Penulis: MR Kurnia, dkk.
Muslimah News, TELAAH KITAB — Seorang muslim harus memahami dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, bagaimana ia harus menjalani hidupnya, serta akan ke mana setelah mati. Setelah memahami hakikat hidupnya di dunia dengan benar, tentu ia akan memahami pula bahwa melejitkan valensi diri guna menjalani hidup demi menggapai kebahagiaan dunia akhirat merupakan sebuah konsekuensi.
Tidak hanya itu, ia juga akan memahami betapa kematangan emosi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap aktivitasnya selaku hamba Allah Taala. Ini karena emosi juga dilekatkan dalam diri manusia tatkala Allah Swt. menciptakan manusia. Emosi juga menjadi bagian dari potensi hidup manusia. Kalau demikian, lantas bagaimana caranya? Uraian berikut ini menyajikannya.
Mematangkan Emosi
Alkisah, di Gunung Puteri, Bogor ada suatu acara pengajian umum para ibu pada minggu ketiga Februari 2002. Penyelenggaranya seorang gadis. Ia adalah satu-satunya aktivis andalan di sana. Belum ada pembicara yang pas untuk para ibu, termasuk dirinya. Tidak kehilangan akal, sang ukhti mengundang pembicara dari Bogor. Awalnya pembicara keberatan. “Saya harus membawa tiga anak yang masih kecil,” alasannya.
Namun, dengan sabar ukhti itu menyanggupi untuk menjemputnya. Bukan naik mobil pribadi, melainkan naik bus. Jadi, betul-betul menjemput dalam arti sebenarnya. Itu bukan persoalan baginya, yang penting aktivitas dakwah berjalan. Sesampainya di tempat pengajian, sang ukhti dengan sabar membereskan tempat acara. Kelelahan tampak di wajahnya. Seusai pengajian, ia masih harus mengantar ibu pembicara dengan ketiga anaknya. Sore itu, tepat pukul 17.00 WIB, sampailah ia di Cibinong. “Dik, mengantarnya sampai di sini saja,” tutur ibu pembicara. “Besok, pukul delapan pagi adik akan menikah. Saya doakan semoga menjadi keluarga sakinah,” tambahnya.
Subhanallah. Akad nikah yang akan dilangsungkan besok tidak menghalanginya beraktivitas untuk mengembangkan Islam. Padahal, di daerah Sunda masih dipahami oleh banyak orang bahwa seorang perempuan yang akan menikah tidak boleh bepergian. Apalagi, sehari menjelang hari pernikahan.
Namun, dengan penuh sabar gadis salihah itu meretas jalan setapak demi setapak semata untuk menumbuhkan bibit dakwah di daerahnya. Saya atau mungkin juga Anda percaya andai saja berbagai bisikan dalam hati dituruti, seperti, “Sudah, acaranya dibatalkan saja karena akan menikah,” “Seperti tidak ada waktu lain saja,” “Ini hari istimewa, lupakan sejenak masalah dakwah,” dan godaan lainnya. Kemudian kesabaran untuk menjalaninya akan sirna sehingga tidak mungkin acara yang sudah diagendakan dapat terlaksana. Acara bubar. Agenda berantakan. Semangat para ibu terganjal. Padahal, sangat mungkin saat itu merupakan momen paling tepat untuk menanam bibit dakwah Islam di sana.
Penggalan realitas tadi hanyalah sebagai bahan renungan bagi kita, betapa kesabaran akan menghasilkan suatu kesuksesan. Tanpa kesabaran, sesuatu yang kita kehendaki hanya akan menjadi harapan tanpa kenyataan. Itu sekadar acara pengajian. Apalagi, dalam perjuangan, kesabaran tentu mutlak diperlukan
Kesabaran meretas jalan menuju kematangan emosi. Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan. Pertama, mengingat janji Allah Swt. saat kita memenuhi kebutuhan fisik (hajatul ‘udhawlyah) dan naluri (garizah).
Apabila nafsu dalam diri kita tidak dijalankan di atas rahmat Allah Swt., tentu dapat menjadi hama bagi kesabaran kita. Barangkali Anda adalah seorang mahasiswa. Ketika duduk di bangku kuliah, seakan jalan perjuangan mulus laksana jalan tol. Betapa tidak, pikiran hanya terfokus pada dakwah menegakkan Islam dan mencurahkan sebagian pikiran untuk mempersiapkan ujian. Keuangan? Sudah dijamin oleh orang tua. Setiap awal bulan, wesel dijamin datang atau sudah ditransfer ke rekening.
Namun, Anda yang baru saja lulus secara alami akan mulai berpikir untuk bekerja. Beruntung kalau langsung memperoleh pekerjaan. Jika tidak, orang tua sudah menghentikan pemberikan “gaji”. Sementara itu, belum mendapatkan pekerjaan. Berencana berbisnis, tetapi modal tidak ada. Pada sisi lain, tuntutan bekerja pun terus datang. Apalagi keinginan menikah sudah mendesak. Jangan salahkan diri Anda andaikan pada saat seperti itu terbetik dalam diri Anda ketidaksabaran. Boleh jadi terlintas dalam diri Anda kata-kata, “Wah, akibat dakwah jadinya begini.” Hal ini sebenarnya hanyalah ungkapan pelarian dan legalisasi terhadap sikap pribadi yang tidak sabar.
Oleh karenanya, lintasan hati tersebut tidak sepatutnya dituruti. Sebabnya, hal tersebut hanyalah merupakan bisikan yang apabila diperturutkan justru membahayakan jiwa dan diri sendiri. Yakinlah, setiap orang hidup pasti punya persoalan. Bukankah hidup adalah ujian? Bayangkan, apakah jika berhasil bekerja atau berusaha sendiri persoalan pasti selesai? Apakah dengan punya istri semua masalah tuntas? Tidak! Masalah akan terus bermunculan sepanjang kita hidup, tetapi jenisnya berbeda-beda.
Bukan hanya persoalan pribadi yang muncul, melainkan justru permasalahan perjuangan menegakkan Islam pun berdatangan. Persoalan akan terus dihadapi selama kita hidup. Oleh karenanya, sabar dalam mengungguli permasalahan yang dihadapi dalam perjuangan itu pun mutlak dilakukan seumur hidup. Upayakan mengungguli setiap persoalan dan terus sabar menapaki jalan perjuangan dan dakwah.
Apabila kita termasuk orang yang sekarang sedang menghadapi tantangan diri sendiri seperti tadi, segeralah ingat kembali firman Allah Swt., “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (mengajak berpegang) kepada Allah, melakukan amal saleh, dan menyatakan ‘Sungguh, aku bagian dari kaum muslimin?'” (QS Fushilat: 33).
Jelaslah, tidak ada perkataan yang lebih baik daripada dakwah. Jalan dakwah adalah pilihan hidup kita. Oleh karena itu, risiko apa pun dari dakwah ini merupakan pilihan rasional kita. Dengan memilih jalan ini, kita akan menjadi manusia terbaik yang dijanjikan Allah Pencipta Alam untuk mendapatkan Surga Firdaus nan tinggi.
Apalagi, bekerja atau tidak bekerja, cepat punya jodoh atau tidak, miskin atau kaya, begitu juga kualitas hidup tinggi atau rendah, semua itu tidak berkaitan dengan dilakukannya dakwah. Tidak sedikit orang yang tidak mendapatkan pekerjaan, padahal ia tidak berdakwah. Banyak orang yang belum mendapatkan jodoh, padahal ia tidak aktif berdakwah. Tidak jarang orang berada dalam kemiskinan, sekalipun tidak berjuang untuk menegakkan Islam dengan dakwah. Masih banyak sekali contoh mereka yang kualitas hidupnya rendah, padahal hidupnya tidak sibuk berdakwah.
Jadi, tidak sepatutnya seseorang yang tengah mendapatkan kesulitan pribadi melemahkan girahnya dalam dakwah. Secara manusiawi wajar saja jika hal ini terjadi. Namun, apabila rasa tidak sabar dalam menapaki jalan perjuangan itu dikembangkan atau bahkan dijadikan dalih untuk melarikan diri dari jalan dakwah, itu bukanlah sikap bijak.
Bagaimana tidak, ketidaksabaran dalam perjuangan tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Yang pasti, seseorang yang menipis kesabarannya dalam berjuang, lama-kelamaan bukan mustahil ia akan makin jauh dari perjuangan itu sendiri. Apabila demikian, bukan orang lain yang rugi, tetapi dirinya sendiri. [MNews/RY-YG]
Sumber: MR Kurnia, dkk., Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.
Bersambung ke “Mematangkan Emosi” Bagian 2/4.

One thought on “[Politisi Transformatif] Mematangkan Emosi (Bagian 1/4)”