Sinergi Ibu dan Generasi dalam Mewujudkan Perubahan Hakiki 

Sinergi Ibu dan Generasi dalam Mewujudkan Perubahan Hakiki 

Muslimah News, FOKUS — Ibu dan generasi saat ini berada dalam tata dunia yang dibangun di atas paradigma sekuler kapitalisme. Dari sisi ekonomi, manusia menjadi tumbal kebuasan kapitalisme yang menciptakan kesenjangan sosial yang dalam. Dari aspek politik, kebijakan pemerintah yang pro kapitalis menciptakan lingkaran masalah yang menjerumuskan manusia pada kehidupan yang kian terpuruk.

Sungguh fatal, sistem berpikir umat dibekukan secara sistem. Kemiskinan telah merenggut kemampuan manusia untuk berpikir kritis. Mereka menjalani kehidupan dan menganggap realitas yang terjadi sebagai kewajaran. Sedangkan, ada potensi hidup yang seharusnya dilejitkan. Ada kehidupan yang lebih baik yang bisa diperjuangkan.

Ibu dan generasi pada dasarnya berada pada posisi yang sama sebagai korban sistem. Sayang, dominasi nilai-nilai sekuler telah membuat mereka enggan untuk berpikir tentang perubahan. Padahal, ibu dan generasi adalah kedua subjek yang memiliki potensi besar bagi peradaban manusia, baik dari sisi kemampuan berpikir maupun pemberdayaan diri dalam rangka menciptakan arus perubahan hakiki.

Ibu dan Masalah yang Melingkupi

Potret ibu generasi hari ini sungguh menyedihkan. Kerasnya kehidupan telah mendorong mereka untuk keluar dari ranah domestik demi membantu ekonomi keluarga. Atas nama pemberdayaan ekonomi perempuan, para ibu disibukkan dengan pekerjaan di luar rumah. 

Mereka “dipaksa” untuk meninggalkan anak-anak dan keluarga agar dapat memenuhi kebutuhan finansial keluarga.  Jumlah ibu bekerja ini terus bertambah jumlahnya. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025 jumlah partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sekitar 56,7%, dengan 1 dari 10 pekerja adalah tulang punggung keluarga.

Dalam tataran realitas, bekerja berdampak pada kelelahan fisik bagi pekerja perempuan. Sementara itu, rumah kehilangan profil ibu. Di tempat kerja, ibu pekerja menghadapi fakta sosial yang karut marut. Jelas, ekonomi keluarga yang problematik ini sedikit banyak berdampak pada bahtera rumah tangga.

Di sisi lain, jiwa-jiwa yang lelah karena sibuk mencari cuan diberi obat penenang berupa ruang-ruang hiburan. Tempat nongkrong menjamur di mana-mana. Mata dimanjakan dengan ruang-ruang publik yang ditata sedemikian rupa sebagai tempat melepas penat. Tentu saja, konsumerisme adalah bagian yang tidak terpisahkan bagi perempuan modern.

Platform digital pun hadir menawarkan berbagai produk yang bisa para ibu beli dalam sekali klik. Gaya hidup ala sosialita menjadi tuntutan baru di dunia kerja. Perlahan tapi pasti, bekerja telah membentuk prestise.

Sementara status ibu rumah tangga seolah-olah tidak bernilai. Pada satu titik, banyak perempuan-perempuan yang mengalami kelelahan fisik dan psikis. Cinderela complex pun melanda. Fitrah mereka tercerabut. Lantas, bagaimana generasi yang seharusnya tumbuh di bawah asuhan ibu?

Potret Buram Generasi

Generasi hari ini pun tidak kalah problematik. Mereka hidup dalam asuhan ruang digital yang sangat rentan. Konten digital telah menjadi template generasi dalam berperilaku, mengadopsi gaya hidup, hingga cara berpikir. Dunia digital yang menyajikan berbagai hiburan benar-benar membius generasi. Mereka hidup dalam asuhan kapitalisme sekuler yang berdampak hingga pada aktivitas mereka di dunia nyata.

Tidak sedikit generasi muda yang terjebak dalam pergaulan bebas. Dengan mudah, mereka terhubung dalam jejaring pertemanan. Dari dunia digitallah kasus perundungan bermula. Demikian pula kekerasan seksual, pergaulan bebas hingga narkoba kerap dimulai dari pertemanan di media sosial.

Usia produktif yang seharusnya dimanfaatkan untuk berpikir kritis dibajak dan dipaksa tunduk pada rezim algoritma. Sadar atau tidak, aktivisme generasi di ruang digital disetir dan dibentuk melalui mekanisme pengontrolan yang mengikuti kuasa pemilik platform.

Bukan hanya potensi berpikir kritis mereka saja yang dibajak. Wajah baru kapitalisme pun hadir melalui perusahaan-perusahaan raksasa digital. Mereka menjadikan generasi sebagai penyelamat ekonomi kapitalisme yang nyaris kolaps.

Kapitalisme menderaskan gaya hidup konsumtif dan mendorong munculnya berbagai aplikasi pinjaman yang menjerat generasi. Gaya hidup konsumtif nyatanya menimbulkan banyak masalah baru. Akibat ketidakmampuan ekonomi personal dalam mengimbangi tuntutan gaya hidup, banyak generasi yang mengalami depresi hingga memilih untuk mengakhiri hidup.        

Kaum ibu dan generasi muda harus menyadari bahwa sistem kehidupan hari ini didesain sesuai paradigma berpikir sekuler kapitalistik. Padahal, keduanya memiliki potensi untuk dilejitkan dalam mewujudkan tatanan dunia baru. Tatanan sistem yang tidak menjebak manusia dalam ruang hidup yang hegemonik dan tunduk pada kepentingan para korporasi, itulah sistem Islam yang mengusung syariat sebagai landasannya.

Sinergi Ibu dan Generasi

Banyak peran yang bisa dilejitkan baik oleh kaum ibu maupun generasi. Sinergitas keduanya terletak pada upaya untuk melakukan perubahan, dalam rangka mewujudkan tata sistem kehidupan baru pengganti kapitalisme.

Secara fitrah, ibu adalah madrasah pertama bagi generasi yang lahir dari rahimnya. Selain berupaya mencetak generasi berkualitas, ibu adalah pengatur rumah tangga yang harus dijaga kemuliaannya. Secara politis, Islam tidak membatasi ruang aktvitas kaum ibu. Bahkan, Islam mewajibkan para ibu hadir melakukan aktivitas amar makruf nahi mungkar di ruang-ruang publik.

Sementara itu, generasi muda dengan segala potensinya memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan. Status mereka sebagai agen perubahan dan tulang punggung peradaban adalah modal utama. Terlebih lagi, kaum muda memiliki kemampuan untuk mengaktivasi gerak di dunia digital dan  memobilisasi suara politik untuk mendorong perubahan sosial. Dengan kata lain, aktivitas digital ibu dan generasi seharusnya mengarah pada perwujudan atmosfer opini Islam kafah serta dalam rangka menciptakan arus tandingan di tengah hegemoni kapitalisme di ruang digital. 

Aktivitas perubahan ini tentu tidak dapat dilakukan secara individual (dakwah fardiyah). Untuk  mewujudkan perubahan hakiki, dibutuhkan sinergi dalam bentuk jemaah kepartaian (hizbiyah). Allah Swt. berfirman, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”  (QS Ali Imran [3]: 110).

Kaum ibu harus menciptakan resistensi terhadap arus gaya hidup kapitalistis. Dibandingkan mengunyah berita hiburan, membuntuti pola hidup para sosialita, dan terjebak dalam konsumerisme, kaum ibu sesungguhnya dapat memberdayakan diri untuk berpikir kritis dan terlibat langsung dalam upaya mewujudkan perubahan hakiki.

Demikian pula bagi generasi. Saatnya memahami bahwa platform digital tidak bersifat netral. Ada nilai dan pemikiran yang dijajakan untuk membentuk pola pikir generasi sesuai keinginan sistem sekuler. Generasi muda dan kaum ibu harus bangkit untuk menciptakan arus baru, sebagai realisasi atas amanah yang Allah berikan kepada kaum muslim.

Untuk menderaskan arus perubahan di tengah masyarakat, tentu dibutuhkan amunisi berupa tsaqafah Islam dan menggencarkan pergerakan di dunia nyata karena perubahan pemikiran yang menggerakan dan ideologis membutuhkan tatsqif (pembinaan) secara terstruktur dan talaqqiyan fikriyan sebagaimana metode yang Rasulullah saw. lakukan dalam membina tsaqafah Islam kepada para sahabat.

Refleksi Sejarah

Rentang sejarah Islam menghadirkan banyak kisah perjuangan yang merefleksikan sinergitas ibu dan generasi. Kisah Muhammad al-Fatih, tidak lepas dari didikan seorang ibu tangguh. Ibu Muhammad al-Fatih adalah seorang muslimah yang salihah dan luar biasa. Beliau seorang ibu yang sangat fokus dalam mendidik anaknya untuk menjadi sosok yang besar.

Sejak kecil, ia sudah mempersiapkan Muhammad al-Fatih untuk mewujudkan takdir besar yang akan ia raih. Setiap kali setelah salat subuh, sang ibu mengajak Muhammad al-Fatih kecil untuk melihat dari kejauhan benteng Konstantinopel yang megah. Dengan penuh keyakinan, sang ibu berkata, “Namamu adalah nama Nabi kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang pernah bersabda bahwa benteng ini pasti akan ditaklukkan, dan engkaulah yang akan menaklukannya.”

Spirit yang ditanamkan ibu Muhammad al-Fatih adalah spirit pembebasan. Hari ini, kaum ibu berperan dalam mendampingi generasi dan menanamkan cita-cita besar untuk menjadi the next generasi Al-Fatih, menjadi Sang Pembebas.

Kisah masyhur lainnya adalah ibu Khalifah Harun ar-Rasyid, Khaizuran. Beliau adalah perempuan yang sangat mencintai ilmu. Melalui didikannya, Harun ar-Rasyid tumbuh menjadi pribadi yang saleh hingga menjadi salah satu khalifah yang berhasil membangun peradaban Islam. Pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid inilah Khilafah Abbasiyah mengalami masa keemasan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus mercusuar peradaban di pentas dunia.

Inilah sinergitas lintas generasi yang mampu mewujudkan satu peradaban gemilang. Sudah selayaknya, upaya untuk mewujudkan Islam sebagai sistem kehidupan menjadi arus utama yang diusung kaum Ibu dan generasi Islam. Wallahualam bissawab. [MNews/JM-NA]

#DuaGenerasiSatuAmanah
#GenerasiPeloporPerubahan
#GenerasiPenerusRisalahIslam

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *