[Editorial] Indonesia Layak Tampil sebagai Kekuatan Global dengan Islam

[Editorial] Indonesia Layak Tampil sebagai Kekuatan Global dengan Islam

Muslimah News, EDITORIAL— “Bapak dan Ibu sekalian, beberapa hari yang lalu, saya sendiri terkejut. Jajak pendapat Gallup dan Universitas Harvard menemukan bahwa survei penelitian dari ratusan negara menemukan bahwa Indonesia, rakyat Indonesia adalah orang yang paling bahagia, negara yang paling berkembang di dunia dengan rakyat yang paling optimis. Ini sedikit membesarkan hati, tapi bagi saya juga sedikit menyedihkan. Saya tahu rakyat saya. Banyak dari mereka tinggal di gubuk. Banyak dari mereka tidak punya air bersih. Banyak dari mereka tidak punya kamar mandi. Banyak dari mereka makan nasi dengan garam. Namun, mereka tersenyum. Namun, mereka punya harapan.” (Kutipan terjemah pidato Presiden Prabowo di acara World Economic Forum (WEF) 2026 di Congress Hall, Davos, Swiss, Kamis (22-1-2026)).

Forum WEF di Davos tampaknya berhasil menjadi panggung spektakuler bagi Presiden Prabowo. Melalui pidatonya, ia menyampaikan setahun implementasi visi ekonomi Indonesia 2024—2029 yang disebutnya sebagai “Prabowonomics”. Visi ini berfokus pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi (target 8%), kemandirian pangan dan energi, serta keberlanjutan program pemerintahan sebelumnya, termasuk program Makan Bergizi Gratis.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyampaikan kebanggaannya atas pujian IMF yang baru-baru ini menggambarkan Indonesia sebagai “titik terang global” dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tengah lingkungan eksternal yang penuh tantangan. Ia juga mengaku terkejut dan bangga atas hasil survei Gallup dan Harvard yang menyebut Indonesia sebagai negara paling bahagia meski diakui masih banyak rakyat yang hidup susah. Untuk itu, ia menyampaikan tekad akan membawa Indonesia menjadi negara modern, terintegrasi dengan ekonomi global, memberikan kualitas hidup yang baik bagi warga negaranya, serta hidup bebas dari kemiskinan dan kelaparan.

Percaya Diri di Panggung Spekta

Banyak pihak yang mengapresiasi pidato Presiden Prabowo dalam forum bergengsi tersebut. Mereka memandang Indonesia berhasil menempatkan diri bukan hanya sebagai peserta forum global, melainkan juga sebagai penyampai gagasan dan arah kebijakan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian. Presiden pun dipandang berhasil meyakinkan bahwa Indonesia punya masa depan cemerlang sehingga dunia global layak mempertimbangkan Indonesia sebagai tempat berinvestasi, alias menanamkan modal yang super-menguntungkan.

Menilik keseluruhan, apa yang dipaparkan memang terkesan wow dan menggiurkan. Presiden dengan lugas dan percaya diri berbicara soal rahasia ketangguhan ekonomi negara, yakni berupa perdamaian, stabilitas, dan kredibilitas yang berhasil dijaga. Ia menyebut bahwa Indonesia tidak pernah gagal bayar utang.

Ia juga menyebut bahwa Indonesia memiliki alokasi dan realokasi modal yang efisien dan bisa menjamin ekonomi nasional berkelanjutan. Itulah Danantara Indonesia yang aset kelolaannya ia sebut sebesar USD1 triliun dan berfungsi sebagai dana kekayaan negara (sovereign wealth fund). Danantara ditugasi mengelola investasi 1.044 BUMN strategis dan aset pemerintah lainnya, sekaligus ditugasi menarik investasi global demi apa yang ia sebut transformasi ekonomi dan kemakmuran jangka panjang.

Presiden juga menyampaikan bahwa dengan profil Danantara seperti itu, Indonesia layak menjadi mitra setara bagi para pemimpin negara yang hadir. Ia sampaikan, Indonesia sekarang bukan hanya menjadi tanah perdamaian dan stabilitas, tapi makin menjadi tanah peluang. Oleh karena itulah, ia menegaskan agar tata kelola kekayaan negara itu bisa berstandar internasional. Alhasil, ia mengizinkan para ekspatriat alias warga negara asing untuk memimpin BUMN-BUMN yang ada di bawah Danantara.

Bahkan, demi meyakinkan para investor global tentang kelaikan Indonesia menjadi lahan menanam cuan, Presiden tidak lupa memaparkan berbagai program unggulan terkait pembangunan modal manusia yang ia yakini akan menentukan pertumbuhan dan keuntungan jangka panjang. Misalnya, program MBG yang ditarget Desember tahun ini bisa melayani 82,9 juta makanan sehari—melebihi produksi Mc Donald’s yang selama 5 dekade hanya mencapai 68 juta. Juga program modernisasi dan renovasi sekolah, program cek kesehatan gratis dan sekolah rakyat, program koperasi desa, dan sebagainya.

Lalu poin terakhir yang ia paparkan adalah tekadnya untuk menjadi negara modern dan terintegrasi dengan ekonomi global. Untuk itu ia meyakinkan negara-negara luar soal keseriusannya menegakkan supremasi hukum, mengubah pola birokrasi supaya lebih bersih dan efisien, dan mengubah ratusan regulasi demi jaminan investasi yang aman.

Prabowo menyebut siap perang melawan korupsi dan apa yang ia sebut sebagai greednomics atau ekonomi keserakahan. Misalnya, ia menyebut telah menyita 4 juta hektare perkebunan dan tambang ilegal, mencabut izin 28 dari 666 korporasi yang melanggar hukum, hingga menutup 1.000 tambang ilegal dalam rangka memerangi korupsi, manipulasi, dan tindakan jahat (malfeasance).

Presiden menyatakan optimismenya akan bisa menyejahterakan rakyat dalam sisa waktu kepemimpinannya. Ia mengklaim telah banyak kesuksesan yang diraihnya dalam setahun kepemimpinan, termasuk mencapai swasembada beras, dan menurutnya akan segera disusul dengan swasembada jagung, gula, dan protein. Ia juga mengatakan tidak takut dengan integrasi ekonomi dan Indonesia saat ini siap menawarkan pertumbuhan dengan stabilitas berkelanjutan.

Dunia Nyata Bukan Panggung Sandiwara

Tentu sah-sah saja Presiden menyampaikan klaimnya soal kesuksesan memimpin Indonesia pada satu tahun pertamanya. Bagaimanapun, bagi negara bukan pertama alias negara pengekor seperti Indonesia, validasi itu mutlak adanya. Terlebih di tengah problem keuangan yang belum stabil dan mandiri, tampak ada kebutuhan bagi pihak penguasa untuk meyakinkan negara-negara lainnya agar mau menggelontorkan dana demi membiayai berbagai proyek pembangunan yang tidak lebih sebagai penambah daftar portofolio kepemimpinan.

Oleh karenanya, forum-forum semacam WEF ini menjadi kesempatan emas bagi sang penguasa untuk memasarkan ambisi kepemimpinannya meski beda tipis dengan gagasan “menjual” masa depan Indonesia. Betapa tidak, pemimpin Indonesia dengan sadar menerima konsep globalisasi ekonomi neoliberal, yang di antaranya tampak dari paparannya yang lugas soal Indonesia sebagai tanah peluang, lalu penjelasannya soal dana kedaulatan, serta tawarannya soal kepemimpinan BUMN oleh tenaga luar.

Para penguasa negeri ini pun tampak terkagum-kagum oleh teori pertumbuhan. Padahal, teori utama dari sistem ekonomi kapitalistik ini fiks terbukti menjadi biang kerok terjadinya kesenjangan sosial, mulai dari tingkat lokal, regional, hingga global. Wajar jika fenomena yang kaya makin kaya kian merajalela. Sementara di sisi lain, kemiskinan, termasuk kemiskinan ekstrem, alih-alih dieliminasi, kian hari justru kian meningkat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa per September 2024, tingkat kemiskinan nasional hanya 8,57%, atau sekitar 24,06 juta jiwa. Namun, laporan terbaru Macro Poverty Outlook dari Bank Dunia edisi April 2025 menyebut 60,3% penduduk Indonesia, sekitar 171,8 juta jiwa, masih hidup di bawah garis kemiskinan hingga akhir 2024.

Perbedaan pencatatan ini terjadi karena metodologi. BPS menggunakan metode kebutuhan dasar (cost of basic needs/CBN) untuk mengukur tingkat kemiskinan di Indonesia. Sedangkan Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional yang digambarkan lewat purchasing power parity (PPP), yaitu metode konversi yang menyesuaikan daya beli antarnegara dengan kategori tingkat kemiskinan yang berbeda.

Tentu jika mau konsisten disebut mitra setara dan siap bermain di kancah global, standar kemiskinan pun harusnya tidak berbeda. Terlebih realitas di lapangan tidak dimungkiri bahwa problem kemiskinan terus menjadi PR besar yang tidak pernah berhasil dientaskan. Semuanya tertutup oleh budaya ABS (asal bapak senang) yang masih lekat, mulai dari pejabat level bawahnya, serta manajemen data kita yang begitu lemah. Apalagi masyarakat kita, memang dikenal sebagai entitas yang penuh rasa syukur dan tampak bahagia meski kesempitan hidup terus mendera. Sampai-sampai muncul kesimpulan mencurigakan bahwa Indonesia termasuk negara yang berbahagia.

Masalahnya adalah dunia nyata berbeda dengan angka-angka dan pidato indah pemimpinnya. Meski penguasa merasa sudah berusaha sekuat tenaga menyejahterakan rakyatnya, rakyat jelata harus berjibaku mengukir sendiri nasibnya. Kita lihat, kebijakan ekonomi yang diterapkan selama ini jelas-jelas berorientasi melayani kepentingan para pemilik modal. Apa yang disebut proyek-proyek pembangunan, faktanya menjadi bancakan para sponsor politiknya.

Ini semua niscaya karena sistem kepemimpinan yang tegak hari ini berparadigma sekuler kapitalistik yang menempatkan penguasa sebagai pelayan kepentingan pemilik modal. Tidak ada konsep halal-haram, yang ada hanyalah kebebasan yang melegalkan keserakahan. Mereka tega merampas hak rakyat dan menjadikannya sebagai komoditas. Mereka mengukur kesejahteraan hanya dari angka pertumbuhan ekonomi alias akumulasi modal secara global, bukan melihat kesejahteraan orang per orang.

Butuh Kepemimpinan Islam

Indonesia sejatinya punya modal yang besar dan kuat untuk tampil sebagai bangsa yang mandiri dan unggul dibandingkan bangsa-bangsa lainnya. Bukan sebatas pengakuan, melainkan modal itu telah Allah Swt. berikan dalam berbagai bentuk dan ragam, mulai dari aspek geopolitik maupun strategis. Sumber daya manusia dan alam negeri ini begitu melimpah ruah. Posisi geografisnya begitu strategis dan politis. Yang paling utama adalah potensi ideologis, berupa ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas warganya. Jika sisi politis ideologisnya ini ditampilkan, tentu akan menjadi bahan bakar yang dahsyat bagi upaya kebangkitan dan merebut kembali kepemimpinan global.

Terwujudnya kesejahteraan dalam sistem masyarakat Islam juga bukan hanya wacana sebagaimana ada dalam pidato-pidato para pejabat di mimbar-mimbar spekta. Lebih dari 13 abad sejarah peradaban Islam telah membuktikan level kesejahteraan umat yang tidak ada bandingannya. Di bawah sistem kepemimpinan Islam yang dikenal dengan nama Khilafah, umat Islam mampu tampil sebagai umat terbaik dan menjadi mercusuar peradaban cemerlang bagi bangsa-bangsa lainnya.

Peran negara dalam sistem ini benar-benar sentral terkait peran dan fungsinya sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (penjaga) bagi seluruh rakyat. Tupoksi dan kebijakan-kebijakan yang dilahirkannya dituntun oleh syariat Islam yang datang sebagai solusi atas seluruh persoalan umat. Bagi penguasa, penerapan seluruh aturan Islam tersebut menjadi kewajiban syar’i yang tidak bisa ditawar lagi. Namun pada saat yang sama, hal tersebut menjadi jaminan pasti bagi terwujudnya kesejahteraan hakiki dan keberkahan yang sejatinya dinanti.

Sayangnya, narasi tentang kebaikan Khilafah dan penerapan Islam kafah sedang berupaya dikubur dan dikaburkan oleh para pemegang bandul sejarah. Negara-negara kapitalis, termasuk para penguasa muslim yang mendukungnya, menjadikan ide Khilafah dan Islam kafah sebagai musuh yang harus ditumpas. Perang pemikiran dan budaya terus mereka gencarkan demi melemahkan umat Islam. Narasi radikalisme dan moderasi Islam terus mereka aruskan. Harapannya, umat menjauh dari keinginan untuk hidup kembali di bawah naungannya sebagai implementasi keimanan.

Inilah realitas yang umat Islam hadapi. Potensi kebangkitan sesungguhnya sudah ada dalam genggaman, tapi peracunan pemikiran dan penyesatan politik yang dilakukan musuh-musuh Islam membuat mereka masih berharap pada sistem kepemimpinan sekuler. Padahal, kepemimpinan inilah yang telah merampas kemuliaan mereka dan menutup pintu kebangkitan di bawah naungan Islam.

Tentu saja pintu itu tidak benar-benar tertutup. Allah Swt. telah menjanjikan bahwa masa depan peradaban mutlak milik umat Islam. Kembalinya Khilafah yang tegak di atas metode kenabian menjadi sebuah keniscayaan. Janji inilah yang harus ditangkap sebagai peluang emas bagi umat Islam yang hidup pada era sekarang. Mereka diberi anugerah kepercayaan untuk beroleh kemuliaan sebagaimana para penegak Khilafah an-Nubuwwah yang pertama, bahkan dengan pahala yang berlipat-lipat ganda.

Ini sebagaimana disampaikan Rasulullah ﷺ dalam salah satu hadisnya, “Sesungguhnya di belakang kalian (nanti) ada hari-hari, di mana bersabar pada waktu tersebut seperti halnya memegang bara api. Orang yang beramal pada waktu tersebut seperti (mendapat) pahala 50 orang, yang beramal seperti amal kalian.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, (mendapatkan) pahala 50 orang dari kami atau dari mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Pahala 50 orang dari kalian.” (HR At-Tirmidzi No. 3058, Ibnu Majah dan Abu Dawud, disahihkan oleh Syekh al-Albani). [MNews/SNA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *