Muslimah News, NASIONAL — Bencana Sumatra memberikan banyak pelajaran. Dalam hal ini, para tokoh masyarakat dan ulama menegaskan bahwa bencana tersebut terjadi akibat kekeliruan dalam kebijakan negara. Oleh karenanya, harus ada perubahan dengan kembali kepada kebijakan yang berdasarkan syariat Allah Swt..
1. Edy Mulyadi (Tokoh Masyarakat)
Tema Isra Mikraj adalah “Dari Langit ke Bumi, Solusi Islam Atasi Bencana”. Saat ini bukan cuma alergi Khilafah, syariat, bahkan banyak yang alergi simbol (bendera). Masih banyak tokoh yang alergi membawa bendera tauhid karena di-framing radikal.
2. Fikri Bareng (Tokoh Masyarakat)
Hukum jahiliah gagal menyejahterakan. Karena itu, harus lebih kencang menyuarakan hukum Allah Swt. agar bisa diterapkan di bumi. Kejahatan tidak hanya oleh pengusaha, tetapi juga penguasa yang membuat kebijakan mendatangkan bencana.
3. Dwi Cahyono (Mantan Hakim Agung)
Kondisi negara kita tidak baik-baik saja. Banyak persoalan yang sangat menyakiti (rakyat), (persoalannya) begitu parah. Pemerintahan yang tidak pro-rakyat, tidak mementingkan kepentingan rakyat. Sudah berlaku UU KUHP dan KUHAP. Ini sangat memprihatinkan dan mengerikan. Sangat membahayakan untuk kita semua.
Kita tidak bisa diam. Kita harus berisik. Tidak cukup hadir dalam forum tertutup. Kita harus melakukan kegiatan di ruang terbuka. Jangan berhenti sampai direspons oleh pemerintah. Banyak persoalan politik, ekonomi, dan hukum. Jangan pernah diam, tunjukkan bahwa kekuatan kita bisa menekan.
4. K.H. Fathul Azim (Sesepuh Ulama Banten)
Dalam QS Al-Hasyr ayat 2 disebutkan tentang pengusiran orang Yahudi Bani Nazir. Ini menunjukkan bahwa azab Allah Swt datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Di dunia ini ada tiga kekuatan yang menguasai, yaitu PBB, Vatikan, dan Cina yang menguasai ekonomi dan budaya. Lalu, kenapa tidak ada kelompok kecil yang menyampaikan (kebenaran Islam) kepada tiga kekuatan tersebut untuk menancapkan rasa takut pada mereka. Semoga segera muncul (Imam Mahdi) sebagai pemimpin.
5. K.H. Mansur Muhyiddin (Tokoh Masyarakat)
Ada seorang cendekiawan muslim, ulama, yang menyatakan bahwa Yahudi dan Nasrani sebagai musuh adalah sunatullah yang mematahkan perjuangan Khilafah. Hari ini toleransi membuat orang meninggalkan prinsip.
6. Ustaz Alfian Tanjung (Tokoh Masyarakat)
Perlu revitalisasi kader-kader umat, bahkan rohis sudah “dibunuh” karena dianggap radikal. Selain itu, perlu revitalisasi majelis taklim. Ibu-ibu jangan yasinan melulu, kapan mereka belajar politik Islam? Harus saling membuat pertemuan untuk silaturahmi.
7. Hanafi Rais (Tokoh Masyarakat)
Negara ini didesain untuk akumulasi modal sehingga bencana ini bukan bencana alam. Yang terjadi adalah bencana negara. Polisi korup menyebabkan negara melakukan kejahatan yang terorganisir. Oleh karenanya, harus ada perubahan yang dimulai dengan perubahan pemikiran. Kedaulatan pun harus di tangan syariat.
8. Dodi Surahman (Tokoh Masyarakat)
Kejadian bencana menunjukkan bahwa yang mengelola negara ini orang-orang “bodoh”. Harusnya dalam pengelolaan sumber daya alam, 100% keuntungannya untuk rakyat. Untuk itu, pengusaha harus ganti bidang usaha, yaitu pengusaha yang mendirikan Negara Khilafah.
9. Kiai Mualim (Tokoh Masyarakat)
Allah Swt. benci pada umat Islam ketika tertipu, tapi malah tertawa terbahak-bahak. Umat sekarang tertipu dengan sistem sekuler dan demokrasi. Selama umat Islam tetap berpegang pada sistem demokrasi, maka bala akan terus datang. Oleh karenanya, harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunah karena Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi.
10. Ustaz Fahmi Salim (Tokoh Masyarakat)
Pelajaran isra mikraj yaitu membangun peradaban rabani. Sumber pemikiran rabani, implementasi insaniah. Kebangkrutan sistem politik ekonomi dunia karena manusia melakukan perjalanan mencari kesempurnaan. Padahal Islam itulah kesempurnaan, sebagai sistem kehidupan dan peradaban yang sempurna bagi manusia. Untuk mewujudkannya perlu sinergi umat.
11. Ustaz Ismail Yusanto (Cendekiawan Muslim)
Pelaku utama yang merusak lingkungan adalah negara (corporate state). Contoh nyata adalah AS, Presiden selalu ditopang pengusaha. Dominasi korporasi akan menghela negara. Banyak negara yang modelnya negara korporasi. Bedanya, korban AS adalah negara lain dengan tiga kepentingan, yaitu minyak, geopolitik, dan pertahanan keamanan (bisnis senjata). Sedangkan, negara lain dengan model yang sama, korbannya adalah rakyat sendiri.
Rakyat tidak menyadari, ada pergeseran negara berkedaulatan rakyat menjadi negara berkedaulatan pengusaha. Tampak, misalnya, dari kebijakan UU minerba, IKN, UU Cipta Kerja, kasus Rempang, dll..
Ini karena kapitalisme tidak punya batas, seperti Nabi saw. sampaikan bahwa jika orang sudah punya dua pulau, ingin pulau yang ketiga. Ketidakadilan pun terus membesar. Kebijakan ekstraktif pasti akan merusak lingkungan.
Allah Swt. meminta manusia menjadi khalifatullah yang harus memahami ayat-ayat kauniyah (ilmu sains dan teknologi untuk memahami fakta-pen) dan paham tsaqafah (ilmu yang menjelaskan aturan bagi fakta yaitu syariat-pen). Jadi, kurang besar apa bencana kemarin, perlu bukti apalagi untuk segera kembali pada syariat Islam.
12. K.H. Rokhmat S. Labib (Ulama Nasional)
Ada pernyataan “keadilan harus di atas hukum”, kenapa kok ada hukum yang tidak menciptakan keadilan? Ini berarti ditentukan oleh pembuat hukum yang tidak adil (koruptor, penghamba jabatan).
Hukum itu untuk mengatur masa depan. Siapa yang tahu apa yang terjadi dengan masa depan? Bagaimana bisa berharap keadilan jika hukum diserahkan pada manusia yang tidak tahu masa depan. Hukum hanya akan selaras dengan keadilan jika dibuat oleh yang mengetahui masa depan, yaitu Allah Swt..
Jika hukum diserahkan pada akal, maka akan lahir kezaliman. Hukum yang adil hanya jika diserahkan pada syariat.
Pelajaran dari salat berjemaah adalah adab terhadap imam dan negara. Imam tidak boleh membuat hukum, hanya menjalankan hukum Allah Swt., tetapi makmum harus taat pada imam. Siapa yang jadi imam untuk menjadikan syariat sebagai penetap cara dan kekuasaan di tangan umat. Umat tidak boleh ikut-ikutan jika imam salah. Dengan demikian, usaha kita harus sungguh-sungguh menegakkan proyek Allah Swt. untuk menerapkan Islam.
13. Prof. Fahmi Amhar (Cendekiawan Muslim)
Problem kita sangat banyak. Setiap kebijakan punya dampak. Bencana berhubungan dengan kebijakan lain, tata ruang, investasi, dll.. Tugas pemerintah memastikan pencegahan agar bencana tidak menyebabkan penderitaan rakyat.
Banyak pendapat akademisi yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah, justru tidak dipakai. Tawaran pada akademisi hanya dua agar “tidak berisik”, yaitu diberikan jabatan agar mau kolaborasi atau jika menolak, dibiarkan pada posisi yang tidak punya pengaruh. [MNews/RA]
