Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara kisah-kisah yang dicatat oleh sejarah untuk kita adalah kisah para wanita yang mengemban cita-cita Islam. Mereka berupaya keras berkhidmat kepada Islam dengan segala jalan yang memungkinkan bagi mereka. Seorang di antara mereka adalah Umayyah binti Qais bin Abi Ash-Shalt Al-Ghifariyyah.
Kisah yang bercerita tentang Umayyah binti Qais pada Perang Khaibar diriwayatkan oleh Al-Waqidi dalam kitab Al-Maghazi. Umayyah binti Qais datang kepada Rasulullah ﷺ bersama beberapa wanita dari Bani Ghifar. Mereka lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami ingin pergi bersamamu dalam peperangan yang engkau hadapi ini. Kami akan mengobati para prajurit yang terluka, serta membantu kaum muslim dengan apa pun yang kami mampu.” Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Pergilah di atas keberkahan Allah.” Kemudian mereka pun pergi bersama Rasulullah ﷺ.
Umayyah binti Qais adalah seorang budak perempuan yang masih belia. Rasulullah ﷺ memboncengkannya di atas kantong yang berisi barang-barang bawaan beliau. Ketika tiba waktu Subuh, beliau menderumkan untanya. Umayyah binti Qais berada di atas kantong yang terkena darahnya. Itu adalah haid pertama yang dialaminya. Umayyah binti Qais pun lalu bersembunyi di balik unta karena malu.
Ketika Rasulullah ﷺ melihat kondisi dan darahnya, beliau bersabda, “Sepertinya engkau haid.” Umayyah binti Qais menjawab, “Ya.” Beliau ﷺ bersabda lagi, “Kalau begitu, bersihkanlah dirimu. Bawalah satu bejana air, lalu taburkanlah garam ke dalamnya dan cucilah darah yang mengenai kantong ini. Kemudian biasakanlah seperti itu.” Umayyah binti Qais pun melaksanakan perintah Rasulullah ﷺ.
Setelah Rasulullah ﷺ menaklukkan Khaibar, beliau memberikan harta fai (rampasan perang) kepada mereka. Namun, beliau tidak membagikannya sesuai pembagian biasanya. Beliau lalu mengambil kalung dan langsung menyematkannya di leher Umayyah binti Qais dengan tangannya sendiri. Umayyah binti Qais bertekad demi Allah bahwa ia tidak akan melepaskan kalung itu selamanya.
Kalung itu pun masih melingkar di leher Umayyah binti Qais hingga ia meninggal dunia. Ia berwasiat agar kalung itu dikuburkan bersama jasadnya. Ia pun tidak pernah bersuci dari haid, kecuali ia mencampurkan garam ke dalam air yang dipakainya untuk bersuci. Kemudian ia pun berwasiat agar air yang digunakan untuk memandikan mayatnya dibubuhi garam.
Demikianlah kisah seorang shahabiyah belia yang ikut berjihad bersama Rasulullah ﷺ. Dari sepenggal kisah ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, jihad untuk berperang melawan musuh Allah tidak memandang status sosial, gender, dan usia. Walaupun Umayyah binti Qais adalah seorang budak perempuan yang baru menginjak usia balig, ia mampu berkontribusi besar untuk membantu mengobati para prajurit yang terluka di medan perang. Demikian pula semestinya para generasi muda saat ini, hendaklah mereka berkontribusi di dalam perjuangan menegakkan Islam kafah dengan segenap potensi dan kemampuan yang prima.
Kedua, kegigihan Umayyah binti Qais dalam melaksanakan seluruh perintah Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ telah memerintahkan kepadanya untuk menaruh garam ke dalam air yang akan digunakan untuk bersuci. Ia pun terus melakukan hal tersebut hingga ia meninggal dunia. Bahkan, ia pun berwasiat kepada orang yang akan memandikan jenazahnya agar membubuhi garam ke dalam air yang akan digunakan untuk memandikannya. Hal itu ia lakukan karena menaati perintah Rasulullah ﷺ semata.
Ketiga, Umayyah binti Qais senantiasa mengharapkan keberkahan dari diri Rasulullah ﷺ. Bahkan, ia tidak pernah melepaskan kalung yang langsung disematkan oleh Rasulullah ﷺ ke lehernya.
Keempat, munculnya tekad kuat pada diri seorang budak perempuan belia untuk ikut berjihad di jalan Allah Taala. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh diterapkannya Islam kafah pada saat itu. Oleh karena itu, penerapan Islam kafah merupakan kebutuhan agar bisa melahirkan generasi pejuang Islam seperti sosok shahabiyah, juga merupakan kewajiban yang harus diperjuangkan. [MNews/KW-YG]
