[Tapak Tilas] Menggali Jejak Islam di Sevilla

[Tapak Tilas] Menggali Jejak Islam di Sevilla

Penemuan sebuah situs pemandian Islam yang berasal dari abad ke-12 yang ada di pusat Kota Sevilla menambah bukti bahwa Sevilla pernah berjaya dengan Islam. Sungguh, cahaya hidayah itu akan kembali menaungi Sevilla. Bahkan, akan ada saatnya penduduk Sevilla dan Andalusia kembali ke pangkuan Islam.

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


Muslimah News, TAPAK TILAS — Februari 2021 lalu, publik di Spanyol dikejutkan dengan penemuan sebuah hammam atau situs pemandian Islam yang berasal dari abad ke-12. Hammam ini tersembunyi dalam sebuah bar bernama Cerverceria Giralda yang ada di pusat Kota Sevilla.

Situs pemandian Islam dari abad ke-12

Posisi bar itu sendiri ada di dekat gereja katedral Santa Maria De La Sede. Adapun nama Giralda diambil dari nama menara tempat lonceng gereja dipasang. Konon sebelum tahun 1923 gereja katedral itu merupakan bangunan masjid agung kota.

Menara Giralda

Arabnews memberitakan bahwa penemuan hammam terjadi saat sang pemilik sedang memugar bar. Pemugaran ini sendiri sempat tertunda karena terhalang pandemi korona.

Saat itu pekerja sedang membuka langit-langit bar. Ternyata di baliknya tersembunyi sekitar 88 skylight berornamen dengan desain Moor yang sangat indah. Sementara dinding hammam yang artistik tersembunyi di balik lukisan-lukisan dan dekorasi bar. Diperkirakan hammam ini dibangun pada masa kekuasaan Dinasti Muawahidun (Almohad), antara tahun 1147 dan 1238 M.

Sevilla, Kota Istimewa

Kota Sevilla

Saat ini Sevilla merupakan ibu kota wilayah otonomi (autonomous community) Andalusia, negara Spanyol. Dikenal juga dengan nama Ixvillia. Posisinya terletak di muara Sungai Guadalquivir dengan luas sekitar 140 km².

Sebagaimana Cordoba dan Granada, Sevilla juga menyimpan catatan sejarah emas peradaban Islam di Andalusia. Penemuan hammam yang sangat berkelas ini menambah bukti Sevilla pernah berjaya dengan Islam.

Di masa pra-Islam, Sevilla sempat menjadi koloni penting Romawi yang pada masa Julius Cesar dikenal dengan sebutan Colonia Julia Romula atau Romula Agusta. Lalu pada 461 M penguasa Romawi di Sevilla dikalahkan oleh dinasti Visighoth (Gothic) yang kemudian memerintah wilayah ini dengan kejam.

Sekira tahun 711-712 M, terjadilah pembukaan wilayah Andalusia (termasuk Sevilla) oleh pasukan Islam dari perwakilan Bani Umayyah yang ada di Afrika Utara. Kekejaman penguasa Visigoth justru membuat penduduknya turut membantu pasukan muslim untuk membuka pintu dakwah Islam di sana.

Sejak saat itulah, kekuasaan Islam tegak di Andalusia, termasuk di Sevilla. Pelan tapi pasti, Islam dan budayanya pun mewarnai kehidupan masyarakat. Mereka bahkan berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Di bawah naungan kekuasaan Islam Andalusia, Sevilla muncul sebagai kota yang sangat istimewa dan indah. Sevilla juga menjadi kota terbesar kedua di Andalusia setelah Cordoba. Saat itu, orang Arab menyebutnya dengan nama Isybiliyyah.

Pada masa kekuasaan Murabithun, Sevilla bahkan mengalami era keemasannya. Saat itu, Sevilla menjadi salah satu pusat ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, seni, budaya dan bidang arsitektur.

Saat itu lahir pula para ilmuwan muslim yang dikenal sepanjang masa. Di antaranya, ahli tafsir bernama Ibnu Al-Arabi, ahli matematika bernama Ibnu al-Yasamin al-Isybili, ahli astronomi Abu Muhammad Jabir Ibnu Aflah (Geber), dan lain-lain.

Istana Alcazar

Sebagian bukti peradaban itu masih tersisa hingga sekarang. Di antaranya, Istana Al-Cazar (The Real Al-Cazar) yang dibangun oleh Sultan Abdurrahman III pada abad 913 M.

Istana ini awalnya merupakan benteng pertahanan umat Islam. Namun, di era berikutnya, yakni era Muwahiddun, benteng ini diubah menjadi kompleks istana sekaligus pusat pemerintahan Islam di wilayah (keemiran) yang dikenal dengan nama Al-Muwarak.

Lalu saat Sevilla ditaklukkan oleh Raja Castilla (Ferdinand III) pada 1248 M, namanya diubah menjadi Al-Cazar. Sejak saat itu, istana yang megah ini digunakan sebagai tempat istirahatnya raja-raja Spanyol sepanjang masa.

Di samping istana Al-Cazar, masih ada beberapa sisa bukti kejayaan Islam di Sevilla. Di antaranya eks kompleks Masjid Jami Sevilla dengan sisa menaranya setinggi 95 meter. Ada pula Benteng Jabir (Alcala de Guadaira) dan Benteng Las Morallas Al Mohades (Muwahid) yang dibangun setelah kekuasaan Islam di Andalusia terpecah menjadi beberapa Thaifah.

eks kompleks Masjid Jami Sevilla

Benteng-benteng ini dibangun penguasa muslim Sevilla sebagai benteng pertahanan di sebelah timur kota. Berfungsi sebagai penahan saat wilayah-wilayah Islam mendapat serangan dari para penguasa Kristen yang bersekutu melancarkan gerakan reconquista (perebutan kembali) sejak 722.

Namun sayang, tepatnya pada 1247, benteng ini berhasil ditembus musuh. Kota Sevilla pun berhasil dikuasai penguasa Kristen. Bahkan, sekira tahun 1402 M bangunan masjid Jami Sevilla dirobohkan, lalu dibangunlah gereja katedral Santa Maria De La Sede dengan menara yang dialih fungsi sebagai tempat menyimpan lonceng dan kini dikenal sebagai menara Giralda.

Sevilla Tanpa Kekuasaan Islam

Nama Sevilla tenggelam sejalan dengan tenggelamnya kekuasaan Islam pada abad ke-13. Ini terjadi, setelah atas perintah Paus, raja-raja Eropa yang sedang mengobarkan Perang Salib II turut menyerang Andalusia untuk membantu proyek reconquista yang digagas koalisi raja-raja Kristen Andalusia.

Ketika wilayah-wilayah kekuasaan Islam di Andalusia ini diserang, konon hanya Sevilla dan Granada yang sulit ditaklukkan. Meski demikian, Sevilla sendiri akhirnya takluk pada 1248. Sementara Granada takluk pada 1492.

Penaklukan Sevilla terjadi setelah pasukan Kristen mengepung kota selama 15 bulan (mulai 1247-1248). Saat itu, Raja Castilla (Kastilia) Ferdinand III, merekrut Ramon de Bonifaz sebagai pemimpin penyerangan. Dengan kecerdikannya, ia berhasil menghancurkan pertahanan kota Sevilla di sungai Guadalquivir.

Caranya adalah dengan menghancurkan Jembatan Ponton yang dibangun penguasa muslim yang menghubungkan Sevilla dengan Triana. Dengan demikian, terputuslah satu-satunya jalur suplai logistik sehingga penduduk Sevilla akhirnya berhasil ditundukkan.

Di bawah kekuasaan Kristen inilah, sisa-sisa kebudayaan Islam di Andalusia, tidak terkecuali di Sevilla, sedikit demi sedikit dihancurkan, termasuk bangunan-bangunan masjid. Bahkan tidak hanya itu, penguasa Kristen pun membangun lembaga inkuisisi untuk membersihkan umat Islam di seluruh wilayah Andalusia, termasuk di Sevilla.

Lembaga inkuisisi di Andalusia

Sejarah bahkan mencatat bahwa kala itu Sevilla menjadi markas utama dan penjara lembaga inkuisisi di Andalusia. Tepatnya, ketika di sana dibangun sebuah kastil bernama San Jorge (St. George) yang berfungsi sebagai tempat pengadilan dan penjara korban-korban inkuisisi.

Dengan demikian, Sevilla menjadi saksi sejarah kekejaman pemerintahan Kristen yang melakukan pembantaian atas nama agama. Tidak hanya memberantas bidah sebagaimana tujuan awal pendirian lembaga inkuisisi, tetapi juga membantai kaum muslim dan Yahudi yang tidak mau beralih ke dalam agama Kristen.

Tidak heran jika sepanjang masa itu, Sevilla sebagaimana wilayah Andalusia lainnya “jauh” dari cahaya Islam. Para penguasanya tenggelam dalam syahwat pembalasan dendam dan masuk dalam era penjajahan.

Bahkan saat benua Amerika ditemukan dan menjadi daerah jajahan Spanyol, kota Sevilla berubah menjadi markas eksploitasi “dunia baru” itu dengan berdirinya Casa de Contratacion (rumah perdagangan) dan tempat percetakan emas yang berhasil mereka rampok dari sana.

Kini Merindukan Islam

Sebagaimana wilayah lain di Andalusia, lebih dari 700 tahun Sevilla tidak lagi mengenal syiar Islam. Suara azan yang menyejukkan tidak pernah lagi berkumandang. Kaum muslim yang memilih murtad pun tidak pernah bahagia di bawah kekufuran.

Namun ada satu yang tidak bisa dinafikan, saat ini Sevilla dan Andalusia justru dikenal dunia karena ada sisa-sisa peradaban Islam. Tidak heran jika fitrah Islam tidak bisa benar-benar dihancurkan. Ia hanya tidak muncul karena kekuasaan represif yang penuh dengan tekanan.

Namun terakhir ada berita menyejukkan, jumlah penduduk muslim Sevilla mulai tumbuh kembali. Tahun 2021 lalu jumlah mereka ada sekira 30.000 dari 2 juta muslim di seluruh Andalusia.

Tentu kehidupan mereka sebagai minoritas bukanlah perkara mudah. Berbeda dengan apa yang dirasakan kaum minoritas saat Islam berkuasa. Kala itu, agama minoritas justru dilindungi dan kehidupannya dijamin oleh para penguasa muslim.

Saat ini, hanya untuk memiliki satu tempat ibadah saja, kaum muslim Sevilla harus berjuang dengan keras. Hingga pada tahun lalu, seorang mantan pemain sepakbola Sevilla terkenal bernama Kanoute, berinisiatif menggalang dana dan mencari dukungan dunia agar muslim Sevila bisa membangun satu masjid sederhana.

Sungguh, cahaya hidayah itu akan kembali menaungi Sevilla. Bahkan, akan ada saatnya penduduk Sevilla dan Andalusia kembali ke pangkuan Islam. Sebab, sejarah telah membuktikan bahwa Islam adalah agama fitrah yang terbukti telah menempatkan mereka pada posisi mulia. Wallahualam. [MNews/Has]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *