Abu Ubaidah al-Jarrah, Sahabat Rasul yang Kisahnya Diabadikan dalam Al-Qur’an

Abu Ubaidah al-Jarrah, Sahabat Rasul yang Kisahnya Diabadikan dalam Al-Qur’an

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Abu Ubaidah bin al-Jarrah ra. merupakan satu di antara orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Ia masuk Islam lewat perantara Abu Bakar ra. ketika Abu Bakar mendakwahkan agar beribadah hanya kepada Allah Swt. pada awal masa Islam. Ia juga merupakan salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis. Dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah saw. bersabda, “Abu Bakar di surga. Umar di surga. Utsman di surga. Ali di surga. Thalhah (bin Ubaidillah) di surga. Az-Zubair (bin al-Awwam) di surga. Abdurrahman bin Auf di surga. Saad (bin Abil Waqqash) di surga. Said (bin Zaid) di surga dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Keutamaan Abu Ubaidah bin Jarrah

Abu Ubaidah lahir pada 583 M, 27 tahun sebelum masa kenabian Muhammad saw.. Nama lengkapnya Amir bin Abdullah bin Jarrah. Sejak muda, ia dikenal sebagai sosok yang tenang, lembut, dan bijak. Tubuhnya tinggi, kurus, berwajah tampan, dan berkulit cerah. Namun, bukan penampilannya yang membuatnya dihormati, melainkan tutur katanya yang menyejukkan dan kebijaksanaannya yang memancar dari hatinya. Abu Ubaidah jarang berbicara, tetapi sekali ia berbicara, orang-orang diam dan mendengarkan. Ini karena dari lisannya keluar nasihat yang menuntun, bukan sekadar kata yang memuaskan telinga.

Beberapa hadis Rasulullah saw. menjelaskan tentang keutamaan Abu Ubaidah. Dari Aisyah ra., beliau ditanya,  “Siapakah sahabat Rasulullah saw. yang paling dicintai?” Aisyah menjawab, “Abu Bakar, lalu Umar, lalu Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR Tirmidzi). Rasulullah saw.juga bersabda, “Sebaik-baiknya laki-laki adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR Tirmidzi).

Abu Ubaidah bin al-Jarrah ra. merupakan salah satu di antara para sahabat yang hijrah ke Habasyah. Saat berada di Habasyah, ia dan para sahabat lainnya merasakan rindu yang sangat besar kepada Rasulullah. Ketika ada berita bohong mengenai berislamnya penduduk Makkah, mereka pun langsung kembali ke Makkah.

Setelah kembali ke Makkah, mereka mendapati ternyata kabar tersebut palsu. Mereka pun kembali menerima kekejaman dari penduduk Makkah yang sudah menunggu kehadiran para muhajirin dari Habasyah. Setelah menerima perilaku yang buruk dari penduduk Makkah, akhirnya kaum muslim hijrah menuju Madinah. Abu Ubaidah bin al-Jarrah termasuk salah satu dari orang-orang yang hijrah ke Madinah.

Digelari “Amin al-Ummah” oleh Rasulullah saw

Abu Ubaidah bin al-Jarrah merupakan seorang sahabat yang paling amanah di antara para sahabat lainnya. Berkat tanggung jawab, dedikasi, integritas, serta sifat amanahnya dalam memperjuangkan Islam, ia mendapat gelar mulia dari Rasulullah, yakni “Amin al-Ummah”. Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya setiap umat memiliki seorang ‘amin’ (orang yang amanah/tepercaya) dan amin umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” (HR Bukhari).

Peristiwa penting yang menunjukkan hal ini adalah ketika Rasulullah saw. didatangi oleh kaum Nasrani Najran. Mereka bertanya tentang Nabi Isa as.. Ketika itu, turunlah firman Allah Swt., “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian berfirman kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka, jadilah sesuatu itu.” (QS Ali Imran: 59)

Kaum Nasrani tersebut tidak mau menerima kebenaran dan menolak apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw.. Mereka lalu hendak melakukan mubahalah (saling bersumpah) dengan Rasulullah. Hudzaifah ra. meriwayatkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Maka, salah seorang dari mereka berdua berkata kepada temannya, ‘Jangan kamu lakukan! Demi Allah, seandainya ia benar seorang Nabi, maka ia yang akan melaknat kita, hingga kita tidak akan pernah beruntung dan tidak punya keturunan lagi setelah kita.’ Kemudian keduanya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Kami akan memberikan apa yang engkau minta kepada kami. Oleh karena itu, utuslah orang kepercayaan engkau kepada kami. Dan jangan sekali-kali engkau mengutusnya, kecuali memang orang itu sangat tepercaya.’ Maka, Nabi saw. bersabda, ‘Aku akan mengutus orang kepercayaan yang sebenar-benarnya.’ Maka, para sahabat merasa penasaran dan akhirnya menunggu-nunggu orang yang dimaksud oleh Rasulullah itu. Lalu, Rasulullah saw. bersabda, ‘Berdirilah, wahai Abu Ubaidah bin Jarrah!’ Setelah Abu Ubaidah bin Jarrah berdiri, Rasulullah saw. bersabda, ‘Ia adalah orang kepercayaan umat ini.” (HR Bukhari).

Ketika itu, Rasulullah saw. menunjuk Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk diutus kepada kaum Nasrani Najran. Kaum tersebut menuntut untuk diutus kepada mereka seorang yang sangat amanah untuk mengurus perkara mereka. Bahkan, Rasulullah saw. pun menyatakan bahwa Abu Ubaidah bin al-Jarrah merupakan orang kepercayaan umat ini.

Abu Ubaidah bin al-Jarrah juga diberikan amanah pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Pada saat itu, Khalifah Umar menunjuk Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk menggantikan Khalid bin Walid menjadi pemimpin pasukan kaum muslim. Ini sebuah amanah yang sangat besar bagi Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Akan tetapi, walaupun ia menjadi komandan pasukan kaum muslim, kedudukan dunia tidaklah mengubah dirinya. Ketika itu sedang berlangsung pengepungan kota Damaskus. Ia menunggu untuk memberitahukan Khalid bin Walid atas pengangkatannya menjadi pemimpin hingga selesai penaklukan Damaskus.

Syekh Mahmud al-Mishri mengutip dari Tabaqat Ibnu Saad, “Umar bin al-Khaththab mengirimkan kepada Abu Ubaidah 4.000 dirham dan 400 dinar. Umar berkata kepada utusannya, ‘Lihatlah apa yang ia lakukan.’ Maka, Abu Ubaidah membagi-bagikannya. Ketika utusan melaporkan kepada Umar tentang apa yang Abu Ubaidah lakukan terhadap hartanya, Umar berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam Islam orang yang melakukan hal tersebut.’”

Kasih Sayang dan Adab Abu Ubaidah bin Jarrah terhadap Rasulullah saw.

Saat terjadi Perang Uhud, kaum muslim dikalahkan oleh kafir Quraisy akibat ketidaktaatan para pemanah atas perintah Rasulullah. Mereka mengabaikan perintah Rasulullah saw.untuk tetap berada di atas bukit Uhud. Mereka malah turun dari bukit karena tergoda harta rampasan perang. Situasi ini memberi celah bagi kaum musyrikin untuk melakukan serangan balik. Ketika itu, Khalid bin Walid ra. yang masih belum masuk Islam berinisiatif untuk menyerang balik kaum muslim dan membalikkan keadaan. Ketika itu, kaum muslim terpukul mundur. Rasulullah saw. menjadi incaran kaum musyrikin untuk dibunuh.

Pada saat itu, Rasulullah saw. terluka cukup parah. Bahu beliau tertebas pedang oleh seorang penunggang kuda yang terlaknat bernama Abdullah bin Qamiah. Walaupun terlindung dengan baju besinya, beliau masih terluka cukup parah. Kemudian, Abdullah bin Qamiah menyerang Rasulullah saw. dengan serangan yang sama kerasnya seperti serangan pertama. Serangan tersebut mengenai topi besi beliau sehingga menancaplah cincin besi pada topi besi beliau di pipinya.

Melihat hal tersebut, Abu Ubaidah bin al-Jarrah mencabut cincin topi besi tersebut dari pipi Rasulullah saw.. Akan tetapi, iatidak mencabut dengan tangannya, melainkan menggunakan giginya. Hal itu ia lakukan agar ia tidak menyakiti Rasulullah. Akibatnya, tanggallah dua gigi Abu Ubaidah bin al-Jarrah ra. ketika mencabut cincin tersebut dari pipi Rasulullah saw.. Demikian besarnya pengorbanan seseorang untuk sahabat yang paling dicintainya.

Kisahnya Diabadikan dalam Al-Qur’an

Ketika Perang Badar berlangsung, Abu Ubaidah bin al-Jarrah bertempur dengan gagah berani bagaikan seekor singa. Mayoritas pasukan kaum musyrikin menjauhinya karena takut. Akan tetapi, ada satu prajurit kaum musyrikin yang terus-menerus mengincar Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Saat itu, Abu Ubaidah bin al-Jarrah berusaha menghindari prajurit tersebut. Hingga akhirnya, ia menyerang dan membunuh prajurit tersebut. Ternyata orang yang terbunuh tersebut adalah Abdullah bin al-Jarrah. Ya, demi berjihad di jalan Allah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah membunuh ayahnya sendiri pada Perang Badar. Ini karena ayahnya memerangi Islam dan kaum muslim. Atas kejadian ini, Allah pun berfirman, “Engkau (Nabi Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau kerabatnya. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tetapkan keimanan di dalam hatinya dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.”(QS Mujadilah: 22).

Dari peristiwa ini, kita bisa memahami bahwa loyalitas kecintaan kita hanya untuk Allah, Rasul-Nya, dan Islam. Ketika orang-orang terdekat kita menentang dan memerangi Islam, walaupun mereka adalah ayah dan ibu kita, maka sebagai seorang muslim, kita harus tetap membela Islam. Ini sebagaimana Abu Ubaidah bin al-Jarrah yang melawan ayahnya sendiri pada Perang Badar karena ayahnya memerangi Islam. Abu Ubaidah bin al-Jarrah lebih memilih Islam dibandingkan ayahnya. Ketahuilah, bahwasanya tidak mungkin seorang muslim bisa berkasih sayang dengan orang yang memusuhi Islam. Selayaknya bagi seorang muslim, menjadikan kecintaan yang paling besar adalah mencintai Allah.

Pelajaran Berharga dari kehidupan Abu Ubaidah bin al-Jarrah

Kisah Abu Ubaidah bin al-Jarrah bukan sekadar catatan peperangan, melainkan perjalanan spiritual tentang loyalitas, keteguhan hati, pengorbanan, kesetiaan, dan simbol kejujuran kepada Allah Taala. Abu Ubaidah adalah cermin bagi siapa pun yang ingin memimpin dengan hati, bekerja dengan iman, dan mengelola amanah tanpa terikat oleh gemerlap dunia. Ia hidup sederhana, memimpin dengan iman, dan wafat dalam kemuliaan. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari harta atau jabatan, tetapi dari keberkahan dan kejujuran. Ia membuktikan bahwa amanah adalah pondasi bagi setiap keberhasilan, baik dalam agama maupun kepemimpinan. 

Dari sahabat Rasulullah saw. ini, kita juga belajar bahwa iman sejati menuntut keberanian untuk menempatkan Allah Swt. di atas segalanya. Bahkan, ketika ujian datang dari orang terdekat, seorang mukmin harus tetap berpihak pada kebenaran. Ini sebagaimana firman Allah Swt., “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS At-Taubah: 24).

Sebagai pemimpin yang tepercaya, Abu Ubaidah selalu mengutamakan kepentingan umat, serta bertindak dengan bijaksana dalam mengambil setiap keputusan. Penghormatan yang diberikan Rasulullah saw. kepadanya mencerminkan keyakinan bahwa ia adalah sosok yang layak untuk memimpin dan melindungi masyarakat. Bagi umat Islam masa kini, terutama para pemimpin, keteladanan Abu Ubaidah adalah pengingat bahwa kemuliaan bukanlah milik mereka yang paling banyak harta dan populer, tetapi mereka yang paling amanah dan teguh keimanannya. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

One thought on “Abu Ubaidah al-Jarrah, Sahabat Rasul yang Kisahnya Diabadikan dalam Al-Qur’an”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *