Gangguan Mental Remaja Meningkat, Perundungan Makin Berat

Gangguan Mental Remaja Meningkat, Perundungan Makin Berat

Muslimah News, FOKUS — Fenomena gangguan mental di kalangan remaja kian memprihatinkan. Survei Indonesia National Mental Health 2024 mencatat 39,4% remaja mengalami masalah mental, dan angkanya terus naik 20–30% setiap tahun. Tekanan media sosial, budaya FOMO (fear of missing out, rasa takut tertinggal tren dan pergaulan), persaingan akademik, hingga impitan ekonomi menjadi pemicu serius.

Pada saat yang sama, kasus perundungan juga kian mengerikan. Baru-baru ini, seorang siswa SMA di Pekanbaru menjadi korban hingga patah tulang hidungnya. Di Bekasi, seorang siswa SMKN 1 Cikarang Barat bahkan dipukuli kakak kelasnya sampai rahangnya patah. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa perundungan bukan lagi sekadar ejekan, melainkan sudah membahayakan fisik dan nyawa peserta didik. Jika kondisi ini dibiarkan, sekolah tidak lagi menjadi ruang aman pembentukan generasi, melainkan medan yang merusak fisik dan mental mereka.

Salah Siapa?

Lonjakan angka gangguan mental dan maraknya perundungan tidak bisa dilepaskan dari dominasi sistem pendidikan sekuler. Alih-alih membentuk pribadi yang beriman dan berakhlak, sistem sekuler justru melahirkan generasi materialistis, emosional, rapuh secara mental, dan mengejar popularitas semu.

Media sosial turut memperburuk keadaan. Bukannya produktif, platform digital justru sering menormalisasi kekerasan, perundungan, dan gaya hidup hedonis. Akses tanpa batas membuat remaja makin rentan terseret arus negatif.

Kelemahan pengasuhan keluarga dan sekolah juga menjadi faktor besar. Minimnya pendidikan berbasis iman dan syariat membuat anak tidak memiliki ketahanan menghadapi tekanan sosial, akademik, maupun ekonomi. Hilangnya keteladanan orang tua dan pemimpin makin memperparah keadaan. Anak-anak meniru perilaku buruk, termasuk kekerasan yang mereka saksikan di rumah atau di panggung kekuasaan.

Masalah kian pelik karena sistem sekuler tidak memberi payung hukum yang adil. Banyak pelaku perundungan lolos dari jeratan hukum dengan alasan masih di bawah umur. Akibatnya, korban tidak terlindungi, sementara pelaku tidak jera.

Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan lingkungan berbahaya, yakni mental remaja terguncang, emosi labil, dan perilaku agresif atau mudah meledak. Pada dasarnya, krisis mental dan perundungan bukanlah persoalan individu semata, melainkan buah dari kelalaian sistemis.

Lebih dari itu, negara gagal menjalankan fungsi utamanya. Alih-alih serius mengurus rakyat, negara justru membiarkan sistem pendidikan sekuler bertahan, media digital tanpa filter, serta fasilitas kesehatan mental yang minim. Realitas demikian memang keniscayaan dalam negara berparadigma sekuler kapitalistik.

Akibatnya, remaja menjadi korban sekaligus pelaku dalam lingkaran krisis yang kian mengkhawatirkan. Selama sistem sekuler kapitalisme tetap bercokol, krisis ini tidak akan pernah terselesaikan. Oleh karena itu, diperlukan solusi hakiki yang hanya lahir dari penerapan Islam secara menyeluruh.

Solusi Tuntas

Islam menawarkan solusi komprehensif atas problem kesehatan mental generasi. Solusi itu berawal dari pembentukan individu bertakwa. Melalui sistem pendidikan Islam, lahirlah pribadi yang senantiasa muraqabatullah, yakni hanya takut kepada Allah, bukan pada tekanan lingkungan atau opini publik. Dengan iman yang kuat, mereka terbiasa menghadapi ujian hidup dengan sabar, salat, doa, dan tawakal. Keyakinan pada qada dan kadar (qadar) yang menenangkan jiwa, menjauhkan mereka dari stres dan depresi.

Keluarga juga berperan sebagai madrasah pertama. Orang tua mendidik sejak dini dengan kecintaan pada Al-Qur’an dan hadis, membiasakan ibadah, serta menanamkan pola pikir dan sikap islami. Sementara masyarakat diarahkan untuk peduli, saling menasihati, dan konsisten menegakkan amar makruf nahi mungkar. Suasana sosial yang bersih dan penuh empati melindungi generasi dari perundungan, pornografi, pergaulan bebas, dan budaya hedonis.

Pada level puncak, negara hadir sebagai raa’in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung). Khilafah adalah support system terbaik bagi kesehatan mental anak dan remaja. Negara menerapkan pendidikan berbasis akidah, sekaligus menutup masuknya pemikiran asing seperti sekularisme, materialisme, dan hedonisme. Negara juga mengawasi ketat media massa dan media sosial, memastikan hanya konten sehat yang beredar, sembari menutup akses pada konten perusak generasi.

Selain itu, dalam hukum Islam, anak yang sudah balig dapat dikenai sanksi atas perbuatannya. Sedangkan, jika belum balig, orang tuanyalah yang dikenai sanksi setelah terbukti lalai dalam mendidik. Dengan begitu, semua pihak terdorong bertanggung jawab dan pelanggaran tidak dibiarkan merusak generasi.

Khilafah juga menjamin lingkungan kondusif agar remaja terdorong berkarya optimal dalam kebaikan. Sistem ekonomi Islam menjamin kebutuhan pokok rakyat, sehingga mereka terbebas dari tekanan kemiskinan. Sistem sosial menata pergaulan laki-laki dan perempuan agar bersih dari maksiat, disertai sanksi tegas bagi pelanggaran. Sistem kesehatan menyediakan fasilitas rehabilitasi medis maupun nonmedis untuk pencegahan dan pemulihan gangguan mental. Sistem hukum mencegah kejahatan sekaligus menjerakan pelaku.

Sejarah membuktikan, dari rahim peradaban Islam lahir generasi berkualitas. Imam Syafii yang menghafal Al-Muwaththa’ sejak usia belia, Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun, atau Ibnu Sina yang menulis Al-Qanun fi al-Tibb di usia muda. Semua itu lahir dari lingkungan kondusif yang hanya mungkin diwujudkan dalam naungan Islam.

Rasulullah saw. menegaskan fungsi vital pemimpin dalam sabdanya, “Sesungguhnya imam (khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung.” (HR Bukhari dan Muslim). Imam An-Nawawi menjelaskan, khalifah bagaikan perisai karena melindungi kaum muslim dari musuh, menjaga agama, dan mencegah kezaliman di antara manusia.

Dengan konstruksi menyeluruh ini, Islam benar-benar mencabut problem kesehatan mental dari akarnya. Individu terbina, keluarga dan masyarakat terjaga, serta ada negara yang hadir melindungi. Hanya dengan penerapan Islam secara total, generasi muda akan tumbuh sehat mentalnya, tangguh menghadapi ujian hidup, dan produktif melahirkan karya terbaik bagi umat. Wallahualam bissawab. [MNews/SK-NA]

Share

4 thoughts on “Gangguan Mental Remaja Meningkat, Perundungan Makin Berat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *