Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengungkapkan, bentuk kecintaan kepada negeri ini adalah dengan menerapkan syariat Islam.
“Sederhananya, cinta itu kalau kita ingin sesuatu yang kita cintai itu menjadi baik, tidak ingin ia menjadi buruk. Sebaliknya, kalau kita bilang cinta, tapi kita rela yang kita cintai itu menjadi buruk dan tidak mau menjadi baik, sebenarnya itu tidak cinta, meskipun berbusa-busa mengatakan cinta,” jelasnya dalam Focus to the Point: “Perjuangkan Syariah Islam, Cinta Indonesia?” pada Jumat (6-9-2024) di kanal UIY Official.
Apalagi, nilainya, negeri ini menghadapi banyak sekali masalah. “Bagaimana mengatasinya? Orang yang betul-betul cinta kepada negeri ini pasti akan berpikir keras mengatasi persoalan ini sehingga bisa terselesaikan dengan tuntas,” ucapnya.
Sebagai seorang muslim, lanjutnya, tentu melihat bahwa akar dari masalah berbagai persoalan yang dihadapi negeri ini adalah akibat tidak terlaksananya ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt..
“Dengan kata lain, ini negeri tidak diatur dengan dengan syariat Allah. Padahal, dalam keyakinan seorang muslim, Allah Swt. itu Zat yang menciptakan alam semesta, lalu Dia menurunkan aturan. Aturan itu ketika diterapkan akan membawa kepada kebaikan kepada diri kita, keluarga, terlebih-lebih pada bangsa dan negara ini. Itu keyakinan,” tegasnya.
Ia menerangkan, tidak mungkin Allah Swt. menurunkan aturan yang justru menimbulkan keburukan. “Nah, dengan keyakinan ini, kemudian kita melakukan usaha untuk menjelaskan aturan-aturan itu di dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi oleh negeri ini,” urainya.
Ibarat dokter punya pasien, sambungnya, maka dokter yang betul-betul cinta kepada pasiennya ingin pasien itu sembuh sehingga mengatakan agar melakukan sesuatu atau jangan melakukan sesuatu dengan menggunakan ilmu.
Begitu juga, imbuhnya, saat mengkaji Islam, tampak yang dipakai selama ini sesuatu yang memang secara rasional sudah banyak dibuktikan akan menimbulkan masalah.
“Misalnya, sistem keuangan ribawi. Sudah banyak sekali riset yang menunjukkan bahwa riba itu sumber labilitas keuangan sebuah negara, bahkan dunia,” ucapnya.
Kemudian ia mengutip Dr. Abdul Muhsin Sulaiman dalam bukunya “‘Ilajul Musykilah al-Iqtishadiyah bil Islam (Mengatasi Persoalan Ekonomi dengan Islam)” yang menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi dalam sebuah negara yang menggunakan sistem ribawi itu bersifat siklik, yakni menuju puncak pertumbuhan, lalu setelah sampai puncak, jatuh lagi.
“Nah, siklusnya berapa? Di dalam buku itu [disebutkan] tergantung berbagai faktor yang lain. Kalau di negara-negara maju, seperti Eropa dan Amerika disebutkan kira-kira tiap 25 tahun. Asia Timur tiap 25 tahun, tapi kalau Asia Tenggara kayak Indonesia ini hanya 5 sampai 7 tahun. Ternyata terbukti, pada riset yang dilakukan oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam, dalam seratus tahun terakhir Indonesia mengalami lebih dari 20 krisis,” bebernya.
Oleh karenanya, ia mempertanyakan, bagaimana bisa dikatakan bahwa usaha atau perjuangan untuk menegakkan syariat disebut tidak cinta?
“Justru ini bentuk cinta yang sangat nyata. Bahkan, kita bisa balik mengatakan bahwa mereka yang mempertahankan kapitalisme sekularisme yang harus dikatakan sebagai tidak cinta kepada negeri ini, yang akan menghancurkan negeri ini,” cetusnya.
Ia mengemukakan, sebagaimana Nabi saw. yang lahir di Makkah dan sangat cinta kepada Makkah, tetapi begitu Allah Swt. perintahkan Nabi saw. tinggalkan Makkah, maka Nabi saw. tinggalkan.
Sampai-sampai, lanjutnya, Nabi saw. mengatakan sangat cinta kepada Makkah, tetapi karena Allah yang memerintahkan, maka Nabi saw. tinggalkan, meskipun pada akhirnya kembali lagi.
“Jadi, cinta di situ adalah cinta yang bersambung dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Swt., bukan cinta yang chauvinistic atau cinta membabi buta,” ucapnya.
Ia mencontohkan pada slogan right or wrong is my country.”Enggak begitu. Right ya right, wrong ya wrong. Kalau salah, harus diperbaiki. Kalau benar, harus dipertahankan,” jelasnya.
Mengubah Mindset
Menurut UIY, mindset ini harus diubah untuk membuka semua peluang, khususnya dalam membaca problem, lalu solusi apa yang harus diambil, terutama saat bicara tentang peran Islam.
“Bahkan, ini aneh. Negeri mayoritas muslim, tapi semangat penolakan terhadap Islam begitu kuat. Ketika ada hukum-hukum yang “bau-bau” Belanda tidak ditolak, tapi ketika ada hukum-hukum yang “bau-bau” Islam, kenapa ditolak? Itu berarti kerusakan mindset luar biasa yang kita bisa katakan [bahwa] sebenarnya tidak cinta,” ungkapnya.
Buktinya, ia mengingatkan, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, mereka yang mengatakan sangat cinta kepada negeri ini, akhirnya dibuktikan korupsi dan melakukan nawadosa.
“Jadi, siapa sebenarnya yang cinta? Mereka yang begitu mempertahankan sekularisme atau kita yang memperjuangkan tegaknya syariat Islam di negeri ini?” tanyanya lugas. [MNews/RA]
