penghuni rumah yang lebih dimuliakan daripada penghuni rumahmu.”
Tampak jelas bahwa keislaman Hindun binti Uthbah sangat baik. Bahkan, sepulang berbaiat kepada Rasulullah ﷺ, ia langsung mengambil palu dan menghancurkan berhala yang ada di dalam rumahnya sampai hancur berkeping-keping. Ia berkata, “Dahulu, kami tertipu olehmu. Dahulu, kami tertipu olehmu.”
Setelah memeluk Islam, kehidupan Hindun berubah sepenuhnya. Ia tidak lagi menjadi musuh Islam, melainkan menjadi pembelanya. Dalam sejumlah riwayat sejarah, Hindun ikut memberikan semangat kepada pasukan kaum muslim dalam Perang Yarmuk. Ia menggunakan pengaruh dan keberaniannya untuk mendukung perjuangan kaum muslim. Semangat yang dahulu dipakai untuk memusuhi Islam, kini digunakannya untuk membela agama Allah. Perubahan ini menunjukkan ketulusan tobat Hindun. Ia tidak hanya mengucapkan syahadat, tetapi juga membuktikan keimanannya melalui tindakan nyata.
Penyemangat dalam Peperangan
Saat terjadi Perang Yarmuk menghadapi orang-orang Romawi, Hindun bersama para wanita turut dalam perang tersebut. Ibnu Jarir menuturkan bahwa pada hari itu, kaum muslim bertempur habis-habisan. Mereka berhasil menewaskan pasukan Romawi dalam jumlah sangat besar. Sementara itu, kaum wanita menghalau setiap tentara muslim yang terdesak dan mundur dari medan laga. Mereka berteriak, “Kalian mau ke mana? Apakah kalian akan membiarkan kami ditawan oleh pasukan Romawi?”
Akhirnya tentara muslim yang hampir melarikan diri bertempur kembali sehingga membangkitkan semangat pasukan yang lain. Mereka benar-benar terbakar semangatnya oleh teriakan-teriakan para wanita, terutama Hindun binti Uthbah. Bahkan, ketika pasukan berkuda yang berada di sayap kanan terdesak dan berbalik arah, Hindun berteriak, “Kalian mau lari ke mana? Kalian melarikan diri dari apa? Apakah dari Allah dan surga-Nya? Sungguh, Allah melihat apa yang kalian lakukan!” Ketika melihat suaminya berbalik arah dan akan melarikan diri, Hindun segera mengejar dan berteriak, “Engkau mau ke mana, wahai putra Shakhr? Kembalilah ke medan perang! Berjuanglah habis-habisan agar engkau dapat membalas kesalahan masa lalumu, saat engkau menggalang kekuatan untuk menghancurkan Rasulullah ﷺ.”
Zubair bin Awwam menceritakan, “Pada saat itu juga, Abu Sufyan membelokkan kudanya dan kembali menuju medan perang. Langkahnya segera diikuti oleh pasukan muslim lainnya. Aku juga melihat kaum wanita bergabung dengan mereka. Bahkan, wanita bergerak lebih dahulu daripada mereka.” Zubair bin Awwam melanjutkan, “Pasukan muslim menyerbu dengan gagah berani hingga pasukan Romawi hancur lebur. Mereka hanya mempunyai satu tujuan, yaitu meraih rida Allah dan Rasul-Nya.” Tidak berlebihan jika Muawiyyah, putra Hindun binti Uthbah, memuji ibunya, “Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya pada masa jahiliah, tetapi di dalam Islam ia menjadi wanita mulia dan baik.” Masyaallah.
Pelajaran Berharga
Kisah Hindun binti Uthbah mengandung banyak pelajaran berharga yang relevan bagi kehidupan kita kini. Kisah Hindun mengajarkan kita tentang pentingnya mohon ampun, tobat, dan memperbaiki diri. Meskipun telah melakukan kesalahan besar pada masa lalu, ia bertobat dengan sebenar-benarnya, lalu memulai hidup baru dengan iman dan dedikasi tinggi untuk kemuliaan Islam. Ini menunjukkan bahwa setiap orang berpotensi berubah menjadi lebih baik.
Semua yang terjadi pada sosok Hindun telah mengajarkan kita tentang kekuatan iman dalam mengubah hidup seseorang. Setelah memeluk Islam, Hindun menjadi seorang muslimah yang taat dan sungguh-sungguh membela Islam. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menebus kesalahan-kesalahannya pada masa lalu. Ini menunjukkan bahwa iman dapat memberikan kita kekuatan untuk mengatasi tantangan dan mencapai tujuan-tujuan kita.
Hindun membuktikan kesungguhannya memperbaiki diri. Dahulu, ia bukan hanya menolak ajaran Islam, lebih dari itu ia menaruh permusuhan dan dendam mendalam setelah anggota keluarganya terbunuh. Namun, setelah berislam, ia menjadi sosok yang begitu mencintai Islam dan penganutnya. Ketika menghadap Rasul ﷺ, ia berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini tidak ada golongan di dunia ini yang aku harapkan agar Allah membinasakannya daripada golonganmu. Akan tetapi, hari ini, tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada golonganmu.”
Hindun berislam bukan karena ikut-ikutan atau desakan suaminya. Akan tetapi, ia masuk Islam karena ketertarikannya terhadap ajaran Islam, terutama salat. Salat membuatnya luluh untuk menganut agama yang selama ini dibencinya. Ia kagum terhadap ketundukan kaum muslim saat mereka berada di Masjidilharam. Mereka berdiri, rukuk, dan sujud kepada Tuhan yang satu, yaitu Allah Taala. Ketundukan itu jauh dari kebiasaan masyarakat Makkah yang musyrik. Mereka mengimani adanya Allah, tetapi menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan mereka. Mereka tidak peduli dengan ajaran di luar mereka, kecuali ajaran nenek moyang mereka.
Hindun binti Uthbah menjadi sosok pembela Islam yang begitu gigih, hingga turut serta dalam berbagai peperangan. Dalam Perang Yarmuk, dengan semangat yang luar biasa, ia berhasil menggelorakan semangat kaum muslim, termasuk suaminya, agar tidak gentar menghadapi musuh dan tidak lari dari medan perang. Ia adalah penyemangat kaum muslim dalam peperangan.
Tentu sikap seperti itu yang harus ditunjukkan oleh seorang mualaf, terlebih kita yang telah menjadi muslim sejak lahir. Hendaklah senantiasa bersungguh-sungguh dalam menjalankan ajaran Islam dan berjuang agar ajaran Islam tidak hanya dijalankan dalam aspek ritual, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan. Tentu saja hal ini membutuhkan upaya sungguh-sungguh dalam memperjuangkan tegaknya institusi yang telah terbukti selama belasan abad mampu menerapkan Islam secara sempurna, hingga umat manusia bisa merasakan kesejahteraan dan puncak kejayaan di antara umat lainnya. Cukuplah kiranya kita memperhatikan firman Allah Swt.,
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107).
Semoga kita bisa meneladan perjuangan Hindun binti Uthbah dalam membela Islam, sehingga Islam bisa tegak kembali seperti pada masa lalu dan semua umat manusia bisa merasakan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Amin. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
