Muslimah News, NAFSIYAH — Imam Ibnul Qayyim menyebutkan tiga alasan mengapa kita harus meninggalkan dosa. Pertama, setiap dosa yang dilarang Allah pasti di dalamnya ada keburukan. Akhir setiap keburukan dan kemaksiatan pasti bermuara pada kebinasaan.
Kedua, dosa itu menghilangkan kenikmatan dalam ibadah. Orang yang biasa menikmati yang haram, Allah cabut nikmat yang halal padanya karena semua dosa mencabut kenikmatan yang halal.
Ketiga, setiap orang yang meninggalkan dosa, Allah kabulkan segala doanya.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan, “Ada tiga orang yang sedang berjalan kaki. Mereka lantas kehujanan, sehingga berteduh di dalam gua yang terdapat pada sebuah gunung. Tiba-tiba, sebuah batu besar meluncur dari atas dan jatuh tepat di mulut gua tersebut. Mereka pun terkurung di dalamnya.”
Salah seorang dari mereka kemudian menyampaikan pendapatnya kepada yang lain, ’Ingatlah amal-amal baik yang pernah kalian perbuat untuk Allah. Kemudian, berdoalah kepada Allah dengannya (menyebutkan amalan itu). Mudah-mudahan, Allah memberikan kelonggaran dari (musibah) kalian ini.’
Salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, dahulu aku memiliki orang tua yang sudah renta, seorang istri, dan anak-anak yang aku rawat. Ketika sore hari, aku memerah susu. Aku lalu memberikan minum (dengan susu itu) kepada orang tuaku dulu, baru kemudian anak-anakku.
Suatu ketika, aku bepergian jauh untuk mencari makan bagi hewan ternak peliharaan. Aku baru pulang pada sore hari. Aku dapati dua orang tuaku sudah tidur. Aku lantas memerah susu seperi biasa, kemudian kubawa susu tersebut. Aku berdiri di dekat mereka karena tidak ingin mengejutkan mereka (sehingga mereka terbangun). Aku juga tidak ingin memberikan susu itu kepada anak-anakku sebelum mereka menikmatinya.
Sementara itu, anak-anakku merengek di kedua kakiku. Demikianlah aku dan anak-anakku tetap dalam keadaan seperti itu hingga waktu subuh tiba. Jika Engkau mengetahui aku telah melakukan amal tersebut hanya demi menemukan wajah-Mu, maka bukalah (mulut gua itu) agar kami dapat keluar dan melihat langit (bebas).’
Allah kemudian membukakan (batu penghalang mulut gua itu) sedikit, sehingga para pria itu dapat melihat langit dari celahnya. Berikutnya yang lain ikut berdoa, ‘Ya Allah, dahulu aku mempunyai seorang sepupu perempuan yang sangat kucintai, (rasa cinta) seperti halnya kaum laki-laki kepada perempuan. Aku ingin meminta (berhubungan) dengannya, tetapi dia menolak permintaanku hingga aku dapat memberinya seratus dinar.
Aku pun bekerja keras untuk mengumpulkan uang seratus dinar. Setelah itu, aku kembali kepadanya dengan membawa uang tersebut. Saat aku sudah di antara kedua kakinya, dia berkata, ‘Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah engkau membuka cincin (melakukan hubungan seksual) kecuali dengan haknya.’
Akhirnya, aku beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui aku telah melakukan amalan tersebut hanya demi menemukan wajah-Mu, maka bukalah (mulut gua itu) untuk kami.’ Allah kemudian membukankan sedikit (batu penghalang mulut gua).
Terakhir yang lainya berkata, ‘Ya Allah, dahulu aku pernah mempekerjakan seseorang dengan upah satu firaq beras. Setelah selesai, dia berkata, ‘Berikan hakku padaku.’ Aku lantas menawarkan upah firaqnya, tetapi dia tidak menghendakinya. Aku kemudian menanamnya, sehingga (dari) hasilnya aku dapat membeli sapi beserta penggembalanya.
Lalu, dia datang kepadaku dan berkata, ‘Takutlah kepada Allah dan jangan kamu berbuat zalim kepadaku.’ Aku berkata, ‘Pergilah kepada sapi-sapi itu bersama penggembalanya, silakan ambil seluruhnya.’ Dia berkata, ‘Takutlah kepada Allah, jangan kamu menjadikanku olok-olok.’
Aku katakan, ‘Aku tidak sedang memperolokmu, silakan kamu ambil sapi-sapi itu beserta dengan penggembalanya.‘ Dia pun mau mengambil semuanya dan pergi. Jika Engkau mengetahui aku telah melakukan amalan tersebut hanya demi menemukan wajah-Mu, maka bukalah (mulut gua itu) untuk kami.’ Allah kemudian membukakan sisanya (batu penghalang mulut gua).”
Dari kisah di atas, kita mendapat pelajaran bahwa mereka melakukan tawasul dengan menyebut amalan-amalan saleh mereka; berbakti kepada orang tua, menghindari zina, dan menjaga amanah harta orang yang menjadi pegawainya. Inilah perkara yang disebutkan sebelumnya, meninggalkan dosa menjadikan doa segera dikabulkan Allah Swt..
Kewajiban muslim atas dosa. Pertama, mempelajari perbuatan apa saja yang membawa seseorang pada dosa. Kedua, membenci segala dosa. Ketiga, komitmen meninggalkan dosa karena meninggalkan dosa, harga mati bagi orang yang beriman.
Salah satu cara untuk mempelajari, membenci, dan berkomitmen untuk meninggalkan dosa ialah dengan mengkaji Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Kita tidak mau kaum muslimin dirangkul oleh sekularisme dan liberalisme yang menghasilkan kerusakan dan kemaksiatan. Kita mengharapkan kaum muslimin dirangkul oleh Islam, hidup dalam naungan Islam. Berdoalah kepada Allah agar diampuni atas segala dosa yang dilakukan.
Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS az-Zumar: 53-54)
Wallahualam. [MNews/Rndy]

