Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Usamah bin Zaid merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. yang lahir dari pasangan teristimewa. Ayahnya, Zaid bin Haritsah, adalah sahabat yang paling Rasulullah saw. cintai. Zaid pernah diangkat menjadi anak oleh Nabi. Ia tetap setia mendampingi Rasulullah saw. dalam suka maupun duka hingga akhir hayatnya. Ibunya, Ummu Aiman Barakah al-Habsyiyah, adalah wanita mulia yang mengasuh Rasulullah kecil setelah ibunda beliau, yakni Aminah, wafat. Rasulullah saw. sangat menghormati, mencintai, dan menganggap beliau sebagai ibunya sendiri.
Usamah bin Zaid Membawa Kegembiraan
Pada tahun ketujuh sebelum hijrah, dalam suasana perjuangan yang berat untuk menyebarkan Islam, Nabi Muhammad saw. mendapat kegembiraan dengan lahirnya Usamah bin Zaid, putra dari Zaid bin Haritsah dan Ummu Aiman. Usamah tumbuh dalam limpahan cinta Rasulullah saw. yang melihat dalam diri Usamah perpaduan dua insan yang sangat dicintainya.
Kegembiraan Nabi Muhammad saw. atas kehadiran Usamah bin Zaid juga diikuti oleh para sahabat. Ketika melihat Nabi Muhammad saw. gembira, mereka pun turut gembira. Usia Usamah bin Zaid hampir sama dengan cucu Nabi Muhammad saw., yakni Hasan bin Ali. Usamah merupakan keturunan Habasyah karena ibunya adalah orang Habasyah. Secara fisik, Usamah berkulit hitam dan berhidung pesek.
Pada suatu hari, di sebuah sudut rumah Nabi di Madinah terlihat pemandangan yang mengharukan. Seorang anak kecil duduk di pangkuan Rasulullah di satu sisi. Ia adalah Usamah bin Zaid. Darah istimewa dari kedua orangtuanya yang juga istimewa mengalir dalam tubuhnya. Cinta Rasulullah mengalir lebih deras lagi dalam jiwanya. Sementara itu, di sisi lainnya duduk pula Hasan bin Ali, cucu kesayangan beliau. Rasulullah merangkul mereka berdua, lalu mengangkat tangannya dan berdoa dengan suara lirih penuh cinta,“Ya Allah, sayangilah keduanya karena aku mencintai mereka berdua.”
Berbakti kepada Ibu hingga Akhir Hayat
Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Usamah pernah menebang pohon kurma miliknya dan mencabut akarnya. Pada masa itu, harga sebuah pohon kurma sangat mahal, bisa mencapai seribu dirham. Ini menjadi komoditas yang paling dicari dan diperebutkan untuk dijual demi keuntungan yang besar. Bagian pangkal pohon kurma yang berwarna putih dan berlemak bisa dimakan dengan madu.
Jika orang lain akan segera menuju ke pasar setelah menebang pohon kurma, lain halnya dengan Usamah. Ia membawa dan memberikan pangkal kurma yang mahal itu kepada sang ibunda. Ia juga memeras kurma menjadi sari buah untuk ibundanya. Usamah sangat besar cintanya kepada ibundanya.
Melihat perlakuan Usamah, para sahabatnya merasa keheranan, “Usamah apa yang engkau lakukan? Padahal engkau tahu pokok kurma kini harganya menjadi seribu dirham.” Usamah menjawab dengan kalimat yang mengharukan, “Ibuku memintanya dariku. Aku akan penuhi permintaannya selama aku sanggup melakukannya.” (Ṣifatush Ṣafwah, Jilid 1, hlm. 219).
Demikianlah akhlak Usamah terhadap ibunya. Apa saja permintaan sang ibunda, tidak ada penolakan untuk memenuhi keinginan wanita yang telah melahirkannya. Inilah bakti seorang anak yang tidak ternilai harganya.
Kehidupan di Medan Jihad
Usamah bin Zaid kecil adalah seorang anak yang cerdas, bijak, dan pemberani. Ia mampu menjaga kehormatan dirinya, serta memiliki sifat takwa dan warak yang membuatnya dicintai semua orang. Jiwa kesatrianya muncul saat peristiwa Perang Uhud. Pada saat itu, ia beserta anak-anak para sahabat lainnya sangat ingin ikut serta dalam perang tersebut. Namun, Rasulullah saw. menolak karena mereka belum cukup umur. Usamah bin Zaid pun pulang dengan air mata membasahi pipinya.
Pada Perang Khandaq, Usamah bin Zaid yang berusia 15 tahun datang kembali bersama para pemuda dari kalangan sahabat. Ia mengganjal kakinya agar terlihat tinggi, sehingga Nabi Muhammad saw. memperbolehkannya ikut serta dalam jihad.
Pada Perang Hunain, kaum muslim hampir kalah. Usamah bin Zaid ikut perang bersama Abbas, paman Rasulullah, Abu Sufyan bin al-Harits, sepupu Rasulullah, dan enam orang lainnya. Mereka berjuang dengan begitu semangat hingga mampu mengubah kekalahan menjadi kemenangan.
Pada Perang Mu’tah, Usamah bin Zaid yang berusia 18 tahun berjuang di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya syahid. Komando lalu diambil alih oleh Ja’far bin Abu Thalib hingga ia pun menemui syahid. Kemudian, Abdullah bin Rawahah menggantikannya hingga ia juga gugur dalam perang tersebut. Usamah terus berjuang di bawah komando Khalid bin Walid hingga akhirnya bisa lolos dari Pasukan Romawi.
Usamah bin Zaid, Panglima Termuda dalam Sejarah Islam
Sejarah Islam mencatat sejumlah panglima perang yang luar biasa. Mereka berperan dalam menegakkan kalimat tauhid dan tidak gentar melawan musuh-musuh Allah. Salah seorang di antaranya adalah Usamah bin Zaid. Sejarah mencatat namanya sebagai panglima muslim termuda karena pada usia 18 tahun ia telah menjadi komandan perang terakhir yang ditunjuk oleh Rasulullah.
Ketika itu, Romawi Timur (Byzantium) terus mengganggu perbatasan Daulah Islam di dekat Syam (Suriah). Mereka makin gencar melakukan provokasi ketika mengetahui bahwa Rasulullah saw. sedang sakit di Madinah. Mereka membuat gejolak di perbatasan Syam. Dalam keadaan sakit, Rasulullah saw. tetap memerintahkan kaum muslim agar melakukan perlawanan. Untuk menyelesaikan krisis di perbatasan Arab–Syam, Nabi saw. menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima perang. Dalam misi ini, pemuda yang cerdas dan pemberani itu membawahi sejumlah sahabat lainnya yang lebih senior dari segi usia, termasuk Umar bin Khaththab.
Beberapa sahabat sempat mempertanyakan keputusan Rasul saw. ini. Sebabnya, dalam penilaian mereka, masih banyak sahabat senior dalam pasukan kaum muslim, seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Mereka menganggap para senior yang lebih pantas memimpin pasukan ke perbatasan Syam. Mendengar berbagai desas-desus ketidakpuasan itu, Umar segera menemui Rasulullah dan menyampaikan bahwa ada kesan menyepelekan kemampuan Usamah dalam memimpin pasukan. Rasulullah merespons hal itu dengan wajah merah, tanda beliau tidak menyukai hal itu.
Kemudian, Rasulullah saw. bergegas mengumpulkan para sahabat di Masjid Nabawi. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, aku mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah. Demi Allah, seandainya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah, Zaid sangat pantas memegang kepemimpinan, begitu pula dengan putranya, Usamah.”
Rasulullah saw. melanjutkan, “Jika ayahnya sangat aku kasihi, putranya pun demikian. Mereka adalah orang-orang yang baik. Hendaklah kalian memandang baik keduanya. Mereka juga sebaik-baik manusia di antara kalian.”
Sesudah menyampaikan pidatonya, Rasulullah saw. kembali ke rumahnya. Apa yang disampaikan Rasulullah saw. ini menjadikan kaum muslim tidak lagi dilanda keraguan. Akhirnya mereka semua mendukung kepemimpinan Usamah bin Zaid dan bergabung dengan pasukan yang dipimpin pemuda itu.
Sebelum berangkat ke medan perang, Usamah terlebih dahulu menemui Rasulullah saw. yang masih sakit. Ia mencium wajah beliau. Kemudian, Nabi saw. mengusap kepala putra Zaid bin Haritsah itu dan mendoakannya.
Pasukan kaum muslim belum jauh meninggalkan Madinah ketika kabar wafatnya Rasulullah saw. sampai kepada mereka. Alhasil, Usamah menghentikan laju pasukannya. Selanjutnya, ia bergegas ke rumah Rasulullah saw. bersama Umar dan Abu Ubaidah. Melalui musyawarah yang masih diliputi kesedihan, kaum muslim sepakat mengangkat Abu Bakar sebagai pengganti kepemimpinan (khalifah) Rasulullah. Abu Bakar lalu menyuruh Usamah kembali memimpin pasukan dan berangkat ke perbatasan Syam, seperti yang telah diperintahkan Rasulullah saw. sebelumnya.
Bersama pasukannya, Usamah bergerak cepat meninggalkan Madinah menuju perbatasan Syam. Setelah melewati beberapa daerah yang tetap memeluk Islam, akhirnya mereka sampai di Wadilqura. Dengan strategi perang yang matang, pemuda ini sukses memimpin pasukan kaum muslim. Mereka mengalahkan musuh dalam waktu yang relatif cepat.
Setelah 40 hari berselang, mereka kembali ke Madinah. Usamah bin Zaid kembali dengan menunggangi pelana yang digunakan oleh ayahnya sewaktu terbunuh. Usamah bin Zaid dan pasukannya pulang membawa ganimah yang melampaui perkiraan manusia. Sebagian orang mengatakan, “Tidak pernah ada pasukan yang lebih selamat dan membawa ganimah lebih banyak dari pasukan Usamah bin Zaid.” Kemenangan ini membawa perasaan syukur dan gembira. Lebih-lebih tidak ada korban jiwa yang jatuh dari kalangan kaum muslim. Sejak kesuksesan misi ini, putra Ummu Aiman tersebut kian disegani oleh para sahabat.
Pelajaran Berharga
Usamah bin Zaid telah tiada, tetapi kisahnya tetap hidup. Ia adalah panglima perang berusia muda yang dicintai Nabi saw., tetapi ia tetap rendah hati dan tidak sombong. Ia adalah putra dari dua insan mulia yang tetap berbakti kepada ibunya hingga akhir hayat. Ia mengajarkan bahwa cinta kepada Nabi harus diwujudkan dalam ketaatan, keadilan harus ditegakkan meskipun terhadap orang yang kita cintai, nyawa manusia sangat berharga di sisi Allah, dan berbakti kepada orang tua adalah amal yang tidak ternilai harganya. Ini sesuai firman Allah Swt., “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS Aṭ-Ṭūr: 21).
Demikianlah kisah Usamah bin Zaid, panglima perang berusia belia yang dicintai Nabi. Cinta Rasulullah kepada Usamah bukan rahasia lagi. Di tengah ribuan sahabat yang mulia, Usamah disebut sebagai orang yang paling dicintai Rasulullah. Sungguh, ini sebuah kehormatan yang tidak ternilai harganya. Cinta ini tidak hanya diucapkan, tetapi juga ditunjukkan Rasulullah dalam tindakannya sehari-hari. Bahkan, Aisyah diminta untuk turut mencintai Usamah. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Aisyah, cintailah Usamah karena sesungguhnya aku mencintainya.” (HR At-Tirmidzi).
Semoga Allah meridai Usamah bin Zaid, serta mengumpulkan kita bersamanya, juga bersama ayahnya, ibundanya, dan Rasulullah saw. di surga-Nya yang abadi. Amin. [MNews/YG]
